BEKASI, alexanews.id – Puskesmas Lemah Abang bergerak cepat menyikapi keluhan warga terkait meningkatnya populasi nyamuk di Desa Karangsari, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Langkah antisipasi dilakukan melalui sosialisasi intensif pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) setelah muncul satu kasus positif DBD di wilayah tersebut.
Kegiatan edukasi yang melibatkan perangkat desa dan masyarakat itu menjadi bagian dari upaya serius menekan penyebaran penyakit yang setiap tahun masih menghantui sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi.
Sebelum sosialisasi dilakukan, petugas kesehatan lebih dulu turun langsung ke lapangan untuk melakukan survei jentik di sejumlah rumah warga yang berada di area terdampak.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya banyak jentik nyamuk yang berkembang biak di lingkungan rumah warga. Temuan tersebut memperkuat indikasi bahwa Desa Karangsari termasuk wilayah rawan DBD karena kasus serupa terus muncul setiap tahun.
Petugas kesehatan menilai kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat masih menjadi faktor utama berkembangnya nyamuk penyebab DBD.
Dalam sosialisasi tersebut, Puskesmas Lemah Abang juga meluruskan pemahaman masyarakat mengenai fogging atau pengasapan yang selama ini dianggap sebagai solusi utama untuk membasmi nyamuk.
Petugas menjelaskan bahwa fogging hanya mampu membunuh nyamuk dewasa dan tidak efektif membasmi jentik yang tersembunyi di tempat penampungan air maupun sudut rumah warga.
Selain itu, fogging baru akan efektif apabila sebelumnya dilakukan pemberantasan sarang nyamuk secara massal dan dilakukan dalam dua siklus dengan jarak waktu sekitar dua minggu guna memutus rantai perkembangbiakan nyamuk baru.
Karena itu, masyarakat diminta mulai mengubah pola pikir bahwa setiap kasus DBD harus selalu diselesaikan dengan fogging.
Puskesmas menekankan bahwa langkah paling penting dalam pencegahan DBD adalah melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin dan mandiri.
Warga juga diimbau aktif menjalankan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta melakukan berbagai langkah tambahan untuk mencegah gigitan nyamuk.
Dalam penanganan kasus DBD, petugas menjelaskan terdapat tiga tahapan utama yang harus dilakukan secara berurutan.
Tahap pertama adalah pemantauan jentik secara berkala di lingkungan warga. Selanjutnya dilakukan sosialisasi dan edukasi mengenai pola hidup bersih serta pencegahan DBD. Sementara fogging menjadi opsi terakhir apabila memang dibutuhkan berdasarkan hasil investigasi lapangan.
Petugas juga mengingatkan warga agar mampu membedakan jenis nyamuk biasa dengan nyamuk penyebab DBD, yakni Aedes aegypti.
Nyamuk ini umumnya berkembang biak di dalam rumah atau tempat-tempat bersih yang tergenang air, berbeda dengan nyamuk kebun biasa yang banyak ditemukan di area luar rumah.
Selain memberikan edukasi, Puskesmas Lemah Abang meminta masyarakat segera melapor apabila ada anggota keluarga yang mengalami gejala mengarah ke DBD dan telah menjalani pemeriksaan laboratorium.
Jika hasil laboratorium menunjukkan positif DBD, tim medis akan langsung turun ke lokasi untuk melakukan survei faktor risiko lingkungan, pemeriksaan jentik, hingga edukasi langsung kepada warga sekitar.
Langkah cepat tersebut dinilai penting untuk mencegah penyebaran kasus lebih luas, terutama saat kondisi cuaca yang mendukung perkembangan nyamuk.
Kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri Kepala Desa Karangsari, Bao Umbara, bersama jajaran perangkat desa dan masyarakat setempat.
Dalam kesempatan itu, warga diajak meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sebagai langkah utama mencegah munculnya kasus DBD baru.
Kolaborasi antara petugas kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan mampu menekan angka penyebaran DBD di wilayah Cikarang Timur yang selama ini masih menjadi perhatian setiap musim penghujan tiba. (Wnd)










