CIREBON, AlexaNews.ID – Angkutan Kota (angkot) yang dulu menjadi tulang punggung mobilitas warga Cirebon kini menghadapi kenyataan pahit. Moda transportasi yang pernah merajai jalanan Kota Udang itu perlahan kehilangan penumpang, tergerus perubahan zaman dan pesatnya layanan transportasi berbasis aplikasi.

Pantauan di sejumlah trayek menunjukkan, banyak angkot masih beroperasi dengan kondisi yang nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu. Interior klasik tetap dipertahankan, mulai dari bangku panjang saling berhadapan hingga pelapis jok berbahan kulit sintetis yang mulai retak dan mengelupas dimakan usia.

Ciri khas lain angkot Cirebon juga masih bertahan, seperti pemasangan speaker berukuran besar di bagian belakang kendaraan. Dentuman musik kerap menemani perjalanan, seolah menjadi hiburan tersisa di tengah perjalanan yang kini terasa lengang.

Namun, suasana di dalam angkot tak lagi seramai dulu. Bangku-bangku penumpang sering kosong, bahkan tak jarang sopir hanya mengangkut satu atau dua orang dalam satu kali perjalanan. Pemandangan ini kontras dengan masa lalu ketika penumpang harus berebut naik, terutama pada jam sibuk.

Perubahan pola transportasi masyarakat menjadi faktor utama. Kehadiran ojek dan taksi online menawarkan kemudahan jemput langsung dari rumah, tanpa harus menunggu di pinggir jalan atau berjalan menuju jalur trayek angkot.

“Sekarang tinggal sisa-sisa kejayaan. Dulu penumpang yang nunggu angkot, sekarang malah sopir yang nunggu penumpang,” kata Heri (54), warga Cirebon yang masih sesekali menggunakan jasa angkot.

Meski kian terpinggirkan, angkot Cirebon tetap memiliki peran tersendiri. Kendaraan ini melintasi jalur-jalur lama yang sarat sejarah kota, sekaligus menjadi transportasi penting bagi pedagang kecil yang membawa barang dari pasar tradisional seperti Pasar Jagasatru dan Pasar Pagi.

Lebih dari sekadar alat transportasi, angkot juga menjadi ruang sosial yang khas. Penumpang duduk berhadapan, saling menyapa, dan berbincang ringan—interaksi sederhana yang kini jarang ditemui di kendaraan pribadi maupun transportasi online.

Hal serupa diungkapkan Asmawan (50), sopir angkot yang telah puluhan tahun mengais rezeki di jalanan Cirebon. Ia mengakui perubahan terasa sangat drastis.
“Sekarang bukan penumpang yang nunggu, tapi kami yang nunggu penumpang. Apalagi sejak transportasi online, pelajar juga lebih memilih naik motor atau mobil online,” ujarnya.

Di tengah perubahan zaman, angkot Cirebon masih bertahan dengan segala keterbatasannya. Meski tak lagi menjadi primadona, kendaraan ini tetap menjadi saksi hidup perjalanan kota dan denyut ekonomi masyarakat kecil yang belum sepenuhnya tergantikan. [Kirno]

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.