CIREBON, AlexaNews.ID – Di tengah tekanan ekonomi akibat nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp16.900 per dolar AS pada Januari 2026, geliat pariwisata lokal justru menunjukkan sinyal kebangkitan. Salah satu sektor yang mencuri perhatian adalah pasar tradisional yang mulai dilirik sebagai destinasi “wisata rakyat”.
Ketika banyak pelaku usaha harus berjibaku dengan laporan SPT dan ketidakpastian ekonomi global, wisata kuliner berbasis kearifan lokal tampil lebih tahan banting. Masyarakat kini cenderung memilih destinasi yang terjangkau, dekat dengan budaya, serta menawarkan pengalaman autentik.
Pegiat budaya Tionghoa asal Cirebon, Jeremy Huang, menilai fenomena ini sebagai peluang besar, khususnya bagi kota-kota yang memiliki kekayaan pasar tradisional seperti Cirebon.
Dalam perjalanan libur panjang pertengahan Januari, Jeremy mengamati langsung ramainya destinasi berbasis pasar rakyat di sejumlah daerah. Mulai dari kawasan Prawirotaman dan Gudeg Sagan di Yogyakarta, hingga Pasar Gede di Solo dan sentra kuliner di Semarang, tetap dipadati wisatawan domestik.
“Saya sempat heran. Di saat ekonomi sedang tidak mudah, justru tempat-tempat wisata rakyat penuh. Pasar tradisional dan kuliner lokal masih jadi magnet utama,” kata Jeremy, Minggu (25/1/2026).
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran pola berwisata. Jika sebelumnya wisatawan mengejar tempat mahal dan modern, kini mereka lebih mencari pengalaman yang sederhana, murah, namun kaya cita rasa dan cerita.
Pasar seperti Pasar Ngasem di Jogja dan Pasar Gede di Solo menjadi contoh bagaimana ruang ekonomi rakyat bisa bertransformasi menjadi destinasi wisata. Konsep tersebut dinilai sangat relevan diterapkan di Cirebon yang dikenal sebagai kota budaya dan kuliner.
“Di tengah mahalnya biaya hidup karena dolar menguat, orang ingin tetap liburan tapi rasional. Wisata pasar rakyat jadi jawaban karena ramah kantong dan tetap menyenangkan,” jelasnya.
Jeremy menambahkan, jika dikelola serius, pasar tradisional Cirebon bukan hanya berfungsi sebagai pusat ekonomi, tetapi juga sebagai etalase budaya, kuliner, dan interaksi sosial yang mampu menarik wisatawan nusantara.
Ia berharap pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan komunitas bisa bersinergi mengemas pasar tradisional menjadi destinasi wisata rakyat yang nyaman, bersih, serta memiliki narasi kuat.
“Tahun 2026 ini momentum kebangkitan. Pasar bukan sekadar tempat jual beli, tapi ruang wisata, ruang budaya, dan ruang harapan ekonomi rakyat,” pungkasnya. [Kirno]










