CIREBON, AlexaNews.ID – Banjir kembali menerjang Perumahan Trusmiland Klayan 5, Desa Batembat, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon. Untuk keempat kalinya dalam dua bulan terakhir, permukiman ini terendam air. Namun banjir yang terjadi sejak Jumat dini hari (6/2/2026) disebut warga sebagai yang paling parah, dengan ketinggian air mencapai hampir satu meter.
Sejak Kamis malam sekitar pukul 21.00 WIB, air mulai masuk ke kawasan perumahan. Dalam hitungan jam, genangan terus meninggi hingga melumpuhkan seluruh aktivitas warga. Puncak banjir terjadi pada Jumat dini hari, memaksa ratusan kepala keluarga mengungsi demi menyelamatkan diri.
Salah seorang warga terdampak, Arif Thasdiq, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi yang terus berulang.
“Ini yang paling parah sejak perumahan ini dibangun tiga tahun lalu. Banjir sebelumnya hanya di bagian belakang, sekarang blok depan pun ikut terendam,” ujar Arif.
Akibat banjir tersebut, warga terpaksa mengungsi ke berbagai lokasi, mulai dari masjid di dalam perumahan, rumah kerabat, hingga menumpang di rumah tetangga yang memiliki kontur tanah lebih tinggi.
Kemarahan warga kian memuncak karena mereka menilai upaya penanganan banjir yang dilakukan pihak pengembang tidak menyentuh akar persoalan. Dedi Slamet, warga lainnya, menyebut solusi berupa pembuatan sumur resapan terbukti gagal menghadapi debit air besar.
“Kami sudah lama meminta peninggian tembok pembatas. Tapi yang dibuat justru sumur resapan. Sekarang terbukti, air dari area persawahan yang lebih tinggi tetap meluap masuk ke perumahan,” tegas Dedi.
Menurut warga, posisi perumahan yang lebih rendah dari area sekitar membuat Trusmiland Klayan 5 menjadi titik tampung air setiap hujan deras turun.
Warga kini secara tegas menagih tanggung jawab pengembang dan mendesak adanya solusi nyata, bukan sekadar tambal sulam. Mereka mengajukan tiga langkah darurat yang dinilai krusial:
Pertama, peninggian tembok pembatas agar air dari area persawahan tidak langsung meluap ke perumahan.
Kedua, penyesuaian elevasi tanah perumahan agar tidak menjadi cekungan penampungan air.
Ketiga, optimalisasi saluran drainase sesuai site plan dengan aliran langsung ke gorong-gorong besar tanpa hambatan.
Warga berharap kejadian banjir berulang ini segera mendapat perhatian serius, mengingat dampaknya tidak hanya merusak rumah, tetapi juga mengancam keselamatan dan kesehatan keluarga mereka. (Kirno)










