KARAWANG Alexanews.id – Proyek Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) di Kampung Lamaran, Desa Solokan, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, menjadi sorotan. Beton yang baru beberapa hari dikerjakan dilaporkan sudah mengalami retak rambut di sejumlah titik.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan proyek yang menggunakan anggaran pemerintah hingga Rp500 juta.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek PISEW tersebut bersumber dari Kementerian Pekerjaan Umum melalui Bantuan Pemerintah Masyarakat (BPM). Pelaksana kegiatan adalah Kelompok Masyarakat Kerja Sama Antar Desa (POKMAS KAD) Srijaya.

Retakan pada beton yang masih relatif baru itu memicu kekhawatiran warga terhadap kualitas dan ketahanan infrastruktur yang dibangun.

“Pengecoran baru beberapa hari, kok sudah retak rambut. Kami berharap pihak terkait melihat langsung ke lokasi. Kalau seperti ini, kami khawatir tidak akan bertahan lama,” ungkap seorang warga sekitar.

Munculnya retakan pada beton yang baru dikerjakan tidak serta-merta membuktikan adanya kesalahan konstruksi. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diperiksa secara teknis untuk memastikan penyebabnya.

Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah retakan berkaitan dengan kualitas material, komposisi campuran beton, proses pengecoran, perawatan beton, atau faktor teknis lainnya.

Jangan sampai persoalan kualitas baru ditangani setelah kerusakan semakin parah. Apalagi, infrastruktur tersebut dibangun menggunakan anggaran pemerintah yang seharusnya menghasilkan pekerjaan sesuai spesifikasi dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Anggaran Rp500 juta bukan nilai yang kecil. Karena itu, pelaksanaan proyek harus diimbangi dengan pengawasan yang memadai, transparansi, serta tanggung jawab terhadap mutu hasil pekerjaan.

Instansi yang berwenang diharapkan segera turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan secara objektif dan profesional.

Evaluasi tersebut penting untuk memastikan hasil pekerjaan sesuai perencanaan, spesifikasi teknis, serta ketentuan program PISEW yang berlaku.

Jika ditemukan ketidaksesuaian, pihak pelaksana perlu memberikan penjelasan dan menindaklanjutinya sesuai hasil pemeriksaan teknis serta ketentuan yang berlaku.

Masyarakat juga berhak mengetahui bagaimana anggaran digunakan dan apakah hasil pembangunan benar-benar memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti retakan beton di lokasi proyek PISEW Desa Solokan belum dapat dipastikan. Belum ada keterangan resmi dari POKMAS KAD Srijaya maupun instansi terkait berdasarkan informasi yang dihimpun.

Klarifikasi dari pihak pelaksana dan instansi berwenang diperlukan agar persoalan ini dapat dijelaskan secara utuh, objektif, dan berimbang.

Publik kini menanti tindak lanjut nyata. Apakah retakan tersebut masih dalam batas teknis yang dapat diterima, atau justru memerlukan penanganan lebih lanjut?

Jawabannya harus berdasarkan pemeriksaan teknis, bukan sekadar dugaan ataupun pembelaan. Anggaran Rp500 juta harus dipertanggungjawabkan.

Keberhasilan proyek tidak cukup diukur dari selesainya pembangunan, tetapi juga dari mutu, ketahanan, dan manfaatnya bagi masyarakat.

Jangan sampai pembangunan terlihat selesai, tetapi persoalan kualitas justru baru terungkap setelah pekerjaan dilaksanakan. (Lan)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.