KARAWANG, alexanews.id – Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, tengah menghadapi ancaman serius akibat abrasi pantai yang terus menggerus wilayah pesisir desa tersebut. Kondisi paling parah terjadi di Dusun Pisangan dan kawasan Pantai Pisangan yang selama bertahun-tahun dihantam gelombang laut tanpa perlindungan memadai.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Rudi Candia, pemerintah desa terus berjuang mempertahankan wilayahnya sekaligus melindungi warga dari ancaman abrasi yang semakin mengkhawatirkan.
Berada di garis pantai utara Karawang, Desa Cemarajaya sebenarnya memiliki potensi besar di sektor kelautan, tambak, hingga wisata bahari. Namun, potensi tersebut kini terhambat akibat kerusakan lingkungan pesisir yang terus terjadi setiap tahun.
Rudi Candia menegaskan, abrasi telah menjadi persoalan utama yang mengancam keberadaan desa. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, daratan di wilayah pesisir terus terkikis hingga mencapai sekitar 1 sampai 2 meter setiap tahunnya.
Akibat kondisi tersebut, banyak rumah warga roboh, jalan desa putus, fasilitas umum rusak, hingga lahan tambak dan pertanian hilang diterjang ombak laut.
“Air laut sekarang sudah masuk sampai belakang rumah warga. Kalau tidak segera ditangani serius, kami khawatir Desa Cemarajaya benar-benar hilang perlahan,” ujar Rudi Candia.
Meski demikian, pemerintah desa mengaku bersyukur karena Pemerintah Kabupaten Karawang di bawah kepemimpinan Bupati H. Aep Syaepulloh telah memberikan bantuan relokasi rumah bagi warga terdampak abrasi.
Puluhan unit rumah baru telah dibangun untuk warga Dusun Pisangan yang kehilangan tempat tinggal akibat abrasi.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Bupati Karawang H. Aep Syaepulloh. Bantuan rumah relokasi ini sangat berarti bagi warga kami. Ini bukan sekadar bantuan rumah, tetapi penyelamatan nyata bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat abrasi,” kata Rudi Candia.
Menurutnya, bantuan tersebut membuktikan kehadiran pemerintah daerah dalam membantu masyarakat pesisir yang sedang menghadapi bencana lingkungan berkepanjangan.
Namun di balik rasa syukur itu, Rudi Candia juga menyampaikan kritik dan harapan besar kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Ia menilai, relokasi rumah memang menyelamatkan warga, tetapi belum menyelesaikan akar persoalan utama, yakni abrasi yang terus menggerus garis pantai Desa Cemarajaya.
“Relokasi rumah baru menyelamatkan warganya, belum menyelamatkan desanya. Kalau abrasi terus terjadi, nanti rumah baru juga bisa kembali terancam,” tegasnya.
Karena itu, Pemerintah Desa Cemarajaya berharap adanya pembangunan tanggul laut atau penahan ombak permanen di sepanjang bibir pantai desa.
Permintaan tersebut disebut sudah diajukan berkali-kali, namun hingga kini belum terealisasi.
“Kami sangat berharap pemerintah pusat turun tangan. Abrasi ini bukan masalah kecil dan bukan hanya tanggung jawab kabupaten. Kami butuh tanggul laut permanen sepanjang pantai untuk melindungi daratan kami,” katanya.
Rudi Candia bahkan mengundang langsung para pejabat pusat dan kementerian terkait agar datang melihat kondisi nyata di lapangan.
Ia ingin pemerintah melihat langsung bagaimana parahnya abrasi yang terjadi di Dusun Pisangan dan wilayah pesisir lainnya di Desa Cemarajaya.
“Datanglah ke sini, lihat langsung bagaimana rumah warga hilang, jalan putus, dan daratan kami terus terkikis laut. Kalau melihat langsung, saya yakin pemerintah akan lebih cepat bertindak,” ujarnya.
Selain berharap pembangunan tanggul permanen, pemerintah desa juga terus melakukan langkah darurat untuk menahan abrasi.
Salah satunya melalui penanaman ribuan pohon mangrove di sepanjang pesisir serta pembangunan tanggul sementara menggunakan karung pasir.
Namun upaya tersebut dinilai belum cukup kuat menghadapi gelombang laut besar yang datang setiap musim tertentu.
“Kalau ombak besar datang, tanggul darurat sering rusak lagi. Mangrove juga butuh waktu lama untuk benar-benar kuat menahan abrasi,” jelasnya.
Di sisi lain, abrasi turut berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat setempat.
Pantai Pisangan yang dahulu dikenal sebagai salah satu destinasi wisata andalan kini nyaris hilang akibat abrasi.
Padahal sektor wisata pantai sempat menjadi sumber pendapatan masyarakat dan desa.
Selain wisata, aktivitas nelayan dan tambak warga juga terdampak karena kerusakan lingkungan pesisir dan akses jalan yang rusak akibat genangan air laut.
Pemerintah desa berharap ada dukungan lebih besar untuk pemberdayaan nelayan, bantuan alat tangkap, permodalan usaha, hingga perbaikan akses jalan menuju kawasan pesisir.
“Kalau nanti pantai sudah aman dengan tanggul laut, kami ingin wisata bahari hidup lagi. Potensi desa kami sebenarnya sangat besar,” tutur Rudi Candia.
Tak hanya itu, kawasan relokasi warga juga masih membutuhkan banyak penyempurnaan fasilitas pendukung.
Mulai dari jalan lingkungan, sanitasi, tempat ibadah, hingga fasilitas pendidikan masih membutuhkan perhatian lanjutan dari pemerintah.
Meski menghadapi tantangan berat, Pemerintah Desa Cemarajaya menegaskan tetap mendukung seluruh program pembangunan Pemerintah Kabupaten Karawang.
Rudi Candia menyebut pihaknya akan terus berupaya membangun desa dan menjaga semangat masyarakat agar tetap bertahan menghadapi ancaman abrasi.
“Saya mewakili warga Desa Cemarajaya ingin menyampaikan dua hal: rasa terima kasih yang besar dan harapan yang besar juga. Kami berterima kasih atas bantuan relokasi rumah, tetapi kami juga berharap ada perlindungan nyata agar desa kami tidak hilang,” katanya.
Ia menegaskan, keberadaan tanggul laut permanen menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga masa depan Desa Cemarajaya.
“Kami ingin anak cucu kami nanti masih punya kampung halaman. Kami mohon pemerintah membantu melindungi daratan kami,” pungkasnya. (Ahmad Saleh)










