CIREBON, AlexaNews.ID – Di tengah hiruk pikuk Kota Cirebon, Jalan Karanggetas tetap berdiri sebagai poros sejarah ekonomi yang tak lekang oleh waktu. Ruas jalan ini bukan sekadar penghubung antarwilayah, melainkan simpul penting pergerakan niaga yang telah menghidupi denyut ekonomi masyarakat sejak puluhan tahun silam.

Karanggetas kerap disandingkan dengan kawasan legendaris lain di Indonesia. Jika Jakarta memiliki Glodok sebagai ikon perdagangan lama, maka Cirebon menempatkan Karanggetas pada posisi serupa. Dari generasi ke generasi, jalan ini dikenal sebagai pusat transaksi, interaksi sosial, sekaligus simbol kemajuan ekonomi kota pesisir tersebut.

Di balik kisah rakyat tentang Syekh Magelung Sakti yang melegenda, Karanggetas tumbuh menjadi kawasan komersial prestisius, terutama pada era 1970-an hingga 1990-an. Saat itu, warga dari wilayah Ciayumajakuning berbondong-bondong datang untuk berbelanja kebutuhan utama, mulai dari kain, perhiasan emas, hingga perlengkapan rumah tangga.

Jejeran bangunan tua dengan arsitektur klasik masih menjadi saksi kejayaan masa lalu. Toko-toko yang berdiri rapat menciptakan ekosistem perdagangan yang hidup hampir tanpa jeda, menjadikan Karanggetas sebagai kawasan yang selalu ramai sejak pagi hingga malam hari.

Memasuki tahun 2026, wajah Karanggetas memang berubah. Kehadiran pusat perbelanjaan modern di berbagai sudut kota tak serta-merta menggerus pamornya. Justru, kawasan ini menunjukkan daya tahan sebagai pusat perdagangan konvensional yang tetap diminati masyarakat lintas usia.

Transformasi paling kentara terlihat dari berkembangnya sentra kuliner dan UMKM. Ruang-ruang lama yang dulunya hanya berfungsi sebagai gudang atau toko kini disulap menjadi tempat makan semi-indoor, pujasera, hingga titik kumpul warga dan wisatawan lokal.

Karanggetas kini bukan hanya destinasi belanja, tetapi juga ruang bersantai. Anak muda hingga keluarga menjadikan kawasan ini tempat beristirahat setelah berbelanja, sembari menikmati sajian kuliner sederhana dengan harga terjangkau.

Di sisi lain, identitas Karanggetas sebagai pusat perhiasan emas tetap tak tergoyahkan. Hingga hari ini, kepercayaan masyarakat terhadap toko emas legendaris di kawasan tersebut masih kuat. Karanggetas pun terus dikenal sebagai “sentra emas” Kota Cirebon yang reputasinya melampaui zaman.

Para pedagang pun mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Selain mengandalkan transaksi langsung, banyak pelaku usaha lama kini memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar dan menjaga keberlanjutan usaha di tengah persaingan ketat.

Meski persoalan kemacetan masih menjadi tantangan klasik, perputaran ekonomi di Jalan Karanggetas tetap termasuk yang tertinggi di Kota Udang. Kawasan ini membuktikan bahwa pusat ekonomi lama masih mampu bersaing di era modern.

Pemerintah Kota Cirebon terus melakukan penataan, mulai dari perbaikan trotoar hingga estetika kawasan, guna menjaga kenyamanan pengunjung yang ingin bernapak tilas sejarah sekaligus berbelanja.

Bagi masyarakat, Karanggetas bukan sekadar nama jalan. Ia adalah identitas, kebanggaan, serta motor ekonomi rakyat yang terus berputar, menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan Kota Cirebon.

Salah satu pengunjung, Yani (30), warga Plered, mengaku kerap singgah di kawasan tersebut.
“Tempatnya enak buat santai. Habis belanja bisa istirahat sambil makan. Menunya sederhana, harganya juga ramah di kantong,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Rahmat (40), warga Sumber, Babakan. Ia mengatakan Karanggetas selalu menjadi tujuan setelah berbelanja di pusat grosir sekitar.
“Kalau habis belanja di Toseba, Asia atau Surya, pasti mampir ke sini. Cocok buat istirahat bareng keluarga,” katanya. [Kirno]

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.