SERGAI, AlexaNews.ID – Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular yang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto, percepatan penanggulangan TBC ditetapkan sebagai bagian dari program prioritas nasional di sektor kesehatan.

Pemerintah menegaskan bahwa TBC bukan penyakit mematikan jika ditangani dengan benar. Penyakit ini dapat disembuhkan dan seluruh rangkaian pengobatannya tersedia secara gratis bagi masyarakat.

Di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Dinas Kesehatan terus menggencarkan upaya screening dan edukasi kepada masyarakat melalui seluruh puskesmas. Warga diminta segera memeriksakan diri jika mengalami batuk berdahak selama lebih dari dua minggu.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Sergai, dr. Yohnly Boelian Dachban, M.Kes, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr. Nurlaili Hafni, M.K.M, saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Sergai, Selasa (3/2/2026).

Menurut dr. Nurlaili, meski tergolong penyakit lama, TBC hingga kini masih ditemukan di masyarakat. Namun, dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat serta teratur, TBC dapat disembuhkan secara total.

“Kita ditargetkan melakukan eliminasi TBC pada tahun 2030. Saat ini Indonesia masih berada di peringkat kedua jumlah kasus TBC tertinggi di dunia setelah India. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah yang sangat penting,” jelasnya.

Sebagai upaya konkret, Dinas Kesehatan Sergai telah menginstruksikan seluruh kepala puskesmas dan pemegang program TBC di setiap kecamatan untuk aktif melakukan pencarian kasus. Screening difokuskan pada warga yang mengalami gejala batuk berkepanjangan.

Adapun gejala TBC yang perlu diwaspadai meliputi batuk lebih dari dua minggu, demam, sesak napas, penurunan berat badan, serta keringat malam tanpa aktivitas berat. Masyarakat dengan keluhan tersebut diimbau segera datang ke puskesmas terdekat.

Pemeriksaan dilakukan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) yang hasilnya dapat diketahui dalam hitungan jam. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan positif TBC, pasien akan langsung mendapatkan penanganan medis dan terapi obat.

“Pengobatan TBC sepenuhnya gratis. Obat disalurkan dari pemerintah pusat melalui provinsi hingga ke kabupaten, lalu didistribusikan ke puskesmas. Pasien menjalani pengobatan minimal enam bulan tanpa dipungut biaya,” terang dr. Nurlaili.

Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat. Pasien yang tidak rutin menjalani terapi berisiko mengalami TBC resisten obat atau Multi Drug Resistant TBC (MDR-TB), yang memerlukan pengobatan lebih lama hingga satu tahun.

Untuk memastikan kepatuhan tersebut, setiap pasien TBC akan didampingi dalam pemantauan minum obat, baik oleh anggota keluarga maupun kader kesehatan desa.

Selain screening di masyarakat umum, Dinkes Sergai juga melakukan pemeriksaan di lingkungan pesantren. Program tersebut akan kembali dilanjutkan tahun ini di sejumlah pesantren yang belum terjangkau. Edukasi juga diperluas ke sekolah-sekolah melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan agar siswa dan guru memahami pencegahan TBC sejak dini.

Sosialisasi kepada masyarakat turut dilakukan melalui siaran radio Sergai FM, termasuk program talkshow kesehatan yang membahas gejala, pencegahan, serta pengobatan TBC. Masyarakat juga diingatkan agar tidak memberikan stigma negatif kepada penderita TBC.

“Intinya masyarakat jangan takut berobat. TBC bisa disembuhkan dan obatnya gratis. Yang terpenting adalah cepat memeriksakan diri dan patuh minum obat,” tegas dr. Nurlaili. (Sutrisno)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.