CIREBON, AlexaNews.ID – Suara bedug menggema dari kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon sebagai penanda dimulainya tradisi Drugdag, ritual turun-temurun untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini menjadi simbol kegembiraan sekaligus ungkapan rasa syukur keluarga keraton dan masyarakat menyongsong bulan penuh berkah.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, PR Goemelar Soeryadiningrat, mengatakan Drugdag merupakan bagian penting dari warisan budaya keraton yang terus dijaga hingga kini. Tradisi pemukulan bedug menjadi penanda spiritual sekaligus pengingat bahwa Ramadan adalah momentum yang dinanti umat Islam.
“Tabuhan bedug ini menjadi ciri khas Keraton Kasepuhan. Selain itu, masyarakat juga turut memeriahkan dengan pawai obor sebagai bentuk sukacita menyambut Ramadan,” ujar Goemelar.
Tak hanya menggelar tradisi Drugdag, pihak keraton juga menyiapkan berbagai kegiatan ibadah selama Ramadan. Sejumlah agenda religius seperti salat tarawih berjamaah dan tadarus Al-Qur’an akan dilaksanakan di Langgar Alit yang berada di area keraton.
Makna Spiritual di Balik Tradisi Drugdag
Penghulu Masjid Agung Sang Ciptarasa, KH Jumhur, menjelaskan bahwa pemukulan bedug dilakukan pada waktu Asar sebagai bagian dari penanggalan Hijriah. Dalam sistem kalender Islam, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam, sehingga tradisi tersebut menjadi simbol kesiapan menyambut Ramadan.
Menurutnya, irama bedug dalam tradisi Drugdag bukan sekadar bunyi biasa, tetapi memiliki makna filosofis mendalam yang berkaitan dengan nilai ketauhidan.
Tabuhan pertama melambangkan kalimat syahadat sebagai inti keimanan. Tabuhan kedua menjadi simbol zikir atau pengingat kepada Allah SWT. Sedangkan tabuhan ketiga mencerminkan tasbih dan ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan.
Meski sarat nilai budaya, KH Jumhur menegaskan bahwa penentuan awal Ramadan tetap mengacu pada syariat Islam, yakni melalui pemantauan hilal sesuai ajaran Rasulullah SAW.
Tradisi Drugdag hingga kini tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Cirebon. Selain menjaga warisan leluhur, kegiatan ini juga memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan umat Islam dalam menyambut bulan suci Ramadan. (Kirno)










