CIREBON, AlexaNews.ID – Nuansa religius dan adat istiadat menyatu di Bangsal Pringgandani, Keraton Kasepuhan Cirebon, Jumat (16/1). Keluarga besar keraton, para sesepuh, serta masyarakat menghadiri peringatan Bulan Rajab yang dirangkai dengan perayaan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam suasana penuh khidmat.

Tradisi Rajaban kembali digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa agung perjalanan spiritual Rasulullah SAW sekaligus menjaga warisan budaya Islam khas Cirebon. Acara ini menjadi momentum penting yang mempertemukan nilai keagamaan dengan kearifan lokal yang telah dijaga turun-temurun oleh Keraton Kasepuhan.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat, menyampaikan bahwa Isra Mi’raj merupakan tonggak besar dalam sejarah Islam, khususnya dengan diturunkannya perintah salat lima waktu sebagai kewajiban utama umat Muslim.

“Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW yang membawa amanah salat sebagai penghubung antara manusia dengan Allah SWT,” ujar Pangeran Raja Goemelar dalam sambutannya.

Ia menambahkan, Rajaban bukan hanya agenda seremonial, tetapi bagian dari identitas religius Keraton Cirebon. Tradisi ini menjadi simbol keharmonisan antara adat keraton dan ajaran Islam, sekaligus sarana mempererat hubungan keraton dengan masyarakat.

“Rajaban adalah warisan budaya yang menyatukan nilai spiritual dan sosial. Keraton ingin terus menjaga tradisi ini agar tetap hidup dan memberi manfaat bagi umat,” jelasnya.

Suasana semakin syahdu saat Penghulu Masjid Agung Sang Cipta Rasa, KH Jumhur, menyampaikan tausiah. Ia menekankan bahwa inti dari peristiwa Isra Mi’raj adalah perintah salat yang harus dijaga kualitas, keikhlasan, dan konsistensinya.

“Salat adalah tiang agama dan komunikasi langsung hamba dengan Sang Khalik. Bulan Rajab menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki diri dan memperkuat iman sebagai persiapan menyambut Ramadan,” tutur KH Jumhur.

Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama demi keselamatan, keberkahan, dan persatuan umat. Salah satu bagian yang paling dinanti dalam tradisi Rajaban Keraton Kasepuhan adalah penyajian Nasi Begana, kuliner khas penuh makna simbolik.

Menurut Pangeran Raja Goemelar, Nasi Begana melambangkan rasa syukur dan sedekah kepada Allah SWT. Penyajiannya secara bersama-sama mencerminkan nilai kebersamaan, penghambaan, serta kepedulian sosial.

“Ini bukan sekadar makan bersama, tetapi simbol syukur dan persaudaraan,” ungkapnya. [Kirno]

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.