BEKASI, alexanews.id – Kondisi memprihatinkan dialami Ibu Janah, seorang janda lanjut usia yang tinggal seorang diri di Desa Hegarmanah, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Di usia senjanya, Ibu Janah justru harus bertahan hidup di rumah yang kondisinya nyaris roboh dan membahayakan keselamatannya.

Rumah sederhana yang menjadi satu-satunya tempat berteduh itu kini berada dalam kondisi sangat memprihatinkan. Atap rumah terlihat bocor di banyak titik, dinding bangunan mulai rapuh, dan beberapa bagian rumah tampak miring sehingga rawan ambruk sewaktu-waktu.

Kondisi ini membuat Ibu Janah hidup dalam kecemasan setiap hari, terutama saat hujan turun. Air kerap masuk ke dalam rumah melalui celah atap yang rusak, membuat lantai basah dan memperbesar risiko bangunan roboh.

Dengan suara lirih, Ibu Janah mengaku hanya bisa pasrah menghadapi kondisi tersebut. Di tengah keterbatasan ekonomi dan fisik yang semakin menurun, ia tak mampu lagi memperbaiki rumahnya sendiri.

“Saya hanya berharap ada bantuan untuk memperbaiki rumah ini. Kalau hujan, air masuk ke dalam. Saya sudah tidak kuat memperbaiki sendiri,” ujar Ibu Janah penuh harap.

Kondisi rumah yang ditempati Ibu Janah itu pun memantik keprihatinan warga sekitar. Mereka menilai situasi yang dialami lansia tersebut sudah sangat mendesak dan membutuhkan penanganan cepat dari pemerintah maupun lembaga sosial terkait.

Warga berharap Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bekasi, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bekasi, hingga pemerintah desa segera turun tangan meninjau langsung kondisi Ibu Janah sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.

Pasalnya, rumah tersebut tidak hanya masuk kategori tidak layak huni, tetapi juga sudah mengancam keselamatan penghuninya. Jika dibiarkan lebih lama, rumah itu dikhawatirkan benar-benar roboh dan membahayakan nyawa Ibu Janah.

Sorotan pun mengarah pada lambatnya respons dari pihak terkait. Publik mulai mempertanyakan keseriusan penanganan warga miskin rentan, khususnya lansia yang hidup sebatang kara di Kabupaten Bekasi.

Jangan sampai bantuan baru datang setelah rumah benar-benar ambruk. Kondisi seperti ini seharusnya menjadi prioritas penanganan cepat, bukan menunggu prosedur panjang yang justru menghambat bantuan.

Warga menilai, dalam situasi darurat seperti yang dialami Ibu Janah, pemerintah daerah seharusnya dapat bergerak lebih responsif melalui skema bantuan cepat, baik dari program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), bantuan sosial darurat, maupun intervensi kemanusiaan dari lembaga zakat.

Program Rutilahu sendiri selama ini digadang sebagai solusi bagi warga kurang mampu yang tinggal di hunian tak layak. Namun, kasus Ibu Janah menjadi gambaran bahwa masih ada warga yang diduga luput dari perhatian dan belum tersentuh bantuan secara optimal.

Apalagi Ibu Janah hidup seorang diri tanpa penopang ekonomi yang memadai. Di usia lanjut, kondisi tersebut jelas membuatnya masuk kategori warga rentan yang semestinya mendapat perlindungan sosial lebih cepat dan terukur.

Kisah Ibu Janah menjadi potret nyata bahwa persoalan kemiskinan dan hunian tak layak masih menjadi pekerjaan rumah serius di Kabupaten Bekasi. Di balik geliat pembangunan kawasan industri dan pertumbuhan ekonomi, masih ada warga lansia yang hidup dalam ancaman rumah roboh.

Kini, perhatian publik tertuju pada langkah konkret BAZNAS dan Dinsos Kabupaten Bekasi. Masyarakat menunggu bukti nyata, apakah kedua lembaga tersebut akan segera hadir memberi solusi, atau justru baru bergerak setelah kondisi berubah menjadi bencana.

Harapan warga sederhana, Ibu Janah bisa menjalani masa tuanya dengan aman, tenang, dan tinggal di rumah yang layak tanpa dihantui rasa takut setiap kali hujan datang. (Wnd)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.