MAJALENGKA, AlexaNews.ID – Sebuah kisah inspiratif tentang perubahan lingkungan menjadi kekuatan ekonomi desa terungkap dari Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka. Melalui program Prisma 3.0, mahasiswa Politeknik SCI mendokumentasikan perjalanan River Tubing Cikadongdong yang kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan berbasis alam.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya berfokus pada promosi wisata, tetapi juga menggali nilai sosial dan semangat kolektif warga yang berhasil mengubah sungai biasa menjadi daya tarik wisata berkelas. Sungai Cikadongdong menjadi bukti bahwa kepedulian lingkungan dapat berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat.
Di bawah pendampingan dosen Bagaskara Nur Rochmansyah, M.Pd., tim mahasiswa yang terdiri dari Chilyah Rihab, Wilda Fathul Hidayati, Pipih Rahmawati, Ulya Himmatul Aliya, Anis Shofwatun Nisa, Farhan Maftahul, Fuadi Muhamad Farid, Naya Inayah Zulfa, Ainisyafa Delianda, Muhammad Faza, Bandan Niji Naufal, Dika Andika, Rizki Ramadani, dan Muhammad Ridwan Firdaus, berhasil menelusuri transformasi besar yang terjadi di kaki Gunung Ciremai tersebut.
Perjalanan Cikadongdong dimulai pada 2017. Kala itu, warga setempat menggelar aksi bersih-bersih sungai sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Dari kegiatan sederhana tersebut, muncul gagasan untuk mengelola sungai secara berkelanjutan agar memberi manfaat lebih luas bagi desa.
“Setelah pembersihan sungai, kami mulai berpikir bagaimana caranya agar sungai ini bisa dimanfaatkan tanpa dirusak. Kami mencari referensi, salah satunya dari internet,” ungkap Opik, warga yang terlibat sejak awal pengelolaan.
Seiring waktu, ide tersebut berkembang menjadi unit usaha desa. Saat ini, River Tubing Cikadongdong dikelola secara profesional di bawah naungan BUMDes dan menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal, membuka lapangan kerja sekaligus meningkatkan pendapatan warga.
Daya tarik utama Cikadongdong terletak pada aliran sungainya yang jernih dan dingin, bersumber langsung dari mata air Gunung Ciremai. Trek sungai yang dipenuhi bebatuan alami menawarkan sensasi petualangan yang menantang, menjadikannya favorit pencinta wisata adrenalin.
Meski menyuguhkan tantangan ekstrem, aspek keselamatan tetap diutamakan. Setiap pengunjung mendapat arahan keselamatan dan didampingi pemandu berpengalaman selama aktivitas river tubing berlangsung.
Popularitas Cikadongdong terus meningkat. Tak hanya menarik wisatawan domestik, pesonanya juga mulai dikenal hingga mancanegara. Pengelola pun melengkapi fasilitas penunjang seperti area parkir luas, saung untuk bersantai, serta layanan dokumentasi profesional bagi pengunjung.
Untuk menikmati wahana ini, tersedia beberapa pilihan paket, mulai dari paket khusus seharga Rp30.000 per orang di luar tiket masuk dan dokumentasi, hingga paket reguler lengkap senilai Rp350.000. Syarat utama peserta antara lain tinggi badan minimal 140 sentimeter dan tidak memiliki riwayat penyakit berat seperti jantung atau hipertensi.
Wisata River Tubing Cikadongdong beroperasi setiap hari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, kecuali Senin dan Jumat. Khusus periode libur Natal dan Tahun Baru, operasional dibuka penuh selama dua pekan.
Dalam pengelolaannya, tantangan alam menjadi faktor utama yang harus diantisipasi. “Cuaca menjadi kendala paling sering, tapi sejauh ini masih bisa kami kendalikan dengan prosedur yang ada,” jelas Opik.
Hasil kajian mahasiswa Poltek SCI menunjukkan bahwa Cikadongdong merupakan contoh nyata keberhasilan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Model ini dinilai layak ditiru oleh desa-desa lain di Indonesia yang ingin mengembangkan wisata tanpa mengorbankan kelestarian alam.
Bagi wisatawan yang mendambakan kesegaran air pegunungan, suasana alami, dan tantangan arus sungai, River Tubing Cikadongdong di Desa Payung menawarkan pengalaman yang tak sekadar memacu adrenalin, tetapi juga sarat nilai kebersamaan dan kepedulian lingkungan. [Kirno]










