KUNINGAN. AlexaNews.ID – Kelestarian Ikan Dewa yang selama ini dikenal sebagai ikon keramat sekaligus warisan budaya masyarakat Cigugur, Kabupaten Kuningan, kini berada di ambang krisis. Praktik pengambilan air oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) diduga menjadi penyebab utama terganggunya ekosistem alami ikan legendaris tersebut.
Sorotan keras disampaikan oleh aktivis Pemuda Marhaen, Iwa Gunawan. Ia menilai pengelolaan sumber mata air oleh PDAM dilakukan tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologi, sehingga berdampak langsung terhadap habitat Ikan Dewa.
Menurut Iwa, krisis air bermula dari metode pengambilan air PDAM yang dilakukan langsung dari titik sumber mata air. Cara tersebut menyebabkan debit air terserap hampir sepenuhnya ke sistem distribusi, sehingga aliran air yang seharusnya menghidupi kolam-kolam habitat ikan berkurang drastis.
Masalah semakin kompleks dengan keberadaan sumur penampung milik PDAM yang dibangun jauh di bawah elevasi kolam ikan. Kondisi ini diduga kuat menciptakan efek hisap yang memperparah penyusutan volume air di kolam.
“Sumur penampung itu sangat dalam dan posisinya jauh di bawah kolam. Ketika PDAM membutuhkan suplai air besar, air kolam ikut tersedot. Akibatnya, genangan air di kolam tidak bisa mengalir secara normal,” ungkap Iwa Gunawan.
Ketidakstabilan debit air tersebut berdampak serius terhadap kelangsungan hidup Ikan Dewa. Berdasarkan pantauan lapangan, ekosistem ikan mengalami tekanan berat baik saat musim hujan maupun musim kemarau.
Saat curah hujan tinggi, aliran air tetap tidak normal. Ikan kehilangan akses terhadap air bersih langsung dari mata air, sehingga mengalami stres, kehilangan orientasi, hingga mati secara massal.
Sebaliknya, pada musim kemarau, minimnya debit air membuat ikan tampak lemas, kurang agresif, dan mengalami penurunan vitalitas yang signifikan.
“Dalam kondisi seperti ini, hampir setiap hari ditemukan ikan mati. Kualitas dan kuantitas air di kolam benar-benar tidak layak bagi kelangsungan hidup mereka,” kata Iwa.
Ia menegaskan bahwa situasi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengambilan air harus segera dilakukan agar Cigugur tidak kehilangan warisan alam dan budaya yang telah dijaga secara turun-temurun.
“Harus ada ruang bagi ikan untuk tetap mendapatkan air bersih langsung dari mata air. Jangan sampai kepentingan bisnis mengorbankan kelestarian makhluk hidup yang sudah hidup berdampingan dengan masyarakat sejak lama,” tegasnya.
Kini, masyarakat Cigugur bersama para pemerhati lingkungan menantikan langkah konkret dari pemerintah daerah dan instansi terkait. Solusi yang diharapkan adalah kebijakan yang mampu menyeimbangkan kebutuhan air bersih bagi warga tanpa mengorbankan ekosistem Ikan Dewa yang legendaris. (Kirno)










