CIREBON, AlexaNews.ID – Suara dentuman musik dan alunan organ tunggal memecah kesunyian malam di Desa Suranenggala, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon. Tepat pukul 03.00 WIB, saat sebagian besar warga masih terlelap, sekelompok pemuda yang tergabung dalam grup Obrog mulai berkeliling kampung untuk membangunkan sahur.
Tradisi yang dikenal dengan sebutan “Ngobrog” ini tetap eksis meski zaman terus berkembang. Di tengah modernisasi, warga Suranenggala membuktikan bahwa kearifan lokal masih menjadi denyut nadi religiusitas masyarakat selama bulan suci Ramadhan.
Berbeda dengan cara konvensional yang hanya menggunakan kentongan, grup Obrog Suranenggala memodifikasi gerobak menjadi panggung mini berjalan. Gerobak tersebut dilengkapi organ tunggal dan sound system bertenaga besar, sehingga suara ajakan sahur terdengar hingga pelosok gang sempit desa.
Lampu warna-warni yang menghiasi gerobak menambah semarak suasana dini hari. Lagu-lagu bernuansa religi hingga lagu populer yang telah diaransemen ulang dinyanyikan penuh semangat. Seruan “Sahur… sahur…” menggema, menjadi penanda waktu makan sebelum imsak tiba.
Kirul, salah satu personel grup Obrog, mengatakan tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun di desanya. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya sekadar membangunkan warga.
“Ini sudah jadi tradisi di desa kami. Selain membantu warga agar tidak kesiangan sahur, Ngobrog juga menjadi ajang silaturahmi antar pemuda,” ujarnya pada Kamis dini hari (26/02/2026).
Kehadiran grup Obrog disambut baik oleh masyarakat. Warga tidak merasa terganggu, justru terbantu dengan pengingat sahur yang meriah dan penuh semangat. Beberapa warga bahkan keluar rumah untuk menyaksikan iring-iringan gerobak musik tersebut dan memberikan apresiasi kepada para pemuda yang rela terjaga.
Penggunaan sound system yang mumpuni memastikan pesan sahur menjangkau seluruh sudut desa. Semangat gotong royong dan kebersamaan pun terasa kental dalam setiap langkah iring-iringan Obrog. (Kirno)










