SERGAI, AlexaNews.ID — Kondisi cuaca di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, saat ini masih berada dalam batas normal. Berdasarkan data prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Utara, suhu udara di wilayah tersebut berkisar antara 23 hingga 29 derajat Celsius dengan kondisi langit umumnya berawan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serdang Bedagai, Rico Ebtian, S.STP, M.Si, memastikan hingga saat ini belum ada peringatan khusus terkait potensi cuaca ekstrem di wilayah Sergai. Menurutnya, informasi resmi dari BMKG belum menunjukkan adanya ancaman cuaca berbahaya dalam waktu dekat.

“Berdasarkan prakiraan BMKG Sumatera Utara, cuaca di wilayah Serdang Bedagai masih didominasi kondisi berawan dengan suhu antara 23 sampai 29 derajat Celsius. Sampai saat ini belum ada imbauan atau peringatan cuaca ekstrem dari BMKG untuk Sergai,” ujar Rico saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Selasa (10/2/2026).

Meski secara data meteorologi tergolong normal, BPBD Sergai tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Rico menegaskan bahwa perubahan cuaca dapat terjadi sewaktu-waktu, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan dan sektor yang bergantung pada kondisi alam.

“Kami tetap mengimbau masyarakat untuk waspada. Cuaca ekstrem bisa saja muncul secara tiba-tiba, sehingga penting untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG,” katanya.

Di sisi lain, kondisi cuaca panas dalam beberapa hari terakhir dirasakan cukup menyengat oleh sebagian warga. Sejumlah masyarakat mengaku suhu udara pada siang hari terasa lebih terik dari biasanya, meskipun tidak disertai hujan lebat atau angin kencang.

Dampak paling terasa dialami oleh para petani, khususnya petani ubi di sejumlah kecamatan. Cuaca panas berkepanjangan menyebabkan tanah menjadi kering dan keras, sehingga menyulitkan proses panen. Kondisi ini membuat sebagian petani terpaksa menunda panen meski usia tanaman telah memasuki masa siap panen.

Seorang petani ubi di Kecamatan Sei Rampah mengungkapkan bahwa tanah yang terlalu kering membuat proses pencabutan ubi tidak berjalan optimal. Jika panen dipaksakan, hasilnya justru berpotensi merugikan karena banyak ubi yang tertinggal di dalam tanah.

“Sekarang cuacanya panas sekali. Kami petani ubi sebenarnya sudah masuk waktu panen, tapi belum bisa dilakukan. Kalau dipaksakan dicabut, banyak ubi yang tertinggal karena tanahnya keras dan kering. Kami terpaksa menunggu hujan dulu supaya tanahnya lebih lunak,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat petani memilih bersabar demi menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen. Mereka berharap dalam waktu dekat hujan dapat turun agar kelembapan tanah kembali normal dan proses panen bisa dilakukan dengan lebih mudah.

BPBD Sergai menilai situasi ini masih dalam batas yang dapat dikendalikan, namun tetap meminta masyarakat, khususnya para petani dan pekerja lapangan, untuk menjaga kesehatan. Paparan panas berlebih di siang hari dapat berdampak pada kondisi fisik, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup.

Selain itu, BPBD juga mengingatkan warga agar tidak mudah terpancing informasi cuaca yang belum jelas sumbernya. Masyarakat diminta hanya mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan BMKG sebagai lembaga berwenang dalam pemantauan cuaca dan iklim.

“Pantau terus informasi cuaca dari BMKG dan jaga kondisi kesehatan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Jika ada perubahan signifikan, kami akan segera menyampaikan kepada masyarakat,” pungkas Rico. (Sutrisno)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.