KARAWANG, alexanews.id – Di ujung pesisir utara Kabupaten Karawang, tepatnya di Desa Cemarajaya, Dusun Pisangan RT 001/RW 004, Kecamatan Cibuaya, berdiri sebuah sekolah dasar negeri yang kondisinya jauh dari kata layak. SDN Cemarajaya III kini menjadi sorotan warga setelah kondisi bangunannya dinilai membahayakan keselamatan siswa dan tenaga pengajar.
Sekolah yang berada di kawasan terpencil dekat bibir Pantai Utara itu tampak seperti bangunan yang luput dari perhatian pemerintah. Struktur gedung terlihat rapuh, kayu penyangga lapuk dimakan usia, dinding kusam penuh retakan, hingga atap berlubang yang membuat ruang kelas bocor saat hujan turun.
Pemandangan memprihatinkan tersebut membuat aktivitas belajar mengajar berlangsung dalam rasa waswas. Puluhan siswa yang setiap hari datang ke sekolah harus belajar di ruang kelas yang sewaktu-waktu dikhawatirkan bisa roboh.
Salah satu siswi bernama Saqila mengaku sering merasa takut saat mengikuti pelajaran di kelas. Dengan nada lirih, ia berharap sekolahnya segera diperbaiki agar dirinya dan teman-temannya bisa belajar dengan nyaman seperti anak-anak di sekolah lain.
“Gedung sekolah kami sudah rusak dan butut sekali pak. Rasanya tidak nyaman belajar di sini, bahkan saya sering takut kalau bangunan ini roboh tiba-tiba. Harapan saya cuma satu, semoga sekolah ini segera diperbaiki supaya kami bisa belajar dengan aman dan nyaman,” ungkap Saqila.
Keluhan serupa juga datang dari warga sekitar. Mereka mengaku kecewa karena kondisi sekolah terus memburuk dari tahun ke tahun tanpa ada perubahan berarti.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa selama ini hampir tidak pernah terlihat adanya perawatan gedung sekolah, bahkan sekadar pengecatan ulang.
“Harapan kami sederhana. Jalan menuju sekolah diperbaiki dan bangunan yang sudah tidak layak ini dibangun ulang total. Dari dulu belum pernah terlihat ada perbaikan serius. Catnya kusam, tembok retak, bangunannya kotor dan makin rusak,” ujarnya.
Sorotan publik semakin tajam setelah muncul informasi mengenai penggunaan Dana BOS Reguler Tahun 2026 yang terpampang di papan informasi sekolah.
Dalam data tersebut tercatat SDN Cemarajaya III menerima total anggaran Dana BOS sebesar Rp72.800.000 untuk satu tahun anggaran. Dana itu terbagi dalam dua tahap masing-masing Rp36.400.000 dengan jumlah siswa sebanyak 80 anak.
Namun yang menjadi perhatian adalah pada pos pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah. Dalam rincian anggaran tertulis tersedia dana sebesar Rp6.145.780, tetapi pada kolom realisasi tercantum nihil atau tidak ada penggunaan sama sekali.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Pasalnya, bangunan sekolah terlihat rusak berat dan membutuhkan penanganan segera, tetapi anggaran pemeliharaan justru disebut tidak terealisasi.
Selain itu, beberapa pos anggaran lainnya juga memancing tanda tanya. Anggaran penilaian pembelajaran yang mencapai Rp11,6 juta tercatat hanya terealisasi Rp6.500. Sementara pengembangan perpustakaan dari anggaran Rp9,1 juta baru digunakan sekitar Rp3,8 juta.
Padahal dalam petunjuk teknis Dana BOS, sekolah diwajibkan mengalokasikan sebagian anggaran untuk menjaga dan merawat fasilitas pendidikan agar tetap aman digunakan siswa.
Dalam papan informasi tersebut tercantum susunan Tim Manajemen BOS sekolah, yakni Kepala Sekolah Endeh Kursiyah S.Pd, Bendahara Anih S.Pd, dan Komite Sekolah Sodikun.
Sejumlah warga pun mendesak agar penggunaan anggaran tersebut diaudit secara terbuka demi memastikan dana benar-benar digunakan sesuai kebutuhan sekolah.
Saat dikonfirmasi di lokasi, salah satu guru menjelaskan bahwa kepala sekolah yang lama telah berganti dan kepala sekolah yang baru disebut sudah mengajukan proposal perbaikan ke pemerintah daerah.
“Memang kondisinya begini pak. Tapi Ibu Kepala Sekolah sudah mengajukan proposal perbaikan ke Pemerintah Kabupaten, tinggal menunggu kepastian saja,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Cibuaya, H. Catong, menyebut SDN Cemarajaya III masuk dalam rencana merger dan relokasi.
Menurutnya, sebagian besar warga di wilayah tersebut telah direlokasi ke Desa Sekong karena kawasan itu kini didominasi area tambak dan empang.
“SDN Cemarajaya III rencananya akan digabungkan dan direlokasi. Ada dua program yang sedang disiapkan. Penduduk di sini sebagian besar sudah pindah ke Desa Sekong, tinggal sedikit warga saja,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.
Meski demikian, kondisi itu tetap menimbulkan kekhawatiran besar. Sebab hingga kini masih ada sekitar 80 siswa yang harus menjalani kegiatan belajar di gedung yang dinilai berbahaya.
Warga mempertanyakan apakah rencana merger sekolah menjadi alasan bangunan tersebut tidak lagi mendapatkan perhatian perawatan.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Karawang, Disdikpora, hingga Inspektorat segera turun tangan melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
Selain audit penggunaan Dana BOS, warga juga meminta solusi nyata agar para siswa mendapatkan hak pendidikan yang aman dan layak, baik melalui renovasi darurat maupun relokasi sekolah ke tempat yang lebih aman.
Di tengah kondisi bangunan yang nyaris roboh, harapan anak-anak pesisir Karawang sebenarnya sangat sederhana: mereka hanya ingin belajar tanpa rasa takut. (Ahmad Saleh)










