KUNINGAN, AlexaNews.ID – Kolam pemandian Cigugur di Kabupaten Kuningan tidak hanya dikenal karena kejernihan airnya, tetapi juga karena keberadaan Ikan Dewa atau Kancra Bodas yang telah lama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat. Bagi warga Cigugur, ikan ini bukan sekadar satwa endemik, melainkan simbol keseimbangan antara manusia dan alam.
Ikan Dewa dipercaya memiliki peran sebagai penanda kondisi lingkungan. Masyarakat adat dan pemerhati alam meyakini bahwa perubahan perilaku ikan ini kerap menjadi sinyal terganggunya ekosistem, khususnya sumber air dan kawasan pegunungan di sekitarnya.
“Ikan Dewa seperti cermin bagi manusia. Ketika mereka mulai gelisah atau jumlahnya berkurang, itu pertanda ada yang tidak selaras dalam cara kita memperlakukan alam,” ujar pemerhati budaya dan lingkungan, Iwa Gunawan.
Kepercayaan tersebut tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Ikan Dewa dilindungi secara turun-temurun, tidak boleh ditangkap atau dikonsumsi, sebagai bentuk penghormatan terhadap kehidupan dan sumber daya alam yang menopang kehidupan sehari-hari.
Pelestarian Ikan Dewa di Cigugur tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga kelangsungan satu spesies, tetapi juga sebagai praktik nilai hidup yang mengajarkan batas, tanggung jawab, dan kesadaran. Alam diperlakukan bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai titipan yang harus dijaga keseimbangannya.
Keberadaan Ikan Dewa juga berkaitan erat dengan kelestarian sumber air bersih. Habitat mereka yang bergantung pada air jernih menjadikan ikan ini indikator alami kualitas lingkungan. Selama Ikan Dewa tetap hidup dan berkembang, masyarakat percaya ekosistem masih berada dalam kondisi sehat.
Menurut Iwa Gunawan, menjaga Ikan Dewa berarti menjaga hubungan manusia dengan Sang Pencipta melalui alam ciptaan-Nya. “Ketika kita memuliakan alam, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan itu sendiri,” ujarnya.
Nilai-nilai kearifan lokal tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan dan modernisasi harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Tanpa keseimbangan, sumber kehidupan seperti air, tanah, dan keanekaragaman hayati akan terancam.
Melalui keberadaan Ikan Dewa Cigugur, masyarakat diajak untuk kembali memahami makna hidup selaras dengan alam. Menjaga setiap makhluk dan setiap tetes air bukan hanya demi hari ini, tetapi juga untuk keberlanjutan generasi yang akan datang. (Kirno)




