PURWAKARTA, alexanews.id – Kasus viral yang memperlihatkan perilaku tidak pantas sejumlah siswa terhadap seorang guru di Purwakarta mendapat perhatian serius dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia mengaku prihatin setelah menerima laporan lengkap dari Dinas Pendidikan terkait kronologi kejadian tersebut.

Menurut Dedi Mulyadi, pihak sekolah telah mengambil langkah awal dengan memanggil orang tua siswa yang terlibat. Dalam pertemuan tersebut, orang tua disebut menunjukkan penyesalan mendalam atas tindakan anaknya yang dinilai telah melanggar norma kesopanan di lingkungan pendidikan.

Sebelumnya, sekolah menjatuhkan sanksi berupa skorsing selama kurang lebih dua hingga tiga minggu disertai pembinaan di rumah. Namun, Dedi Mulyadi memberikan pandangan berbeda terkait bentuk hukuman yang dinilai lebih efektif untuk pembinaan karakter siswa.

Ia menyarankan agar sanksi tidak hanya bersifat administratif seperti skorsing, melainkan diganti dengan aktivitas yang memiliki nilai edukatif. Bentuk hukuman yang diusulkan antara lain membersihkan lingkungan sekolah, menyapu halaman setiap hari, hingga merawat kebersihan toilet.

Menurutnya, durasi hukuman tersebut dapat disesuaikan dengan perkembangan perilaku siswa, mulai dari satu bulan hingga tiga bulan. Pendekatan ini diyakini mampu memberikan efek jera sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab dan disiplin.

Dedi Mulyadi menegaskan bahwa setiap bentuk sanksi di lingkungan pendidikan harus memiliki tujuan utama, yakni membangun karakter. Ia menilai hukuman yang hanya bersifat menghukum tanpa edukasi tidak akan memberikan perubahan signifikan bagi siswa.

“Setiap hukuman yang diberikan harus memberi manfaat bagi pembentukan karakter,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa siswa yang terlibat tetap merupakan anak-anak yang membutuhkan bimbingan, baik dari orang tua maupun guru. Oleh karena itu, pendekatan pembinaan dinilai lebih penting dibanding sekadar memberikan sanksi keras.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diterima redaksi, insiden tersebut bermula dari ketidakpuasan siswa SMAN 1 Purwakarta terhadap nilai tugas praktik kelompok. Dalam kegiatan tersebut, satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan tema berbeda, seperti seni tari hingga memasak.

Ketidakpuasan terhadap hasil penilaian diduga memicu reaksi emosional sejumlah siswa hingga berujung pada tindakan tidak pantas terhadap guru di dalam kelas. Video kejadian itu kemudian tersebar luas di media sosial dan menuai kecaman publik. (Ega Nugraha)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.