KARAWANG, AlexaNews.ID – Kondisi jalan rusak di jalur Kutagandok–Junti, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, kembali dikeluhkan warga. Kerusakan yang kian parah dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan, terutama menjelang bulan suci Ramadan hingga arus mudik Idul Fitri 1447 Hijriah.
Lubang-lubang besar dan permukaan jalan yang tidak rata terlihat di sejumlah titik. Saat musim hujan, genangan air kerap menutup lubang sehingga sulit terlihat pengendara. Situasi ini membuat risiko kecelakaan semakin tinggi, khususnya bagi pengendara sepeda motor.
Aspirasi tersebut disampaikan melalui Forum Keluarga Besar Warga Kutawaluya Bersatu. Mereka menilai kerusakan jalan sudah berlangsung cukup lama, namun hingga kini belum ada penanganan menyeluruh dari pemerintah daerah.
Warga menyebut jalur Kutagandok–Junti merupakan akses penting yang menghubungkan beberapa desa di Kecamatan Kutawaluya. Jalan tersebut tidak hanya dilalui masyarakat setempat, tetapi juga warga dari wilayah lain untuk bekerja, berdagang, hingga mengakses fasilitas pendidikan dan kesehatan.
“Jalan ini menjadi urat nadi aktivitas warga. Kalau kondisinya terus dibiarkan rusak, tentu membahayakan dan menghambat ekonomi masyarakat,” ujar salah satu perwakilan forum, Selasa (24/02/2026).
Menurut warga, kerusakan yang terjadi bukan lagi kategori ringan. Di beberapa titik, kondisi jalan sudah masuk rusak berat dengan lubang cukup dalam dan aspal terkelupas. Pada malam hari, minimnya penerangan membuat pengendara semakin waswas saat melintas.
Tokoh pemuda Desa Mulyajaya, Bang Daeng, secara terbuka meminta perhatian Bupati Karawang dan dinas terkait untuk segera turun langsung meninjau lokasi. Ia berharap pemerintah tidak hanya menerima laporan, tetapi melihat langsung kondisi riil di lapangan.
“Kami memohon kepada Bupati Karawang dan stakeholder terkait agar segera mengecek kondisi jalan Kutagandok–Junti yang semakin parah. Ini menyangkut keselamatan banyak orang,” tegasnya.
Bang Daeng menekankan, desakan ini bukan sekadar keluhan, melainkan bentuk kepedulian warga terhadap keselamatan pengguna jalan dan kelancaran mobilitas masyarakat.
Memasuki Ramadan, volume kendaraan diperkirakan meningkat. Selain aktivitas harian, mendekati Idul Fitri biasanya terjadi lonjakan mobilitas warga untuk silaturahmi maupun aktivitas ekonomi. Jika kondisi jalan tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan risiko kecelakaan akan semakin tinggi.
Warga berharap perbaikan bisa dilakukan sebelum arus mudik Lebaran 1447 H. Mereka meminta adanya langkah cepat dan konkret agar jalur tersebut aman dan nyaman dilalui.
“Harapan kami sederhana, sebelum Lebaran jalan ini sudah diperbaiki. Jangan sampai ada korban karena terlambat ditangani,” kata warga lainnya.
Persoalan infrastruktur jalan, menurut warga, bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga berkaitan langsung dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Jalan yang layak akan memperlancar distribusi barang, mempercepat mobilitas tenaga kerja, dan mempermudah akses layanan publik.
Sebaliknya, kerusakan jalan yang berlarut-larut berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas.
Pengamat pembangunan daerah menilai pemerintah daerah perlu memiliki mekanisme respons cepat terhadap laporan kerusakan infrastruktur. Transparansi terkait jadwal perbaikan serta alokasi anggaran juga penting agar masyarakat mengetahui progres penanganan.
Forum Keluarga Besar Warga Kutawaluya Bersatu menegaskan akan terus menyuarakan aspirasi secara konstruktif. Mereka berharap pemerintah membuka ruang komunikasi yang lebih luas sehingga persoalan infrastruktur di wilayah pinggiran tidak terabaikan.
Warga juga menginginkan perbaikan permanen dengan kualitas konstruksi yang baik, bukan sekadar tambal sulam yang cepat rusak.
“Kalau diperbaiki, kami berharap kualitasnya bagus dan tahan lama. Jangan setiap tahun rusak lagi,” ujar warga.
Kini masyarakat Kutawaluya menanti langkah konkret Pemerintah Kabupaten Karawang. Respons cepat dinilai bukan hanya menjawab keluhan warga, tetapi juga menunjukkan komitmen terhadap pemerataan pembangunan hingga ke wilayah penghubung antar desa. (Ahmad Saleh)










