KARAWANG, alexanews.id – SMAN 5 Karawang terus memperkuat pendidikan karakter bagi para siswa melalui pelaksanaan program kokulikuler yang dikemas kreatif, edukatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.

Program tersebut menghadirkan berbagai aktivitas berbasis lingkungan dan budaya tradisional yang bertujuan membangun kepedulian sosial, meningkatkan kerja sama tim, sekaligus mengurangi ketergantungan siswa terhadap penggunaan gadget.

Ketua Proyek Kokulikuler SMAN 5 Karawang, Alfiyah Fitriyanti menjelaskan, program kokulikuler merupakan pengembangan dari program P5 yang sebelumnya telah diterapkan di lingkungan sekolah.

Meski kini hadir dengan nama baru, semangat utamanya tetap sama, yakni membentuk karakter siswa agar lebih peduli terhadap lingkungan, budaya, dan kehidupan sosial di sekitarnya.

“Kalau kokulikuler itu menanamkan karakter kepada anak-anak. Untuk kelas 10 temanya gaya hidup berkelanjutan, di mana siswa belajar memilah sampah, mengolah sampah, hingga nantinya hasilnya bisa diperjualbelikan sehingga sampah memiliki nilai jual,” ujarnya.

Dalam program tersebut, siswa kelas 10 tidak hanya mendapatkan teori mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga praktik langsung bagaimana memilah sampah organik dan anorganik secara benar.

Mereka juga diajak memahami bahwa limbah rumah tangga maupun sampah sekolah masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bernilai ekonomis.

Hasil pengolahan sampah para siswa rencananya akan dipamerkan dalam kegiatan yang digelar pada Rabu, 12 Mei 2026 mendatang.

Sementara itu, siswa kelas 11 mendapatkan pengalaman berbeda melalui pengenalan kaulinan budak atau permainan tradisional Sunda.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa membuat sendiri alat permainan tradisional seperti egrang dan bakiak yang nantinya akan diperlombakan sebagai bagian dari implementasi pembelajaran kolaboratif.

Menurut Alfiyah, pengenalan permainan tradisional menjadi salah satu cara efektif untuk mempererat interaksi sosial antarsiswa yang selama ini mulai berkurang akibat tingginya penggunaan perangkat digital.

“Anak-anak sekarang awalnya lebih banyak bermain gadget. Dengan kegiatan ini mereka jadi tahu bahwa ada permainan yang tidak harus menggunakan handphone, bahkan lebih membangun kekompakan dan kerja sama,” katanya.

Program kokulikuler sendiri dilaksanakan setiap semester sekali dengan konsep pembelajaran berbasis aksi nyata.

Sebelum praktik dilakukan, siswa terlebih dahulu mendapatkan materi mengenai pentingnya menjaga lingkungan, memilah sampah, hingga memahami nilai budaya lokal melalui permainan tradisional.

Setelah tahap pengenalan selesai, para siswa masuk ke tahap implementasi dengan membuat berbagai karya dan melakukan praktik langsung sesuai tema masing-masing kelas.

Untuk siswa kelas 11 misalnya, mereka mulai merancang egrang dari bahan sederhana sekaligus mempelajari tata cara bermain dan nilai kebersamaan yang terkandung dalam permainan tradisional tersebut.

Sedangkan siswa kelas 10 mempraktikkan proses pengolahan sampah dengan pendekatan kreatif agar limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat memiliki manfaat baru.

Pihak sekolah berharap seluruh nilai positif yang diperoleh siswa selama mengikuti kokulikuler dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya saat kegiatan berlangsung di sekolah.

“Harapannya mereka mengimplementasikan dalam keseharian. Jangan hanya saat kokulikuler membawa tumbler, tapi di hari biasa juga diterapkan. Setelah menjadi siswa SMAN 5 Karawang, mereka bisa membawa kebiasaan baik itu ke depannya,” pungkas Alfiyah.

Program kokulikuler tersebut menjadi salah satu upaya sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan keterampilan sosial siswa di era digital. (Yopie Iskandar)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.