KARAWANG, AlexaNews.ID – Musim hujan berkepanjangan kembali membawa dampak serius bagi wilayah Kabupaten Karawang. Banjir dilaporkan melanda sejumlah daerah, termasuk kawasan pesisir Karawang Utara, dan mengancam keberlangsungan Program Ketahanan Pangan (KeTaPang) yang dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Curah hujan tinggi yang terjadi hampir setiap hari menyebabkan debit air meningkat drastis dan meluap ke berbagai area persawahan serta permukiman warga. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat lumpuh, termasuk akses jalan dan lahan usaha yang terendam banjir.

Dampak paling signifikan dirasakan oleh petani palawija dan nelayan. Selain kehilangan aktivitas ekonomi, lahan persawahan di ujung pesisir Karawang Utara juga terancam mengalami gagal panen. Ketinggian air banjir dilaporkan telah melampaui tinggi tanaman padi, sehingga berpotensi merusak seluruh tanaman yang sedang memasuki masa pertumbuhan.

Salah satu pengelola BUMDes yang enggan disebutkan identitasnya membenarkan bahwa lahan persawahan yang terendam banjir tersebut merupakan bagian dari Program Ketahanan Pangan.

“Penanaman padi ini merupakan hasil dari Program Ketahanan Pangan atau KeTaPang yang diluncurkan melalui BUMDes dengan menggunakan anggaran tahun 2025 tahap II,” ungkapnya saat ditemui awak media.

Ia menyebutkan bahwa banjir yang terjadi kali ini diduga menggerus sebagian lahan sawah, sehingga keberadaan tanaman padi KeTaPang di wilayah tersebut terancam hilang atau rusak total.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah desa maupun instansi terkait mengenai langkah penanganan pascabanjir, termasuk evaluasi terhadap keberlanjutan Program Ketahanan Pangan di wilayah pesisir Karawang Utara.

Masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah agar kerugian petani dapat diminimalisir serta program ketahanan pangan yang telah digulirkan tidak berakhir sia-sia akibat bencana banjir yang terus berulang. [Asbel]

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.