PANDEGLANG, AlexaNews.ID — Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-80 bukan sekadar perayaan tahunan bagi insan media, melainkan momentum refleksi mendalam untuk kembali meneguhkan jati diri pers sebagai pilar peradaban bangsa. Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan disrupsi digital, pers dituntut tetap berdiri tegak sebagai penjaga nurani publik.

Hal tersebut disampaikan Ketua PGRI Cabang Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Taufik Ahmad, S.Pd., yang memberikan ucapan selamat sekaligus apresiasi kepada seluruh insan pers Indonesia atas dedikasi panjangnya dalam menjaga nilai kebenaran dan keadilan.

“Selamat Hari Pers Nasional ke-80, 9 Februari 2026. Pers bukan sekadar penyampai informasi, tetapi penjaga nilai kebenaran, keadilan, dan kebijaksanaan. Di tangan pers yang berintegritas, bangsa ini belajar berpikir jernih dan bersikap arif,” ujar Taufik Ahmad dalam keterangannya, Sabtu (7/2/2026).

Menurutnya, selama delapan dekade perjalanan pers nasional, media telah menjadi saksi sekaligus pengawal dinamika bangsa. Pers hadir tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga membentuk kesadaran kolektif masyarakat melalui informasi yang mencerahkan.

Taufik menilai, tantangan pers saat ini semakin kompleks. Arus informasi yang begitu cepat kerap diiringi dengan maraknya hoaks, disinformasi, dan narasi dangkal yang berpotensi menyesatkan publik. Dalam situasi tersebut, pers dituntut tidak hanya unggul secara teknis dan intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

“Pers yang baik bukan hanya yang cepat, tetapi yang jujur dan bertanggung jawab. Pers harus mampu menyajikan fakta dengan integritas, sekaligus menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan agar informasi tidak kehilangan makna,” ungkapnya.

Sebagai insan pendidikan, Taufik menekankan bahwa pers dan dunia pendidikan sejatinya memiliki ruh dan tujuan yang sama, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika guru menjalankan peran mendidik di ruang kelas, maka pers menjalankan fungsi edukasi di ruang publik.

“Guru dan pers berada di jalur yang berbeda, tetapi bertemu dalam misi yang sama. Pendidikan membentuk karakter generasi di sekolah, sementara pers membentuk kesadaran masyarakat secara luas. Keduanya adalah fondasi penting dalam membangun peradaban bangsa,” jelasnya.

Ia menambahkan, pers yang sehat akan melahirkan masyarakat yang kritis namun tetap beretika. Sebaliknya, pers yang abai terhadap nilai kebenaran dapat memperkeruh suasana sosial dan memperdalam polarisasi di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, pada usia ke-80 ini, Taufik berharap pers Indonesia semakin kokoh dalam menjaga independensi, menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, serta tidak terjebak pada kepentingan sempit yang dapat menggerus kepercayaan publik.

“Pers harus menjadi penyeimbang yang menenangkan, bukan provokator yang memperuncing perbedaan. Pers ideal adalah lentera yang menerangi, bukan api yang membakar,” tegasnya.

Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk dunia pendidikan dan masyarakat, untuk terus mendukung kemerdekaan pers yang bertanggung jawab. Menurutnya, kebebasan pers merupakan amanah sejarah yang harus dirawat dengan kecerdasan nurani dan tanggung jawab moral.

“Tanpa pers yang merdeka dan berintegritas, demokrasi akan kehilangan arah. Karena itu, menjaga pers berarti menjaga masa depan bangsa,” kata Taufik.

Peringatan Hari Pers Nasional ke-80 tahun ini menjadi pengingat bahwa pers memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas demokrasi dan peradaban. Di tengah perubahan zaman, pers dituntut tetap setia pada nilai-nilai luhur jurnalistik: kebenaran, keadilan, dan keberpihakan pada kepentingan publik.

Dengan semangat tersebut, Taufik berharap insan pers Indonesia terus memperkuat profesionalisme, meningkatkan kualitas karya jurnalistik, serta tetap menjadi suara kebijaksanaan di tengah kebisingan informasi.

“Semoga pers Indonesia terus hadir sebagai cahaya yang menuntun, bukan sekadar suara yang menggema,” pungkasnya. (Endi Rudi)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.