KARAWANG, alexanews.id – Di tengah tradisi perayaan ulang tahun yang kerap diwarnai pesta mewah, karangan bunga, dan seremoni serba gemerlap, pengusaha sukses asal Karawang, H. Tulus Widodo, justru memilih jalan berbeda saat merayakan hari jadinya yang ke-58.

Tak ada pesta pora. Tak ada kemewahan berlebihan. Di usia yang ke-58, H. Tulus Widodo memilih merayakan milad dengan cara yang jauh lebih bermakna: memeluk anak yatim, menyantuni mereka, dan menyalurkan ribuan paket sembako kepada masyarakat.

Sabtu, 5 Mei, menjadi hari yang penuh haru bagi ratusan warga yang hadir. Dalam suasana sederhana namun sarat makna, H. Tulus Widodo menggelar aksi sosial besar-besaran dengan menyantuni 175 anak yatim sekaligus menyalurkan 9.200 paket sembako kepada masyarakat di Karawang.

Langkah ini bukan sekadar bentuk syukur atas pertambahan usia. Bagi H. Tulus, ulang tahun adalah momentum untuk mengukur sejauh mana hidupnya membawa manfaat bagi orang lain.

“Selama ini ulang tahun mungkin identik dengan karangan bunga. Tapi bagi saya, jauh lebih baik saya berpelukan dengan anak yatim piatu dan bersedekah langsung kepada masyarakat sekitar,” ujar H. Tulus Widodo dengan suara bergetar menahan haru.

Pernyataan itu sontak mengubah suasana menjadi emosional. Bukan hanya tamu undangan yang tersentuh, para pekerja, relasi, dan warga yang hadir pun ikut larut dalam suasana hangat penuh makna.

Bagi H. Tulus, usia bukan sekadar angka. Bertambahnya umur adalah panggilan untuk memperluas manfaat, memperbesar kepedulian, dan memperkuat rasa syukur.

Di hadapan para karyawan dan tamu undangan, H. Tulus menyampaikan pesan yang menyentuh tentang makna perjuangan, kerja keras, dan keberkahan.

Ia menegaskan bahwa apa yang ia capai hari ini bukanlah hasil kerja seorang diri. Menurutnya, perusahaan yang ia pimpin bisa tumbuh dan berdiri kokoh karena semangat ibadah, loyalitas, dan kerja keras seluruh tim yang selama ini membersamainya.

“Saya berdiri di sini tidak membawa apa-apa kecuali membawa semangat ibadah bapak ibu semua. Saya bangga, berkat perjuangan dan tetesan keringat bapak ibu sekalian, kita bisa bersedekah hari ini. Anak-anak yatim yang hadir di sini adalah berkah dari perjuangan kita bersama,” tuturnya disambut tepuk tangan para hadirin.

Ucapan itu bukan sekadar pidato seremonial. Kalimat H. Tulus menjadi penegas bahwa keberhasilan usaha yang ia bangun selama puluhan tahun tak pernah lepas dari peran para pekerja yang setia membersamai perjalanan bisnisnya.

Ia memandang sedekah bukan semata pemberian personal, tetapi buah dari kerja kolektif yang patut disyukuri bersama.

Karena itu, momentum milad ke-58 ini tak hanya menjadi perayaan pribadi, tetapi juga perayaan nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial.

Dalam kesempatan itu, H. Tulus juga memberikan apresiasi khusus kepada sang istri yang selama ini menjadi penopang di balik layar. Ia menyebut, kelancaran kegiatan santunan dan distribusi bantuan tak lepas dari peran besar istrinya yang bahkan rela terjaga hingga larut malam demi memastikan seluruh rangkaian acara berjalan baik.

Di balik suksesnya acara sosial tersebut, ada kerja sunyi yang tak banyak terlihat, namun menjadi bagian penting dari tersalurkannya kebahagiaan bagi ribuan warga.

“Prinsip saya hanya satu; semua yang ada di hadapan saya harus bermanfaat, tidak boleh ada yang tidak bermanfaat,” tegas H. Tulus.

Prinsip sederhana itu menjadi fondasi hidup sekaligus filosofi yang ia pegang dalam membangun usaha, keluarga, dan hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.

Tak heran jika langkah H. Tulus mendapat apresiasi dari banyak pihak, termasuk dari CEO Alexa Group, Ferry Alexa Dharmawan, yang hadir langsung bersama sang istri, Nurnida Alya Dharmawan.

Dalam sambutannya, Ferry menyampaikan rasa hormat dan kekagumannya kepada sosok H. Tulus Widodo yang ia nilai sebagai figur pengusaha dengan kepedulian sosial tinggi.

“Selamat ulang tahun untuk sosok yang kami sebut sebagai orang baik. Apa yang dilakukan H. Tulus hari ini adalah bukti nyata bahwa kesuksesan bisnis harus berjalan selaras dengan kepedulian sosial,” ujar Ferry Alexa Dharmawan.

Menurut Ferry, langkah H. Tulus adalah contoh nyata bahwa kesuksesan tak seharusnya berhenti pada pencapaian materi. Lebih dari itu, keberhasilan justru menemukan makna sejatinya ketika mampu memberi dampak bagi masyarakat sekitar.

Apresiasi itu terasa relevan mengingat skala bantuan yang dibagikan tidak kecil.

Sebanyak 9.200 paket sembako disalurkan kepada warga di empat desa strategis di Karawang, yakni Desa Margakaya, Kutamekar, Margamulya, dan Wadas.

Penyaluran ribuan paket sembako ini menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan aktivitas usaha yang dibangun H. Tulus.

Bantuan tersebut diharapkan mampu meringankan kebutuhan warga sekaligus menjadi simbol hadirnya dunia usaha yang tak hanya tumbuh untuk keuntungan, tetapi juga untuk kesejahteraan sosial.

Sebagai perantau yang merintis kesuksesan sejak tahun 1992, H. Tulus mengaku perjalanan hidupnya tak selalu mudah. Dari proses panjang itulah ia memahami betul arti perjuangan, kerja keras, dan pentingnya berbagi.

Karena itu, ia berkomitmen untuk terus meningkatkan jumlah bantuan sosial di tahun-tahun mendatang.

Baginya, keberhasilan bukan tentang seberapa besar yang dimiliki, tetapi seberapa luas manfaat yang bisa dibagikan.

Tak hanya berbagi secara materi, H. Tulus juga menitipkan pesan spiritual dalam momentum miladnya kali ini.

Ia mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilannya membangun pondok pesantren, yang ia pandang sebagai salah satu investasi akhirat paling berharga dalam hidupnya.

Di saat yang sama, ia juga menyampaikan harapan besar kepada sang putra agar segera menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an sebagai bekal hidup dan tabungan akhirat keluarga.

Pesan itu menjadi penutup yang menegaskan bahwa bagi H. Tulus, kesuksesan sejati bukan semata soal dunia, tetapi juga tentang menyiapkan warisan nilai untuk kehidupan setelahnya.

Rangkaian kegiatan milad ke-58 ini dimulai sejak dini hari dengan salat Subuh berjamaah, lalu dilanjutkan dengan doa bersama, santunan anak yatim, hingga penyaluran bantuan sosial.

Semua berlangsung khidmat, hangat, dan penuh rasa syukur.

Di usia ke-58, H. Tulus Widodo tak memilih dirayakan dengan kemewahan. Ia justru memilih memeluk mereka yang kehilangan kasih sayang, menguatkan yang membutuhkan, dan berbagi kepada masyarakat.

Di situlah ulang tahun menemukan makna terbaiknya: bukan tentang bertambah usia, tetapi tentang bertambah manfaat. (M. Karya)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.