SERGAI, alexanews.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, terus menunjukkan dampak positif dalam upaya peningkatan gizi masyarakat. Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sebanyak 23.000 penerima manfaat dari kelompok 3B kini telah terlayani.
Kelompok 3B tersebut meliputi ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), serta anak balita non Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam menekan angka stunting sejak dini.
Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Sergai, Nurhasanah Ritonga, mengungkapkan bahwa layanan tersebut berasal dari 63 dapur SPPG yang telah beroperasi di seluruh wilayah Kabupaten Sergai.
“Total penerima manfaat mencapai sekitar 23.000 orang. Dengan rincian 17.000 balita, 3.800 ibu menyusui, dan sekitar 2.700 ibu hamil,” ujarnya saat menerima kunjungan tim BKKBN Sumatera Utara dan Dinas P2KBP3A Sergai di SPPG Pantai Cermin Kanan, Kamis (6/4/2026).
Program MBG sendiri menjadi salah satu prioritas nasional dalam memperbaiki kualitas gizi masyarakat, terutama bagi kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus dalam pemenuhan nutrisi harian.
Kunjungan kerja yang dilakukan oleh Kepala Perwakilan BKKBN Sumatera Utara, Fatmawati, bertujuan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai dengan standar serta didukung sarana dan prasarana yang memadai.
Dalam kunjungannya, Fatmawati didampingi sejumlah pejabat daerah dan disambut langsung oleh Kepala SPPG Pantai Cermin Kanan Ahmad Taufik Rajali Nur, Kepala Dinas P2KBP3A Sergai dr. Helmi Nur Iskandar, Camat Pantai Cermin, relawan SPPG, serta para kader.
“Selain silaturahmi, kami ingin melihat langsung bagaimana tata laksana program ini berjalan di lapangan serta kesiapan fasilitas pendukungnya,” ujar Fatmawati.
Ia menegaskan bahwa BKKBN mendapat amanah dari pemerintah pusat untuk melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya bagi kelompok 3B.
Menurutnya, perhatian terhadap ibu hamil menjadi sangat krusial karena kebutuhan gizi pada masa kehamilan sangat menentukan kualitas kesehatan bayi yang akan dilahirkan.
“Jika ingin mencegah stunting, maka pemenuhan gizi harus dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, bahkan berlanjut sampai usia lima tahun,” jelasnya.
Fatmawati juga menyoroti bahwa salah satu penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang. Oleh karena itu, intervensi melalui program seperti MBG menjadi langkah konkret yang harus terus diperkuat.
“Jika ibu hamil dan menyusui mendapatkan asupan gizi seimbang setiap hari, maka kondisi kesehatan akan membaik secara bertahap dan risiko stunting dapat ditekan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa pembentukan Badan Gizi Nasional (BGN) serta kehadiran dapur SPPG di berbagai daerah merupakan bagian dari strategi nasional dalam mempercepat penanganan stunting.
Program ini juga didukung dengan sistem pendataan yang terintegrasi agar penyaluran bantuan gizi tepat sasaran sesuai kondisi riil di lapangan.
“Kita ingin memastikan data yang disalurkan sesuai dengan kondisi sebenarnya, sehingga program ini benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas P2KBP3A Sergai, dr. Helmi Nur Iskandar, menyampaikan bahwa keberadaan 63 dapur SPPG yang tersebar di 17 kecamatan menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan program ini.
Ia mengungkapkan bahwa hasil pemantauan menunjukkan adanya peningkatan kondisi gizi pada sebagian penerima manfaat.
“Alhamdulillah, laporan dari lapangan menunjukkan bahwa beberapa penerima manfaat mengalami peningkatan berat badan dan tinggi badan,” ujarnya.
Hal ini menjadi indikator positif bahwa program MBG berjalan efektif dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan.
Dr. Helmi juga menegaskan bahwa pihaknya akan terus memperkuat koordinasi dengan BGN serta seluruh pemangku kepentingan agar program ini dapat menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.
Ia berharap ke depan seluruh kelompok 3B, termasuk anak-anak yang mengalami stunting, dapat terlayani secara optimal sesuai arahan pemerintah daerah.
“Koordinasi antara dapur SPPG dan Pemerintah Kabupaten berjalan dengan baik. Kita terus bersinergi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Program MBG melalui SPPG di Sergai diharapkan menjadi model percontohan dalam penanganan stunting di daerah lain. Dengan cakupan yang luas serta dukungan lintas sektor, program ini diyakini mampu memberikan dampak signifikan dalam jangka panjang.
Selain meningkatkan kualitas kesehatan, program ini juga berperan dalam menciptakan generasi yang lebih sehat, produktif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Upaya kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Dengan komitmen yang kuat, target penurunan angka stunting di Indonesia diyakini dapat tercapai secara bertahap. (Sutrisno)









