KARAWANG, alexanews.id – Kabar baik datang dari para petani padi di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang. Memasuki musim panen pada Agustus 2026, harga gabah di tingkat pembelian disebut berada di kisaran Rp8.300 hingga Rp8.500 per kilogram.
Harga tersebut menjadi angin segar bagi petani. Pasalnya, selain harga jual gabah cukup tinggi, hasil panen tahun ini juga dinilai cukup bagus.
Rata-rata hasil panen yang diperoleh petani berada di sekitar 7 ton per hektare. Bahkan, sejumlah petani mampu menghasilkan gabah hingga 8 ton per hektare.
Kondisi itu membuat suasana panen di sejumlah wilayah Majalaya terasa lebih menggembirakan. Petani memiliki harapan mendapatkan pendapatan yang lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Salah seorang pembeli gabah, Wakil Nais, mengatakan harga gabah saat ini cukup menguntungkan bagi petani.
Menurutnya, harga tertinggi diberikan untuk gabah dengan kualitas super. Gabah dengan kualitas tersebut dapat dibeli dengan harga mencapai Rp8.500 per kilogram.
Sementara untuk gabah dengan kualitas biasa, harganya berada di kisaran Rp8.300 sampai Rp8.400 per kilogram.
“Alhamdulillah petani sekarang ceria. Harganya bagus, hasil per hektare juga bisa 7 sampai 8 ton,” ujar Wakil Nais.
Pembelian Gabah Mayoritas Tunai
Selain harga yang cukup tinggi, aktivitas jual beli gabah di Majalaya juga masih berjalan. Pembelian gabah mayoritas dilakukan secara tunai.
Gabah hasil panen kemudian diangkut dari sawah menuju tempat penggilingan. Jumlah kendaraan yang mengangkut gabah disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas penggilingan.
Wakil Nais menjelaskan, kondisi di tempat penggilingan tidak selalu sama setiap hari.
Ketika kapasitas penggilingan sedang penuh, jumlah truk yang masuk biasanya dibatasi. Sebaliknya, saat stok gabah di tempat penggilingan mulai berkurang, aktivitas pengangkutan bisa kembali meningkat.
Dalam kondisi tertentu, jumlah truk yang masuk bahkan dapat mencapai tiga sampai empat kendaraan.
Hal tersebut menunjukkan aktivitas panen dan distribusi gabah masih berlangsung cukup baik di wilayah tersebut.
Cuaca Mendukung, Banyak Padi Bisa Dipanen dengan Combine
Kualitas hasil panen tahun ini juga disebut cukup baik. Salah satu faktor yang mendukung kondisi tersebut adalah cuaca.
Minimnya hujan membuat tanaman padi tidak banyak mengalami kerusakan. Tanaman juga relatif tetap berdiri sehingga proses panen dapat dilakukan menggunakan mesin combine.
Kondisi tersebut berbeda jika tanaman padi banyak terkena hujan ketika mendekati masa panen. Tanaman yang rebah dapat membuat proses panen menjadi lebih sulit.
“Sekarang bagus, tidak ada yang jelek-jelek. Karena tidak banyak hujan, padi banyak yang berdiri sehingga bisa dipanen menggunakan combine,” kata Wakil Nais.
Penggunaan combine juga membantu mempercepat proses panen. Petani dapat melakukan pemanenan di lahan yang sudah memasuki masa panen tanpa harus sepenuhnya mengandalkan tenaga manual.
Sebagian Besar Wilayah Majalaya Mulai Panen
Ketua Gabungan Kelompok Tani atau Gapoktan, Asep Nace, mengatakan masa panen belum berlangsung serentak di seluruh wilayah.
Menurutnya, belum seluruh wilayah Desa Ciranggon memasuki masa panen. Namun, sebagian besar wilayah Desa Majalaya sudah mulai melakukan panen.
Harga gabah di lapangan juga dipengaruhi oleh kondisi fisik gabah dan tanaman padi.
Gabah dengan kualitas lebih baik tentunya memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Karena itu, harga yang diterima petani bisa berbeda antara satu lahan dengan lahan lainnya.
Asep menyebut harga gabah di wilayah tersebut saat ini dapat mencapai Rp8.400 hingga Rp8.500 per kilogram, tergantung kondisi dan kualitas gabah yang dijual.
Dari sisi produktivitas, hasil panen rata-rata berada di sekitar 7 ton per hektare.
“Alhamdulillah kondisinya bagus. Kalau rata-rata per hektare sekitar 7 ton,” jelas Asep.
Cuaca Jadi Salah Satu Penentu Hasil Panen
Menurut Asep, kondisi cuaca memiliki peran penting terhadap keberhasilan petani dalam satu musim tanam.
Minimnya hujan saat tanaman memasuki fase bunting dinilai membantu proses pengisian bulir padi. Dengan kondisi tersebut, perkembangan tanaman dapat berlangsung lebih optimal hingga memasuki masa panen.
Karena itu, kondisi cuaca yang relatif mendukung pada musim panen Agustus 2026 menjadi salah satu faktor yang membuat hasil panen cukup baik.
Produktivitas sekitar 7 ton per hektare menjadi gambaran bahwa tanaman padi di sejumlah wilayah Majalaya mampu menghasilkan panen yang cukup menggembirakan.
Meski demikian, kondisi setiap lahan tidak selalu sama. Hasil panen tetap dipengaruhi varietas yang digunakan, kondisi tanah, ketersediaan air, perawatan tanaman serta kondisi cuaca selama masa pertumbuhan.
Mayoritas Petani Gunakan Inpari 32
Dari sisi varietas, Asep mengatakan mayoritas petani di wilayah tersebut menanam Inpari 32.
Sebagian benih yang digunakan petani juga berasal dari bantuan pemerintah, termasuk melalui Kementerian Pertanian.
Selain Inpari 32, terdapat sejumlah varietas lain yang ditanam petani. Pemilihan varietas disesuaikan dengan kebutuhan petani serta kondisi lahan yang mereka garap.
Penggunaan varietas yang sesuai menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga produktivitas tanaman padi.
Tidak hanya persoalan benih, pendampingan terhadap petani juga terus dilakukan melalui penyuluh pertanian lapangan atau PPL.
Pendampingan dilakukan melalui kelompok-kelompok tani yang ada di wilayah Kecamatan Majalaya.
Petani Dapat Pendampingan Sebelum Tanam
Asep mengatakan koordinasi tidak hanya dilakukan ketika tanaman sudah memasuki masa panen.
Sebelum proses tanam dimulai, petani juga melakukan koordinasi bersama pihak terkait. Di antaranya dengan UPTD Pertanian Kecamatan Majalaya dan pengelola atau pihak yang berkaitan dengan pengairan.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan air bagi tanaman dapat terpenuhi.
Ketersediaan air menjadi salah satu hal penting dalam proses budidaya padi. Karena itu, komunikasi antara petani, penyuluh dan pengelola irigasi dibutuhkan agar kegiatan pertanian dapat berjalan dengan baik.
Menurut Asep, sinergi antara petani, petugas pertanian dan pengelola pengairan sangat penting untuk menjaga produktivitas pertanian.
Jika kebutuhan dasar tanaman dapat terpenuhi dan pendampingan berjalan dengan baik, petani memiliki peluang untuk mempertahankan hasil panen.
Petani Berharap Harga Gabah Tetap Terjaga
Di tengah harga gabah yang sedang berada pada level cukup tinggi, petani berharap kondisi tersebut dapat terus bertahan.
Asep berharap pemerintah tetap memberikan perhatian terhadap kebutuhan petani, terutama terkait ketersediaan pupuk dengan harga yang terjangkau.
Selain pupuk, kepastian harga gabah juga menjadi perhatian penting bagi petani.
Harga yang baik memberikan dampak langsung terhadap pendapatan petani setelah menjalani satu musim tanam.
Asep membandingkan kondisi harga saat ini dengan beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya, harga gabah pada periode sebelumnya masih berada di kisaran Rp6.500 sampai Rp7.000 per kilogram.
Kini, harga gabah dapat mencapai sekitar Rp8.400 hingga Rp8.500 per kilogram, tergantung kondisi fisik dan kualitas gabah.
“Sekarang hampir Rp8.500 sampai Rp8.400, tergantung fisik padinya. Alhamdulillah ini sangat membantu petani di Kecamatan Majalaya,” pungkasnya.
Panen Agustus Jadi Angin Segar bagi Petani
Kondisi tersebut menjadi kabar positif bagi petani di Kecamatan Majalaya. Harga gabah yang lebih tinggi, ditambah produktivitas yang cukup baik, membuat musim panen Agustus 2026 berlangsung dengan optimisme.
Rata-rata hasil sekitar 7 ton per hektare bahkan dapat mencapai 8 ton per hektare bagi sebagian petani menjadi salah satu faktor yang membuat mereka lebih percaya diri.
Di sisi lain, cuaca yang relatif mendukung juga membantu menjaga kualitas tanaman hingga memasuki masa panen.
Meski belum seluruh wilayah memasuki masa panen secara bersamaan, aktivitas panen sudah berlangsung di sebagian besar wilayah Desa Majalaya. Sementara sejumlah wilayah lainnya masih menunggu tanaman mencapai waktu panen.
Bagi petani, harga gabah menjadi salah satu penentu penting setelah mereka mengeluarkan biaya dan tenaga selama proses budidaya.
Karena itu, harapan agar harga gabah tetap baik, pupuk tersedia dengan harga terjangkau, serta pengairan berjalan lancar menjadi perhatian utama untuk menghadapi musim tanam dan panen berikutnya.
Dengan kondisi harga yang saat ini mencapai Rp8.500 per kilogram, musim panen Agustus 2026 setidaknya membawa kabar yang lebih menggembirakan bagi petani padi di Majalaya, Karawang. (Yopie Iskandar)










