KARAWANG, alexanews.id – Kekhawatiran menyelimuti para petani di Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang. Mereka menghadapi ancaman serius berupa potensi gagal panen akibat dugaan migrasi hama tikus dari area proyek Pertamina EP yang saat ini tengah berlangsung di wilayah perbatasan.

Kondisi tersebut memicu keresahan di kalangan petani karena serangan hama tikus berpotensi merusak tanaman padi yang saat ini memasuki masa penting menjelang panen.

Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Kelurahan Plawad bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Plawad bergerak cepat untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar terhadap sektor pertanian warga.

Lurah Plawad, Nabiyil Anzal Diaswara, mengatakan pihaknya telah menerima laporan awal terkait kekhawatiran petani meski laporan resmi dari kelompok tani masih dalam proses.

Menurutnya, persoalan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah kelurahan karena menyangkut mata pencaharian masyarakat yang selama ini bergantung pada hasil pertanian.

“Terima kasih atas informasi dan laporan yang telah disampaikan. Ini menjadi perhatian serius bagi kami. Kelurahan akan segera melakukan tindak lanjut dengan berkoordinasi bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas, LPM, dan pihak terkait lainnya,” ujar Nabiyil, Selasa (23/6/2026).

Selain melakukan koordinasi internal, pemerintah kelurahan juga berencana mempertemukan para petani dengan pihak Pertamina EP guna mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.

Langkah tersebut diambil sebagai upaya merespons aspirasi petani yang menginginkan aktivitas proyek ditunda sementara hingga masa panen selesai.

“Kami akan memfasilitasi pertemuan antara perwakilan petani Plawad dengan manajemen Pertamina EP. Aspirasi terkait penundaan proyek akan kami sampaikan dan koordinasikan terlebih dahulu dengan pihak perusahaan,” katanya.

Meski lokasi proyek berada di wilayah Desa Ciranggon, Kecamatan Majalaya, dampak yang dikhawatirkan justru berpotensi dirasakan oleh petani di wilayah Karawang Timur.

Karena itu, Nabiyil menilai diperlukan komunikasi lintas wilayah agar penanganan persoalan dapat dilakukan secara menyeluruh.

“Dalam waktu dekat kami juga akan berkoordinasi dengan Kepala Desa Ciranggon agar langkah penanganan yang dilakukan dapat berjalan selaras dan efektif,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua LPM Plawad, Hendra Wijaya, menegaskan pihaknya akan berdiri bersama para petani yang merasa terancam oleh kemungkinan munculnya gelombang migrasi tikus dari lokasi proyek.

Ia menilai ancaman tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil karena dapat berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian dan ekonomi warga.

“LPM Plawad berada di pihak petani. Potensi gagal panen akibat migrasi tikus yang diduga dipicu aktivitas proyek harus menjadi perhatian bersama. Kami tidak ingin pembangunan berjalan dengan mengorbankan mata pencaharian masyarakat,” tegas Hendra.

Sebagai bentuk langkah konkret, LPM Plawad mengusulkan sejumlah tindakan mitigasi yang dinilai perlu segera dilakukan oleh pihak pelaksana proyek.

Usulan pertama adalah pelaksanaan gropyokan atau perburuan tikus secara massal yang didukung penuh oleh perusahaan. Selain itu, perusahaan juga diminta membangun pagar pembatas atau barrier di sekitar area proyek untuk mencegah penyebaran hama menuju lahan pertanian warga.

Langkah kedua adalah melibatkan instansi pertanian dalam penanganan darurat, termasuk penyemprotan massal dan pemasangan umpan pengendali hama di titik-titik rawan.

Adapun usulan ketiga berkaitan dengan perlindungan terhadap petani apabila dampak yang dikhawatirkan benar-benar terjadi.

LPM meminta Pertamina EP menyiapkan komitmen kompensasi atau ganti rugi apabila terdapat lahan pertanian yang terbukti mengalami kerusakan akibat dampak aktivitas proyek.

Menurut Hendra, seluruh langkah tersebut perlu dibahas secara terbuka agar tidak menimbulkan konflik di kemudian hari.

Ia juga menegaskan bahwa apabila penundaan proyek menjadi opsi terbaik untuk melindungi hasil panen petani, maka aspirasi tersebut akan terus diperjuangkan melalui mekanisme yang berlaku.

“Jika penundaan proyek menjadi solusi terbaik sebelum ada sistem mitigasi hama yang jelas dan terukur, maka aspirasi itu akan kami sampaikan secara tegas kepada pihak perusahaan sesuai prosedur yang berlaku,” pungkasnya.

Hingga berita ini ditulis, para petani berharap adanya langkah cepat dari seluruh pihak terkait agar ancaman serangan hama tikus dapat dicegah sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar terhadap sektor pertanian di wilayah Plawad dan sekitarnya. (King)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.