SERGAI, alexanews.id – Suasana perkuliahan di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan, khususnya di Kampus IV Tuntungan, tampak tidak seperti biasanya pada Jumat siang, 17 April 2026. Di saat waktu kuliah umumnya identik dengan menurunnya konsentrasi, justru para mahasiswa terlihat antusias mengikuti materi yang disampaikan di dalam kelas.

Puluhan mahasiswa tampak fokus memperhatikan penjelasan Amri Abdi, seorang wartawan senior yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumatera Utara. Kehadirannya sebagai praktisi menghadirkan nuansa baru dalam pembelajaran, terutama dalam bidang penulisan jurnalistik.

Dalam sesi tersebut, Amri membagikan pengalaman sekaligus teknik penting dalam dunia jurnalistik, khususnya terkait penulisan lead. Ia menekankan bahwa lead memiliki peran vital dalam menarik perhatian pembaca sejak awal.

Menurutnya, lead bukan hanya sekadar kalimat pembuka, tetapi merupakan pintu masuk yang menentukan apakah pembaca akan melanjutkan membaca sebuah tulisan atau tidak. Oleh karena itu, diperlukan ketajaman rasa dan kemampuan merangkai kata agar lead mampu menggugah emosi.

Lebih lanjut, Amri menjelaskan bahwa penulisan feature membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan berita straight news. Dalam feature, penulis dituntut mampu membangun suasana, menghadirkan detail, serta menyusun alur cerita yang mengalir dan hidup.

Kegiatan bertajuk “Kuliah Bersama Praktisi” ini merupakan bagian dari program pembelajaran yang digagas oleh dosen pengampu mata kuliah Teknik Menulis Feature dan Opini, Reviza Putra Syarif. Program ini secara rutin menghadirkan praktisi untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa.

Reviza menyampaikan bahwa kehadiran praktisi di ruang kelas menjadi langkah strategis untuk menjembatani teori dan praktik. Mahasiswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga mendapatkan gambaran langsung tentang dinamika dunia jurnalistik di lapangan.

Ia berharap, melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan menulis yang tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki kekuatan emosional dan nilai kedalaman.

Bagi mahasiswa, sesi ini menjadi pengalaman berharga. Mereka tidak hanya mempelajari teknik menulis, tetapi juga memahami pentingnya empati dan kepekaan dalam menyusun sebuah karya jurnalistik.

Kelas tersebut pada akhirnya tidak sekadar membahas teori penulisan, melainkan juga membuka wawasan tentang peran penulis sebagai penyampai pesan yang mampu memengaruhi cara pandang pembaca.

Dari ruang kelas sederhana di Kampus IV Tuntungan, para mahasiswa diharapkan membawa pulang bekal penting untuk menghadapi dunia jurnalistik yang penuh tantangan. Tidak hanya sebagai calon wartawan, tetapi juga sebagai penulis yang mampu menyampaikan gagasan secara kuat dan bermakna. (Sutrisno)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.