KARAWANG, alexanews.id – Bupati Karawang, Aep Syaepuloh bergerak cepat merespons keluhan petani di wilayah utara Kabupaten Karawang dengan menurunkan alat berat jenis excavator untuk membersihkan tumpukan sampah eceng gondok dan sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan saluran irigasi di Kecamatan Cibuaya.
Langkah cepat ini dilakukan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Karawang yang berkolaborasi dengan Perum Jasa Tirta (PJT) II Rengasdengklok serta Muspika Kecamatan Cibuaya. Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk respons atas krisis air yang mulai dirasakan petani akibat terganggunya aliran irigasi menuju lahan persawahan.
Normalisasi dilakukan di Saluran Sekunder (SS) Kertarahayu yang melintasi Desa Kertarahayu hingga Desa Cibuaya, Kecamatan Cibuaya. Pembersihan saluran sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer itu difokuskan pada pengangkatan sedimentasi, tumpukan sampah, dan eceng gondok yang selama ini menghambat aliran air.
Kondisi saluran yang mengalami pendangkalan membuat distribusi air ke area persawahan menjadi tidak maksimal. Akibatnya, banyak petani mengeluhkan sulitnya pasokan air untuk kebutuhan tanam, terutama di tengah musim yang menuntut kestabilan suplai irigasi.
Camat Cibuaya Ahmad Mustopa mengatakan penanganan eceng gondok dan sedimentasi di saluran irigasi memang menjadi salah satu perhatian utama pemerintah daerah, khususnya dalam menjaga produktivitas pertanian di Karawang.
“Alhamdulillah, penanganan eceng gondok sebagai salah satu permasalahan dalam pertanian selalu menjadi prioritas bapak Bupati. Turunnya becho menjadi bukti nyata perhatian pemerintah daerah terhadap kebutuhan petani,” ujar Ahmad Mustopa, Jumat 1 Mei 2026.
Ia menegaskan, langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Karawang yang menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas utama, mengingat Karawang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah lumbung pangan nasional.
Menurutnya, kelancaran saluran irigasi menjadi elemen penting dalam menjaga produktivitas sawah, khususnya di wilayah utara Karawang yang memiliki hamparan pertanian cukup luas dan sangat bergantung pada pasokan air dari jaringan irigasi sekunder.
“Ini sesuai dengan arahan kebijakan Kabupaten Karawang sebagai daerah swasembada pangan. Maka persoalan irigasi harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Ahmad juga berharap kepedulian pemerintah daerah dalam menangani persoalan irigasi bisa diikuti kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan saluran air dan tidak membuang sampah sembarangan ke aliran irigasi.
“Semoga kepedulian pak Bupati ini juga diikuti masyarakat dengan tidak membuang sampah ke saluran irigasi, karena persoalan ini tidak bisa selesai kalau tidak dijaga bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Pemerintah Desa Kertarahayu juga menyampaikan apresiasi atas langkah cepat yang dilakukan Pemkab Karawang dalam merespons persoalan yang dikeluhkan petani.
Sekretaris Desa Kertarahayu, Asep, mengatakan para petani menyambut baik normalisasi saluran tersebut karena dampaknya langsung dirasakan terhadap kebutuhan air pertanian.
Menurut Asep, petani di wilayah Desa Kertarahayu dan sekitarnya selama ini memang sangat bergantung pada kelancaran aliran air dari Saluran Sekunder Kertarahayu. Ketika saluran tersumbat eceng gondok dan sedimentasi, maka pasokan air ke sawah ikut terganggu.
“Tindakan ini mendapat apresiasi dari petani, khususnya di wilayah Desa Kertarahayu dan Kecamatan Cibuaya. Respons cepat Bupati Karawang melalui Dinas PUPR yang berkolaborasi dengan PJT II dan Muspika sangat membantu dalam mengatasi krisis air,” kata Asep.
Ia menilai kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi langkah penting dalam menyelesaikan persoalan irigasi yang selama ini menjadi keluhan petani, terutama saat memasuki musim tanam.
Tak hanya mengatasi krisis air pertanian, normalisasi saluran ini juga dinilai penting sebagai langkah pencegahan banjir. Tumpukan eceng gondok, sampah, dan sedimentasi yang dibiarkan menumpuk berpotensi mempersempit saluran dan memicu luapan air saat debit meningkat.
Karena itu, pembersihan saluran dinilai bukan hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari mitigasi bencana di wilayah rawan genangan.
Langkah cepat Bupati Karawang ini pun mendapat respons positif dari berbagai pihak. Selain membantu petani memperoleh kembali akses air irigasi, normalisasi saluran juga dinilai menjadi bukti nyata kehadiran pemerintah daerah dalam menjawab persoalan mendesak masyarakat.
Dengan pengerahan alat berat dan kolaborasi lintas instansi, pemerintah berharap aliran air di Saluran Sekunder Kertarahayu kembali normal, distribusi air ke sawah lancar, dan ancaman banjir akibat penyumbatan saluran dapat ditekan.
Ke depan, pemerintah kecamatan dan desa berharap normalisasi serupa dapat dilakukan secara berkala di titik-titik lain yang mengalami persoalan serupa, agar fungsi saluran irigasi tetap terjaga dan produktivitas pertanian Karawang tetap optimal. (Ahmad Saleh)










