KARAWANG, AlexaNews.ID – Aktivitas pengerukan tanah merah di Desa Parungmulya, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan Markas Komando (Mako) Brimob Polri, mulai memunculkan dampak serius bagi warga sekitar.
Puluhan rumah di wilayah Dusun Cijengkol dilaporkan mengalami kerusakan akibat longsor yang dipicu oleh aktivitas cut and fill di kawasan tersebut. Kondisi ini membuat warga hidup dalam kekhawatiran, terutama saat hujan turun.
Ketua Karang Taruna Desa Parungmulya, Ma’in, menyebut sedikitnya 27 kepala keluarga (KK) terdampak langsung musibah longsor yang terjadi setelah adanya pengerukan tanah merah di wilayah desa mereka.
Menurutnya, pergerakan tanah akibat aktivitas alat berat membuat struktur tanah menjadi labil sehingga memicu runtuhan ke permukiman warga.
“Sebanyak 27 KK rumah warga rusak akibat longsoran yang dipicu pengerukan tanah merah. Tapi sampai sekarang belum ada perhatian serius dari pemerintah,” kata Ma’in.
Ia menyayangkan sikap pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Karawang yang dinilai belum maksimal merespons keluhan warga terdampak.
“Warga kami menjadi korban longsor akibat aktivitas itu, namun sampai hari ini belum ada perhatian dari desa maupun pemerintah daerah,” ujarnya.
Ma’in berharap aksi ratusan warga Parungmulya yang mengawal sidang di Pengadilan Negeri Karawang menjadi titik awal kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.
“Kami ingin pemerintah lebih peka terhadap musibah di desa kami. Kawasan hutan Ciampel adalah aset dan tanah yang sakral bagi Karawang yang sedang kami jaga bersama,” tuturnya.
Warga Parungmulya berharap adanya evaluasi aktivitas pengerukan lahan, penanganan korban longsor, serta perlindungan lingkungan agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan masyarakat. [Karina]










