KARAWANG, alexanews.id – Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Singaperbangsa Karawang (Fasilkom Unsika) mempertanyakan kejelasan pembangunan gedung fakultas yang hingga kini belum dapat digunakan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

Ojan Ketua BEM Fasilkom Unsika, menyebut persoalan gedung tersebut telah berlangsung selama hampir tujuh tahun. Mereka menilai belum adanya kepastian mengenai gedung Fasilkom menjadi persoalan serius karena jumlah mahasiswa terus bertambah, sementara fasilitas perkuliahan yang tersedia dinilai belum memadai.

“Sudah hampir tujuh tahun kami menanti. Jadinya gedung Fasilkom ada di mana?” demikian pertanyaan yang disampaikan mahasiswa dalam aksi yang mereka lakukan di lingkungan kampus.

Menurut Ojan, persoalan gedung bermula dari proyek pembangunan yang kemudian tersangkut perkara hukum. Mereka menyebut kondisi bangunan saat ini tidak dapat digunakan untuk mendukung kegiatan perkuliahan.

Selama proses hukum berlangsung, mahasiswa mengaku kerap mendapatkan penjelasan bahwa bangunan tersebut belum dapat dimanfaatkan karena masih berkaitan dengan proses perkara dan menjadi barang bukti.

Namun, mahasiswa kini mempertanyakan kembali alasan tersebut.

Mereka menyebut perkara terkait bangunan tersebut telah selesai sehingga seharusnya terdapat peluang untuk mengajukan pembangunan kembali.

“Kalau sebelumnya jawabannya bangunan ini menjadi barang bukti dan tidak bisa diapakan, sekarang bagaimana? Bangunan itu sudah bebas perkara dan sudah bisa dilakukan pengajuan pembangunan kembali,” ujarnya.

Meski demikian, mahasiswa mengaku belum melihat adanya kepastian mengenai kapan gedung tersebut akan kembali dibangun dan dapat digunakan.

Mereka menilai selama ini informasi yang diterima lebih banyak berupa janji secara lisan.

Mahasiswa mengaku pernah mendapat informasi bahwa kegiatan Fasilkom akan dipindahkan ke Kampus 2. Ada pula informasi mengenai rencana penggunaan gedung tertentu sebagai alternatif.

Namun, menurut mereka, hingga kini belum ada realisasi yang dianggap memberikan solusi konkret.

“Katanya Fasilkom ke Kampus 2, katanya pakai gedung ini, pakai gedung itu. Tapi sampai sekarang nihil,” kata Ojan.

Perkuliahan Masih Menggunakan Gedung Perpustakaan

Kondisi tersebut membuat kegiatan belajar mengajar mahasiswa Fasilkom disebut masih harus menggunakan fasilitas yang tersedia, termasuk gedung perpustakaan.

Mahasiswa menyebut saat ini terdapat sekitar enam ruang kelas teori dan empat laboratorium komputer yang digunakan untuk menunjang kegiatan akademik.

Sementara itu, jumlah mahasiswa Fasilkom disebut telah mencapai lebih dari 900 orang.

Kondisi tersebut kemudian dipertanyakan mahasiswa. Mereka menilai ketersediaan ruang belajar dan laboratorium perlu disesuaikan dengan jumlah mahasiswa dan kebutuhan pembelajaran di fakultas yang memiliki aktivitas akademik berbasis teknologi informasi.

“900 lebih mahasiswa dengan total ruang kelas seperti itu, apakah layak?” ujarnya.

Mahasiswa juga menyinggung Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang antara lain mengatur penyelenggaraan pendidikan tinggi, termasuk pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan akademik serta pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

Menurut mahasiswa, persoalan fasilitas tersebut bukan semata-mata mengenai keberadaan sebuah gedung, melainkan menyangkut hak mahasiswa untuk memperoleh lingkungan belajar yang layak.

Pasang Banner di Gedung Fasilkom

Sebagai bentuk protes, mahasiswa kemudian menggelar serangkaian aksi untuk meminta kejelasan dari pihak rektorat.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memasang banner berisi pesan dan pertanyaan mengenai kejelasan pembangunan gedung Fasilkom.

Banner tersebut dipasang di area gedung yang selama ini mereka pertanyakan.

Namun, mahasiswa mengaku banner tersebut kemudian dicopot oleh pihak rektorat.

Di sisi lain, mahasiswa menyebut belum mendapatkan respons yang mereka harapkan terkait substansi pertanyaan yang disampaikan melalui banner tersebut.

Bagi mahasiswa, pencopotan banner tidak menyelesaikan persoalan utama yang mereka pertanyakan.

Mereka menegaskan aksi tersebut merupakan langkah awal untuk menarik perhatian sivitas akademika terhadap persoalan fasilitas Fasilkom.

“Kami tidak akan tinggal diam. Banner propaganda tersebut merupakan langkah awal kami untuk menarik atensi massa di kampus,” kata mahasiswa.

Mahasiswa Minta Kepastian, Bukan Janji Lisan

Mahasiswa mengatakan tuntutan yang mereka sampaikan sebenarnya sederhana, yakni meminta kepastian mengenai fasilitas pendidikan yang akan digunakan dalam proses perkuliahan.

Mereka juga menyoroti kewajiban mahasiswa dalam membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) setiap semester.

Menurut mereka, kewajiban tersebut semestinya berjalan beriringan dengan penyediaan fasilitas penunjang pendidikan yang memadai.

“Yang kami pertanyakan dan kami inginkan sebenarnya sangat sederhana, yaitu hak kami sebagai mahasiswa yang telah rutin membayar UKT setiap semesternya sebagai kewajiban kami,” ujar mahasiswa.

Mereka berharap pihak universitas tidak lagi memberikan jawaban sebatas rencana atau penyampaian secara lisan, tetapi memberikan informasi yang jelas mengenai status gedung Fasilkom, rencana pembangunan kembali, lokasi perkuliahan, serta target waktu realisasinya.

Bagi mahasiswa, kepastian tersebut penting agar mereka dapat mengetahui bagaimana keberlangsungan kegiatan akademik Fasilkom ke depan.

Mahasiswa juga berharap pihak kampus membuka komunikasi yang lebih jelas dengan mahasiswa sehingga persoalan fasilitas tidak terus berulang dari tahun ke tahun.

“Kami bosan selalu dijanjikan lewat lisan saja,” tegas Ojan.

Serangkaian aksi yang dilakukan mahasiswa pun disebut belum akan berhenti. Mereka menyatakan pemasangan banner merupakan bagian awal dari upaya menyuarakan persoalan fasilitas Fasilkom.

Mahasiswa berharap suara tersebut mendapat perhatian serius dari pihak rektorat dan berujung pada solusi konkret.

Sebab, bagi mereka, persoalan gedung bukan hanya tentang bangunan fisik, melainkan tentang bagaimana proses pendidikan bagi ratusan mahasiswa Fasilkom dapat berlangsung dengan fasilitas yang memadai. (King)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.