CIREBON, AlexaNews.ID – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Luwungkencana, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, Muhammad Rwza Aziz Gumilar, memastikan bahwa seluruh proses produksi Makanan Bergizi Gratis (MBG) telah dilaksanakan sesuai standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Penegasan tersebut disampaikan untuk menjawab berbagai perhatian masyarakat terkait kualitas, porsi, serta keamanan makanan yang diproduksi di dapur SPPG Luwungkencana.
Muhammad Reza menegaskan bahwa aspek kebersihan, sanitasi, hingga proses pengolahan makanan menjadi prioritas utama dalam operasional dapur.
“Dapur SPPG telah menerapkan standar kebersihan, sanitasi, dan pengolahan makanan sehingga makanan aman dikonsumsi oleh penerima manfaat,” ujar Reza, Kamis (12/2/2026).
Ia menjelaskan, penyusunan menu dilakukan secara terencana dengan pembagian kategori porsi besar dan porsi kecil. Hal yang sama juga diterapkan untuk MBG Posyandu, dengan tetap memperhatikan kebutuhan gizi anak sesuai usia.
“Menu yang disajikan telah disesuaikan dengan pedoman gizi seimbang, mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral guna mendukung tumbuh kembang peserta didik. Ada kategorinya porsi kecil dan porsi besar,” ungkapnya.
Menurutnya, penerapan sistem dapur terpusat di SPPG Luwungkencana dinilai mampu membuat proses produksi dan distribusi makanan lebih terorganisir. Dengan sistem tersebut, penyaluran makanan kepada penerima manfaat dapat dilakukan tepat waktu dan sesuai jumlah yang telah ditetapkan.
Asupan gizi yang cukup dan diberikan secara rutin diharapkan mampu meningkatkan kesehatan anak, konsentrasi belajar, hingga prestasi akademik di sekolah. Selain itu, pengelolaan bahan baku dan produksi secara massal juga dinilai lebih efisien dari sisi anggaran maupun operasional.
Tidak hanya berdampak pada penerima manfaat, keberadaan dapur SPPG Luwungkencana juga memberikan efek ekonomi bagi masyarakat sekitar. Operasional dapur melibatkan tenaga kerja lokal sehingga turut membantu meningkatkan perekonomian warga setempat.
“Dapur tersebut melibatkan tenaga kerja lokal sehingga turut membantu meningkatkan perekonomian warga setempat,” kata Reza.
Dengan sistem yang terpusat, proses pengawasan dan evaluasi kualitas makanan, porsi, serta kandungan gizi menjadi lebih mudah dilakukan oleh pihak terkait. Selain itu, pemanfaatan bahan pangan lokal dalam operasional dapur turut mendukung ketahanan pangan daerah sekaligus memperkuat rantai pasok pangan lokal.
SPPG Luwungkencana memastikan komitmennya untuk terus menjaga standar mutu produksi MBG agar manfaat program benar-benar dirasakan oleh anak-anak dan masyarakat yang menjadi sasaran penerima. (King)










