CIREBON, AlexaNews.ID – Pernah menjadi hiburan paling ditunggu masyarakat pesisir Cirebon, kesenian Genjring Akrobat kini tinggal kenangan. Di era 1960 hingga 1990-an, dentuman rebana berpadu atraksi ekstrem selalu meramaikan setiap hajatan. Namun memasuki 2026, pamornya merosot tajam, nyaris hilang ditelan zaman.

Dulu, Genjring Akrobat dikenal sebagai tontonan utama sebelum televisi dan internet menguasai ruang hiburan masyarakat. Musik genjring yang religius dipadukan dengan atraksi fisik luar biasa, menciptakan pertunjukan yang membuat penonton terpukau dari desa ke desa.

Di tengah meredupnya seni tradisi itu, masih ada satu sosok yang setia menjaga nyalanya. Ia adalah Sanemi (74), warga Desa Mertasinga, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, yang dikenal memiliki kekuatan kaki luar biasa.

Meski telah lanjut usia, Sanemi masih mampu melakukan atraksi yang sulit dipercaya, mengangkat sepeda motor beserta penumpangnya hanya dengan tumpuan kedua kaki. Atraksi itu dahulu menjadi ciri khas Genjring Akrobat yang membuatnya disegani di berbagai daerah.

Perjalanan Sanemi di dunia seni dimulai sejak usia tujuh tahun, sekitar 1958. Tanpa mengenyam bangku sekolah, ia justru menempa fisik setiap hari bersama kelompok seni Kuda Lari hingga menjelma menjadi pemain utama yang dikenal luas.

“Dulu kami tampil terus dari satu tempat ke tempat lain. Bukan cuma di Cirebon atau Indramayu, tapi sampai Bandung, Jakarta, bahkan Bali,” kata Sanemi mengenang masa kejayaan.

Pada masa itu, Genjring Akrobat bukan sekadar hiburan, melainkan simbol keberanian dan ketangguhan. Setiap pertunjukan selalu dipadati warga yang rela menunggu demi melihat aksi berbahaya namun memukau di atas panggung.

Namun kondisi kini jauh berbeda. Sejak memasuki dekade 2020-an, kesenian ini perlahan tersisih. Minat generasi muda menurun karena latihan fisik yang berat. Hajatan lebih memilih organ tunggal atau hiburan modern. Regenerasi pun terputus.

Saat ini Sanemi hanya ditemani keponakannya, Asmuri (36), yang membantu menjaga tradisi tersebut. Tidak ada penerus langsung yang mampu menggantikan kekuatan “kaki baja” milik Sanemi.

Walau tubuhnya tak lagi sekuat dulu, Sanemi tetap bergerak jika ada panggilan tampil. Baginya, atraksi bukan sekadar pekerjaan, tetapi cara menjaga kesehatan.

“Kalau tidak bergerak, badan malah terasa sakit semua,” tuturnya.

Asmuri mengakui kondisi sang bibi kini terbatas. “Sekarang tampilnya jarang, kalau ada pun sebentar karena faktor usia,” katanya.

Kisah Sanemi menjadi potret getir nasib kesenian tradisional. Tanpa perhatian serius, pembinaan, dan kemasan baru, Genjring Akrobat Cirebon berpotensi benar-benar hilang, meninggalkan cerita tentang seorang nenek tangguh yang pernah mengangkat motor di atas panggung demi menjaga warisan budaya. [Kirno]

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.