oleh

Tanggapan Politisi Soal Trend Profesi “Buzzer” di Tahun Politik

-
Dede Anwar Hidayat (kanan) politisi muda asal Karawang

Karawang, AlexaNews.ID – Pesatnya kemajuan teknologi membuat publik kini mengenal profesi baru. Media sosial yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pengganti komunikasi tatap muka ikut mencuatkan pilihan profesi baru. Salah satu trend profesi baru yang sedang hangat diperbincangka publik, yaitu Buzzer (Pendengung).

Dede Anwar Hidayat salah satu politisi muda asal Karawang menanggapi soal trend profesi buzzer ini. Menurutnya, profesi buzzer merupakan salah satu profesi yang mempunyai tanggapan buruk oleh masayarak. Karena muatan informasinya yang cenderung negatif.

Dede membagi sumber informasi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok influencer (pemberi informasi positif) dan buzzer (pemberi informasi negatif).

“Influencer itu memberikan sebuah pemahaman kearah yang lebih positif, dan tidak membangun propaganda, tidak membangun opini-opini yang negatif kepada masyarakat. Sehingga influencer ini, memberikan dampak-dampak positif ditengah pusaran sistem sosial sebetulnya gitu kan. Tentang motivasi lah, dan lain sebagainya. Nah kalau buzzer ini kan soal arus-arus yang lebih negative,” ujar Dede, kepada AlexaNews.ID, Senin (21/10/2019).

Ilustrasi Buzzer

Menurut Dede para buzzer ini menggunakan akun palsu, untuk melancarkan aksinya. Sementara para influencer dalam memberikan informasi menggunakan akun pribadi.

“Ya iya gitu kan, ya jelas orangnya, subjeknya jelas, bukan akun cloning,” lanjut Dede.

Dede pun menanggapi soal trend buzzer politik yang sedang marak, menurutnya hal itu hal yang wajar.

“Sebuah kewajaran karena tidak ada undang-undang hukum positif yang mengatur tentang boleh atau tidak boleh mempergunakan buzzer. Kecuali negara ini hadir gitu kan, mengatur kepada wilayah hukum positif adanya buzzer. Nah sedangkan itu tidak ada,” lanjut Dede.

Taufik Ismail Ketua DPC PDIP Karawang.

Sementara Ketua PDIP Karawang, Taufik Ismail atau yang akrab disapa Kang Pipik mengajak masyarakat Karawang khususnya, untuk membaca terlebih dulu suatu informasi dan jangan langsung mempercayainya.

“Jadi sharing dulu, saring dulu, baru share. Harus gitu, itu kan kuncinya,” timpal Kang Pipik.

Penulis : Poka

-

Hot News