CIREBON, alexanews.id – Upaya melestarikan seni budaya tradisional terus digaungkan di Kota Cirebon. Semangat itu kembali terlihat dalam pelaksanaan Uji Tari ke-17 yang digelar Sanggar Seni Kencana Ungu dan diikuti oleh 32 penari muda dari berbagai tingkatan.

Kegiatan yang berlangsung pekan lalu itu menjadi salah satu momentum penting dalam proses pembinaan seni tari tradisional di Cirebon. Bagi para peserta didik, uji tari bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi tahap penting untuk mengukur kemampuan sebelum melangkah ke jenjang tarian yang lebih tinggi.

Puluhan peserta tampil penuh percaya diri di hadapan tim penguji, orang tua, serta tamu undangan yang hadir. Mereka menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam menarikan gerak demi gerak tari tradisional dengan penuh penghayatan.

Suasana kegiatan berlangsung meriah dan penuh semangat. Orang tua peserta tampak antusias menyaksikan putra-putri mereka menampilkan hasil latihan yang selama ini diasah di Sanggar Seni Kencana Ungu.

Tak hanya dihadiri keluarga peserta, kegiatan tersebut juga mendapat perhatian dari sejumlah tokoh penting. Hadir dalam kesempatan itu Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon Juju Juhaeriah, SAP., MAP., serta Kepala Bidang Kebudayaan R. Moh Al Bana, S.Pd.I., M.Pd.I.

Kehadiran para pejabat dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon menjadi sinyal bahwa pembinaan seni tradisional tetap menjadi bagian penting dalam upaya menjaga identitas budaya daerah.

Pendiri Sanggar Seni Kencana Ungu, P. Panji Jaya Prawirakusuma, menjelaskan bahwa pelaksanaan uji tari bukan hanya rutinitas tahunan semata. Menurutnya, kegiatan ini menjadi instrumen penting untuk mengukur sejauh mana peserta didik memahami dan menguasai unsur dasar tari tradisional.

Ia menyebut, terdapat tiga unsur utama yang menjadi fokus penilaian dalam uji tari tersebut, yakni Wiraga, Wirama, dan Wirasa.

Wiraga menjadi penilaian terhadap kualitas gerak tubuh penari dalam membawakan setiap ragam gerak. Unsur ini menitikberatkan pada ketepatan teknik, kekuatan gerak, hingga keluwesan tubuh saat menari.

Sementara Wirama menjadi ukuran keselarasan gerak penari dengan iringan musik atau gamelan. Dalam unsur ini, penari dituntut mampu menyelaraskan tempo, ritme, dan dinamika gerak dengan irama pengiring.

Adapun Wirasa menjadi unsur penting yang menilai sejauh mana penari mampu menjiwai karakter dan menampilkan ekspresi sesuai makna tarian yang dibawakan.

“Alhamdulillah, uji tari berjalan lancar. Para peserta sangat antusias. Tim juri memberikan penilaian objektif untuk setiap peserta,” ujar Panji.

Ia menjelaskan, tim juri yang dilibatkan dalam uji tari kali ini merupakan para penggiat seni yang telah berpengalaman di bidang tari tradisional. Mereka adalah Popon Nuraeni, S.Sen., Rucita Dewasa, S.Sen., dan Ratu Sekar Langen Pujiwati, S.M.

Ketiga juri tersebut memberikan penilaian secara objektif terhadap seluruh peserta berdasarkan aspek teknis maupun artistik yang telah ditentukan.

Menurut Panji, hasil dari uji tari ini bukan hanya menentukan kelulusan peserta, tetapi juga menjadi evaluasi penting bagi sanggar dalam proses pembinaan ke depan.

Peserta yang dinyatakan lulus nantinya akan memperoleh sertifikat resmi yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Ketua Sanggar Seni Kencana Ungu.

Sertifikat tersebut bukan sekadar simbol kelulusan. Panji menegaskan bahwa dokumen itu memiliki nilai penting bagi masa depan peserta, terutama dalam mendukung jalur prestasi di bidang pendidikan.

“Sertifikat ini bisa menjadi nilai tambah bagi siswa dalam mengakses jalur prestasi pendidikan, mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi,” jelas Panji.

Ia menambahkan, sertifikat tersebut juga menjadi bentuk penghargaan atas kompetensi peserta dalam menguasai seni tari tradisional sekaligus membawa semangat pelestarian budaya lokal.

Tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah Mamayu Hayuning Buwana, Cirebon Tanana Sirna, yang mengandung makna menjaga keindahan dunia dan meneguhkan bahwa budaya Cirebon tidak akan pernah hilang.

Tema tersebut menjadi pesan kuat bahwa seni tradisional bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga identitas yang harus terus dijaga oleh generasi muda.

Bagi peserta yang dinyatakan lolos, mereka akan melanjutkan ke jenjang tari berikutnya, khususnya dalam kategori Tari Topeng Cirebon.

Pada jenjang lanjutan itu, peserta akan mempelajari tahapan karakter Tari Topeng mulai dari Samba, Tumenggung, Panji, Rumyang, hingga Klana.

Setiap tahapan dalam Tari Topeng memiliki karakter, filosofi, dan tingkat kesulitan berbeda yang menuntut kedalaman teknik serta penjiwaan lebih matang.

Melalui tahapan itu, para peserta tidak hanya belajar menari, tetapi juga memahami nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam setiap karakter Tari Topeng Cirebon.

Panji menilai, proses regenerasi pelaku seni tradisional harus terus dijaga agar warisan budaya tidak terputus di tengah derasnya arus modernisasi.

Karena itu, Sanggar Seni Kencana Ungu terus berkomitmen menjadi ruang belajar sekaligus tempat tumbuhnya generasi muda yang mencintai seni budaya daerah.

Meski acara berlangsung sukses dan mendapat dukungan dari banyak pihak, Panji mengaku sedikit kecewa atas ketidakhadiran Camat Gunungjati dalam kegiatan tersebut.

Ia menyayangkan karena Camat Gunungjati tidak hadir, bahkan tidak mengirimkan perwakilan, padahal Sanggar Seni Kencana Ungu telah lama berkontribusi membina generasi muda di wilayah Mertasinga.

Menurutnya, dukungan moril dari pimpinan wilayah sangat penting bagi pelaku seni, terlebih bagi sanggar yang selama ini konsisten membina anak-anak muda dalam pelestarian budaya tradisional.

“Camat Gunungjati tidak hadir, bahkan tidak ada perwakilan. Padahal sanggar ini berada di wilayah kerjanya. Hal ini sangat kami sayangkan karena dukungan moril dari pimpinan wilayah sangat berarti bagi para pelaku seni,” pungkas Panji.

Terlepas dari hal itu, pelaksanaan Uji Tari ke-17 Sanggar Seni Kencana Ungu tetap menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya tidak pernah berhenti.

Di tengah tantangan zaman, puluhan penari muda Cirebon telah menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki tempat di hati generasi penerus.

Lewat gerak, irama, dan penghayatan, mereka tidak hanya menari, tetapi juga menjaga napas panjang budaya Cirebon agar tetap hidup dan lestari. (Kirno)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.