CIREBON, AlexaNews.ID – Inspeksi mendadak (sidak) Komisi II DPRD Kota Cirebon ke Kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) mengungkap fakta mengejutkan di balik ambruknya atap bangunan. Plafon berbahan PVC yang selama ini dipasang justru diduga menjadi “penutup masalah” kebocoran hingga akhirnya enam ruangan pelayanan rusak parah.
Sidak dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Cirebon pada Selasa (27/1/2026). Dari hasil pengecekan di lapangan, kerusakan bangunan dinilai bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat persoalan struktural yang sudah berlangsung lama.
Kepala DPUTR Kota Cirebon, Rachman Hidayat, menjelaskan usia bangunan Disnaker yang hampir menginjak 20 tahun sebenarnya sudah melewati masa ideal konstruksi. Namun pemicu utama ambruknya atap berasal dari penumpukan air hujan yang tidak tertangani dengan benar.
Menurutnya, kebocoran sebelumnya hanya disiasati dengan pemasangan plafon PVC, bukan diperbaiki dari sumber kerusakan. Akibatnya, air hujan tertahan di atas plafon dan menambah beban pada rangka atap.
“PVC itu justru menutup kebocoran. Dari bawah terlihat aman, padahal di atasnya air bisa mengendap. Beban bertambah, rangka aluminium bisa korosi, akhirnya struktur melintir dan runtuh,” terang Rachman di lokasi.
Ia menambahkan, kondisi tersebut diperparah oleh genting tanah liat yang sudah tua serta cuaca ekstrem sejak Kamis (22/1/2026). Kombinasi beban material dan genangan air membuat rangka baja ringan tidak lagi mampu menahan tekanan hingga roboh pada tengah malam menjelang akhir pekan lalu.
Enam Ruang Pelayanan Terdampak
Kepala Disnaker Kota Cirebon, Agus Suherman, mengonfirmasi terdapat enam titik kerusakan berat di sisi selatan gedung. Ruangan yang terdampak antara lain:
Bidang Pelatihan Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja,
Unit Pelaksana Teknis (UPT),
Ruang Kepala Bidang,
Gudang logistik.
Meski material bangunan masih berserakan dan instalasi listrik terlihat menjuntai, pelayanan kepada masyarakat tetap diupayakan berjalan.
“Kami tetap melayani dengan penuh kehati-hatian. Kondisi bangunan sekitar masih perlu diwaspadai agar tidak membahayakan pegawai maupun warga,” ujar Agus.
Menunggu Kepastian Anggaran Perbaikan
Hingga kini, kebutuhan anggaran rehabilitasi total belum ditetapkan. Tim teknis DPUTR masih melakukan penghitungan serta pemetaan kerusakan.
Rachman menyebut pihaknya mendorong percepatan perencanaan agar perbaikan bisa segera dilakukan.
“Kami menunggu arahan pimpinan daerah. Dalam waktu dekat akan dibahas bersama Wali Kota dan Sekda. Harapannya, perbaikan bisa masuk program tahun ini, tentu menyesuaikan kemampuan anggaran,” katanya.
Pantauan di lokasi menunjukkan sisa reruntuhan masih lembap akibat hujan yang kembali mengguyur kawasan Jalan Ciptomangunkusumo. Kondisi ini menambah urgensi penanganan cepat agar kerusakan tidak merembet ke bagian gedung lainnya. [Kirno]










