CIREBON, AlexaNews.ID – Hujan deras yang mengguyur Kota Cirebon menyebabkan sejumlah ruas jalan protokol terendam banjir pada Jumat malam. Salah satu titik terparah terjadi di Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo, di mana debit air yang tinggi membuat arus lalu lintas nyaris lumpuh total.

Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Air menggenangi badan jalan hingga menyebabkan banyak kendaraan mogok dan antrean panjang dari dua arah.

Puluhan pengendara sepeda motor, mulai dari pengemudi ojek online hingga pelajar, terpaksa turun ke genangan air untuk mendorong kendaraan mereka yang mati mesin. Sementara itu, kendaraan roda empat terlihat saling berebut jalur demi mencari bagian jalan yang lebih dangkal.

Situasi semakin diperparah dengan mogoknya dua unit angkutan kota (angkot) tepat di tengah ruas Jalan Dr. Cipto. Posisi angkot yang berhenti di badan jalan membuat akses kendaraan lain semakin terhambat dan memicu kemacetan panjang.

Banjir yang merendam jalan utama ini kembali memunculkan keluhan warga terkait persoalan klasik banjir di Kota Cirebon. Sejumlah warga menilai banjir bukan semata-mata disebabkan oleh curah hujan tinggi, melainkan akibat persoalan tata ruang yang belum tertangani secara serius.

Irwan Nurdin, salah seorang warga yang menyaksikan langsung kondisi di lokasi, menyebut banjir yang kerap terjadi setiap musim hujan merupakan dampak dari alih fungsi sungai dan pelanggaran tata ruang.

Menurut Irwan, terdapat beberapa faktor utama yang membuat air sulit surut ketika hujan deras mengguyur kota.

Pertama, banyak ditemukan bangunan permanen yang berdiri tepat di atas aliran sungai. Kondisi tersebut menyebabkan penyempitan alur sungai (bottleneck) sehingga laju air terhambat.

Kedua, ia menduga adanya aliran sungai yang sengaja diputus atau ditutup demi kepentingan pembangunan tertentu. Akibatnya, air tidak memiliki jalur alami untuk mengalir.

Ketiga, daerah resapan air yang seharusnya berfungsi menampung limpahan air hujan kini telah berubah menjadi kawasan permukiman dan bangunan komersial.

“Sekarang sungai malah menyempit, bahkan ada yang diputus. Daerah resapan air berubah jadi bangunan megah. Ini jelas persoalan tata ruang,” ujar Irwan di lokasi kejadian.

Ia menegaskan bahwa secara aturan, sungai tidak boleh ditutup atau dipersempit oleh bangunan apa pun. Namun, realita di lapangan menunjukkan masih banyak bangunan ekonomi berskala besar yang diduga melanggar aturan sempadan sungai.

Warga berharap Pemerintah Kota Cirebon segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola sungai serta menindak tegas bangunan yang melanggar aturan. Langkah tersebut dinilai penting agar banjir tidak terus menjadi ancaman rutin setiap musim penghujan tiba.

Hingga berita ini diturunkan, genangan air masih terlihat di sejumlah titik Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo. Warga dan pengendara diimbau untuk lebih waspada serta mencari jalur alternatif guna menghindari kemacetan dan risiko kendaraan mogok. (Kirno)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.