KARAWANG, alexanews.id – Pemerintah terus menggencarkan upaya percepatan eliminasi penyakit kusta di Kabupaten Karawang. Salah satu wilayah yang kini menjadi fokus penanganan adalah Desa Pasirjengkol, Kecamatan Majalaya, karena angka kasus kusta di daerah tersebut dinilai lebih tinggi dibanding desa lain di wilayah kerja Puskesmas Majalaya.
Langkah penanganan dilakukan melalui kegiatan sosialisasi penyakit kusta yang melibatkan berbagai unsur masyarakat mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat desa, kader kesehatan hingga perwakilan warga.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit kusta, mulai dari penyebab, cara penularan, pencegahan hingga pengobatan.
Perawat Puskesmas Majalaya sekaligus pemegang program kusta, Muhammad Iyan Hermawan mengatakan, Desa Pasirjengkol dipilih sebagai lokasi prioritas karena tingginya angka temuan kasus dibanding desa lain.
“Karena berdasarkan kasus, di Pasir Jengkol jumlahnya lebih banyak dibanding desa-desa lain. Selain itu ada penunjukan juga dari Dinas Kesehatan sehingga Pasir Jengkol menjadi lokasi prioritas kegiatan,” ujarnya, Kamis 7 Mei 2026.
Menurut Iyan, pemerintah saat ini menargetkan eliminasi kusta pada tahun 2030. Target tersebut diharapkan dapat tercapai dengan menekan munculnya kasus baru di tengah masyarakat.
“Targetnya nanti di tahun 2030 tidak ditemukan lagi kasus kusta baru. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan tidak ada lagi penambahan kasus baru di masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan, salah satu langkah penting dalam penanganan kusta adalah memperkuat edukasi kepada masyarakat. Oleh sebab itu, pihaknya melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat dan kader kesehatan yang selama ini aktif berinteraksi langsung dengan warga.
“Kami melakukan sosialisasi terlebih dahulu mengenai apa itu kusta, bagaimana cara pencegahan dan penanganannya. Informasi ini kami sampaikan kepada tokoh masyarakat dan kader karena mereka yang langsung berada di lapangan untuk memantau kondisi warga,” jelasnya.
Selain memberikan edukasi, petugas kesehatan juga menegaskan bahwa stigma negatif terhadap penderita kusta harus dihilangkan. Selama ini masih banyak masyarakat yang menganggap penyakit kusta sebagai kutukan atau penyakit keturunan.
Padahal, menurut Iyan, kusta merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan dapat disembuhkan apabila ditangani sejak dini.
“Kusta itu penyakit yang disebabkan oleh kuman dan menyerang seseorang ketika daya tahan tubuhnya melemah. Penyakit ini bisa diobati dan pengobatannya gratis,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pasirjengkol, Tati Maryati menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan Dinas Kesehatan dan Puskesmas Majalaya terhadap kondisi kesehatan masyarakat di wilayahnya.
Ia menilai kegiatan sosialisasi tersebut sangat penting untuk meningkatkan kesadaran warga agar tidak takut memeriksakan diri apabila mengalami gejala penyakit kusta.
“Hari ini ada sosialisasi kusta dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas Majalaya yang diikuti tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat desa dan perwakilan masyarakat Desa Pasir Jengkol,” ujarnya.
Tati mengatakan, pemerintah desa bersama tenaga kesehatan juga akan melakukan screening lanjutan guna mengetahui jumlah pasti warga yang terpapar penyakit kusta.
Langkah itu dinilai penting agar penanganan dan pengobatan dapat dilakukan secara maksimal hingga pasien dinyatakan sembuh.
“Kami akan melakukan screening lagi. Setelah diketahui berapa yang terjangkit, maka akan difokuskan untuk pengobatan sampai sembuh,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak menutup diri maupun merasa malu ketika menemukan gejala penyakit kusta. Menurutnya, keterbukaan masyarakat menjadi kunci penting dalam upaya percepatan penanganan.
“Jangan takut dan jangan menutup diri. Jika ada tanda-tanda penyakit kusta segera laporkan kepada petugas kesehatan ataupun kader yang ada di lingkungan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, Pemerintah Desa Pasirjengkol berharap target “zero kusta” dapat tercapai dalam beberapa tahun ke depan. Selain menekan angka kasus baru, pemerintah juga ingin menghapus stigma negatif terhadap penderita kusta sehingga masyarakat dapat hidup lebih sehat dan saling mendukung dalam proses pengobatan. (Yopie Iskandar)










