PURWAKARTA, alexanews.id – Keberadaan alat berat menjadi salah satu penunjang utama dalam mendukung keberhasilan pembangunan infrastruktur, khususnya pembangunan dan perbaikan jalan. Tanpa dukungan alat berat yang memadai, percepatan pembangunan akan sulit dicapai, terlebih saat pekerjaan dikejar target waktu dan volume pengerjaan yang tinggi.
Kondisi itulah yang kini tengah dihadapi Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Purwakarta. Sejumlah alat berat yang dimiliki dinas tersebut saat ini dinilai sudah memasuki usia tua dan perlu segera diremajakan agar tetap optimal mendukung pekerjaan di lapangan.
Kepala UPTD Peralatan dan Perbengkelan DPUTR Purwakarta, Saepudin, mengatakan sebagian besar alat berat yang saat ini digunakan sebenarnya masih layak pakai. Namun, usia operasional yang sudah melewati satu dekade membuat kinerjanya tidak lagi maksimal untuk mendukung ritme pembangunan infrastruktur yang kini terus dipacu.
“Semua alat berat yang ada saat ini usianya sudah lebih dari 10 tahun. Jadi memang sudah waktunya dilakukan peremajaan agar bisa lebih optimal menunjang pembangunan infrastruktur yang saat ini terus berjalan,” ujar Saepudin, Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, kondisi alat berat yang menua membuat efektivitas pekerjaan di lapangan kerap terganggu. Meski secara fungsi masih dapat digunakan, faktor usia membuat performa alat tidak seprima saat pertama kali dioperasikan.
Akibatnya, ketika pekerjaan infrastruktur dilakukan secara bersamaan di beberapa titik, keterbatasan alat dan penurunan performa menjadi kendala yang cukup terasa. Kondisi ini berpotensi menghambat target pembangunan, terutama saat proyek dikejar waktu penyelesaian.
Saepudin menjelaskan, dari seluruh kebutuhan peremajaan alat berat yang ada, kendaraan angkut menjadi kebutuhan paling mendesak saat ini. Keberadaan kendaraan angkut dinilai sangat vital karena berfungsi memindahkan alat berat ke lokasi pekerjaan.
“Yang paling mendesak saat ini adalah kendaraan alat angkutnya. Itu yang paling dibutuhkan di lapangan,” katanya.
Ia menjelaskan, keterbatasan kendaraan angkut kerap menjadi hambatan teknis saat mobilisasi alat berat menuju lokasi pekerjaan. Dalam kondisi medan tertentu, terutama saat melewati tanjakan curam, kendaraan angkut yang ada sering kali tidak mampu membawa beban secara maksimal.
Akibatnya, alat berat terpaksa harus diturunkan terlebih dahulu agar kendaraan bisa melewati tanjakan. Kondisi tersebut tentu menyita waktu dan membuat proses distribusi alat menjadi kurang efisien.
“Kalau masuk medan dengan tanjakan cukup tajam, kendaraan harus berhenti dulu untuk menurunkan alat berat. Ini tentu menghambat waktu kerja di lapangan,” jelasnya.
Tak hanya itu, keterbatasan jumlah kendaraan angkut juga menjadi kendala saat beberapa proyek dikerjakan secara bersamaan. Ketika alat berat harus dikirim ke lebih dari satu lokasi dalam waktu yang sama, jumlah armada yang tersedia saat ini dinilai belum mencukupi.
Kondisi tersebut membuat distribusi alat berat tidak bisa dilakukan secara cepat, sehingga berdampak langsung terhadap waktu pengerjaan proyek.
“Kalau pekerjaan sedang bersamaan, kendaraan alat angkutnya kurang. Itu yang sering jadi hambatan di lapangan,” tambah Saepudin.
Saat ini, DPUTR Purwakarta masih mengandalkan sejumlah alat berat yang tersedia untuk mendukung pekerjaan infrastruktur. Adapun alat berat yang dimiliki meliputi mesin gilas 6 ton, mesin gilas 4 ton, mesin gilas 2 ton, serta dua unit backhoe.
Meski masih beroperasi, alat-alat tersebut dinilai sudah membutuhkan perhatian serius dari sisi peremajaan. Apalagi, pembangunan infrastruktur di Purwakarta saat ini terus digenjot untuk mendukung konektivitas wilayah dan mempercepat peningkatan kualitas jalan.
Peremajaan alat berat, khususnya kendaraan angkut, dinilai menjadi langkah penting agar target pembangunan dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan tepat waktu. Dengan dukungan armada yang lebih baru dan memadai, pekerjaan infrastruktur di lapangan diharapkan bisa berjalan lebih lancar tanpa terkendala persoalan teknis.
Kebutuhan ini juga menjadi sinyal bahwa modernisasi peralatan di sektor pekerjaan umum tak bisa lagi ditunda. Sebab, di tengah tingginya tuntutan percepatan pembangunan, kesiapan alat menjadi faktor krusial yang menentukan keberhasilan program infrastruktur di lapangan. (Ega Nugraha)










