CIREBON, alexanews.id – Kota Cirebon kembali diselimuti kabar duka. Tokoh masyarakat yang dikenal vokal membela kepentingan rakyat kecil, Darma Suryapranata, meninggal dunia pada Rabu dini hari, 6 Mei 2026.
Almarhum mengembuskan napas terakhir di RS Sumber Kasih Cirebon pada pukul 02.58 WIB setelah menjalani perawatan akibat gangguan pencernaan. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh dua anak angkatnya, Acan Sukeito Pranoto dan Samsul.
Kepergian Darma Suryapranata meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat Cirebon yang mengenalnya sebagai sosok pejuang, penggerak sosial, sekaligus penjaga warisan budaya.
Ungkapan duka mendalam disampaikan Jeremy Huang Wijaya saat melepas kepergian almarhum. Ia mengutip pepatah Tiongkok yang menggambarkan kenyataan hidup paling pasti: kematian adalah satu-satunya hal yang tak bisa dihindari setiap manusia.
Kalimat itu menjadi penanda betapa besar kehilangan yang dirasakan banyak orang atas wafatnya Darma Suryapranata. Sosoknya dikenal luas sebagai figur yang tak pernah berhenti bersuara saat melihat ketidakadilan terjadi di tengah masyarakat.
Nama Darma Suryapranata kembali menjadi sorotan publik pada 2024. Di usianya yang telah menginjak 81 tahun, ia tampil di garis depan menentang lonjakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang dinilai memberatkan warga.
Saat itu, kebijakan kenaikan PBB di Kota Cirebon memicu gelombang protes. Besaran pajak disebut melonjak drastis, bahkan mencapai 1.000 persen. Darma termasuk salah satu warga yang terdampak langsung.
Tagihan PBB rumahnya naik tajam dari semula Rp6,3 juta menjadi Rp65 juta. Kenaikan yang sangat mencolok itu mendorongnya ikut bersuara lantang bersama masyarakat.
Meski sudah berusia lanjut dan hidup seorang diri, Darma tak memilih diam. Ia berdiri bersama warga, menyampaikan protes, dan menolak kebijakan yang dinilai mencekik masyarakat kecil.
Sikap kritisnya kala itu membuat namanya kembali dikenal luas. Banyak warga melihat Darma bukan sekadar tokoh senior, tetapi simbol perlawanan sipil yang berani menyuarakan ketidakadilan.
Jauh sebelum dikenal sebagai pejuang PBB, Darma Suryapranata telah lama mengabdikan diri untuk kepentingan sosial, khususnya bagi masyarakat Tionghoa di Cirebon.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Cirebon pada periode 1999 hingga 2004.
Dalam masa kepemimpinannya, Darma dikenal aktif mengawal berbagai isu sosial dan kebudayaan. Ia menjadi salah satu tokoh yang konsisten menjaga harmoni sosial sekaligus memperjuangkan hak-hak kelompok minoritas.
Di mata komunitas Tionghoa Cirebon, Darma bukan sekadar pemimpin organisasi. Ia adalah sosok pengayom yang hadir dalam banyak persoalan sosial, budaya, dan kemasyarakatan.
Salah satu warisan perjuangan terbesar Darma Suryapranata adalah keterlibatannya dalam penyelamatan pemakaman Ku Tiong pada 2003.
Bersama Foe Yie Liem dan Jeremy Huang, ia membentuk Team Amankan Ku Tiong untuk mempertahankan kompleks pemakaman tersebut dari rencana pembongkaran pemerintah kota.
Bagi Darma, Ku Tiong bukan sekadar area pemakaman. Tempat itu adalah jejak sejarah, identitas budaya, dan bagian penting dari warisan Tionghoa di Cirebon yang tak boleh dihapus begitu saja.
Perjuangan mempertahankan Ku Tiong bukan perkara mudah. Darma dan tim harus menempuh jalur hukum hingga ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung.
Meski menghadapi tekanan dan tantangan besar, Darma tetap teguh. Ia terus bersuara kritis demi mempertahankan situs yang diyakininya memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
Keberanian itulah yang membuat namanya dikenang sebagai salah satu pelindung cagar budaya Tionghoa di Cirebon.
Kepergian Darma Suryapranata menjadi kehilangan besar bagi Cirebon. Sosoknya dikenal luas sebagai tokoh yang tak segan bersuara untuk keadilan, baik dalam isu sosial, kebijakan publik, maupun pelestarian budaya.
Almarhum juga menyimpan duka panjang dalam hidupnya. Ia lebih dahulu ditinggal putra sulungnya, Didip, yang meninggal dunia pada 2006.
Kini, Darma meninggalkan seorang putri bernama Tiara serta banyak anak angkat yang selama ini merasakan kasih sayang dan perhatian darinya.
Bagi mereka, Darma bukan hanya seorang ayah, tetapi juga pelindung, pembimbing, dan tempat pulang.
Wafatnya Darma menambah suasana duka di kalangan masyarakat Tionghoa Cirebon. Sebelumnya, warga juga baru kehilangan L. Leo Silabu pada 5 Mei 2026, sosok yang dikenal sebagai donatur setia kembang api dalam perayaan Imlek di Kelenteng Talang.
Dalam sepekan, dua nama besar yang lekat dengan sejarah sosial dan budaya Tionghoa Cirebon berpulang.
Kini Darma Suryapranata telah tiada. Namun jejak perjuangannya akan tetap hidup dalam ingatan warga Cirebon.
Namanya akan dikenang sebagai pejuang rakyat, pembela keadilan, dan penjaga warisan budaya yang tak pernah lelah bersuara hingga akhir hayat. (Kirno)










