KARAWANG, alexanews.id – Program pemenuhan gizi yang digagas pemerintah melalui Badan Gizi Nasional mulai menunjukkan dampak nyata di daerah. Salah satu contoh konkret terlihat di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang.
SPPG Plawad tidak hanya berperan dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga berhasil menjadi motor penggerak ekonomi lokal melalui pemberdayaan warga setempat.
Kepala Dapur SPPG Plawad, Rizki Pratama, mengungkapkan bahwa program ini mulai berjalan sejak 9 Maret 2026. Pada tahap awal operasional, jumlah penerima manfaat tercatat sebanyak 898 orang yang sebagian besar berasal dari layanan posyandu.
Namun, dalam waktu relatif singkat, jumlah tersebut mengalami peningkatan signifikan. Saat ini, total penerima manfaat telah mencapai 2.037 orang.
“Sekarang jumlah penerima manfaat sudah meningkat menjadi 2.037 orang, mencakup siswa Sekolah Dasar dan anak-anak PAUD,” ujar Rizki.
Ia merinci, dari total tersebut sebanyak 1.027 penerima merupakan siswa Sekolah Dasar, sementara 174 lainnya berasal dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sisanya merupakan balita serta ibu yang terdata dalam layanan posyandu di wilayah tersebut.
Lonjakan jumlah penerima manfaat ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap program pemenuhan gizi, sekaligus menandakan bahwa program ini diterima dengan baik oleh warga.
Dalam menjalankan operasionalnya, SPPG Plawad mengusung sistem memasak mandiri. Seluruh proses pengolahan makanan dilakukan langsung oleh tim dapur yang terdiri dari tenaga berpengalaman.
“Kami memiliki tim dapur yang sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun. Selain itu, kami juga didukung oleh ahli gizi yang merancang menu sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat,” jelasnya.
Menu makanan yang disajikan tidak dibuat secara sembarangan. Setiap menu dirancang melalui proses diskusi antara tenaga dapur dan ahli gizi, lalu disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi berdasarkan kelompok usia penerima manfaat.
Setelah melalui proses asesmen gizi, menu tersebut kemudian dihitung ulang oleh tim akuntansi untuk memastikan kesesuaian dengan anggaran yang tersedia. Langkah ini dilakukan agar efisiensi tetap terjaga tanpa mengurangi kualitas gizi makanan yang diberikan.
Pendekatan ini menjadi kunci keberhasilan SPPG Plawad dalam menjaga keseimbangan antara kualitas layanan dan efisiensi operasional.
Meski demikian, perjalanan program ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Pada tahap awal pelaksanaan, SPPG Plawad sempat menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam hal distribusi makanan.
Lonjakan jumlah penerima manfaat yang mencapai ribuan orang dalam waktu singkat membuat tim harus melakukan penyesuaian, khususnya terkait armada distribusi dan jangkauan wilayah.
“Kendala di awal lebih pada keterlambatan distribusi karena faktor jarak dan penyesuaian armada. Namun saat ini semuanya sudah berjalan normal,” tambah Rizki.
Seiring berjalannya waktu, sistem distribusi yang lebih terstruktur berhasil diterapkan, sehingga penyaluran makanan kini dapat dilakukan secara tepat waktu dan merata.
Tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi, SPPG Plawad juga memberikan dampak positif dalam aspek sosial dan ekonomi masyarakat.
Sebanyak 47 relawan yang terlibat dalam operasional SPPG seluruhnya merupakan warga asli Kelurahan Plawad. Hal ini menjadi bukti bahwa program ini juga berfungsi sebagai wadah pemberdayaan masyarakat lokal.
Keterlibatan warga dalam program ini tidak hanya membantu kelancaran operasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
“Harapannya, program ini tidak hanya membantu meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga mampu memberdayakan tenaga kerja lokal,” ungkap Rizki.
Dengan adanya keterlibatan masyarakat secara langsung, SPPG Plawad berhasil menciptakan ekosistem yang saling mendukung antara kesehatan dan ekonomi.
Program ini juga dinilai mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang, terutama bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan.
Keberadaan SPPG menjadi langkah strategis dalam upaya menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Selain itu, program ini turut memperkuat peran posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat lokal.
Keberhasilan SPPG Plawad diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengimplementasikan program serupa. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga ahli, dan masyarakat terbukti mampu menghasilkan dampak yang signifikan.
Dengan sistem yang terintegrasi, mulai dari perencanaan menu, pengolahan, hingga distribusi, SPPG Plawad menunjukkan bahwa program pemenuhan gizi dapat dijalankan secara efektif dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar program bantuan, SPPG Plawad telah berkembang menjadi pusat kegiatan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Dampak yang dihasilkan tidak hanya dirasakan dalam bentuk peningkatan kesehatan, tetapi juga dalam penguatan ekonomi lokal dan peningkatan solidaritas sosial.
Ke depan, diharapkan program ini dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat, sehingga kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat semakin besar.
SPPG Plawad kini menjadi bukti bahwa program pemerintah yang dirancang dengan baik dan melibatkan masyarakat secara aktif dapat memberikan hasil yang optimal dan berkelanjutan. (Yopie)










