CIREBON, alexanews.id – Jalan Pagongan di Kota Cirebon selama ini dikenal sebagai denyut perdagangan tua yang tak pernah benar-benar tidur. Deretan toko bangunan, aroma kuliner khas, hingga lalu-lalang warga menjadikan kawasan ini hidup dari pagi hingga malam hari.
Namun siapa sangka, di balik hiruk-pikuk kawasan Pecinan tersebut, tersimpan jejak sejarah besar yang pernah memberi warna penting bagi arsitektur Indonesia.
Di salah satu sudut kecil kawasan itu, tepatnya di Gang Bie Liong, sejarah panjang tentang industri tegel legendaris dan warisan intelektual sebuah keluarga besar masih membekas hingga kini.
Nama Gang Bie Liong mungkin kini lebih akrab di telinga masyarakat sebagai lokasi penjual nasi lengko, tahu tek-tek, hingga ragam kuliner malam khas Cirebon. Tetapi menurut penggiat budaya Cirebon, Jeremy Huang Wijaya, nama tersebut sesungguhnya berasal dari sebuah perusahaan besar yang pernah berjaya pada masanya, yakni Pabrik Tegel Bie Liong.
Pabrik ini bukan sekadar usaha keluarga biasa. Pada awal abad ke-20, Bie Liong menjadi salah satu produsen tegel paling terkenal dengan kualitas premium yang mampu bertahan puluhan bahkan ratusan tahun.
Didirikan sekitar tahun 1910 oleh Tjiong A Teng bersama putranya, Tjiong Afat, pabrik tersebut berkembang pesat dan menjadi kebanggaan masyarakat Cirebon kala itu.
Produk tegel buatan Bie Liong dikenal memiliki karakter kuat, motif elegan, serta ketahanan luar biasa. Bahkan hingga sekarang, sejumlah bangunan tua yang masih menggunakan tegel produksi Bie Liong tetap terlihat kokoh dan estetik.
Salah satu bukti paling monumental dari kualitas tegel tersebut adalah penggunaannya di Gedung Perundingan Linggarjati.
Bangunan bersejarah yang menjadi saksi diplomasi penting Indonesia dan Belanda pada tahun 1946 itu ternyata menggunakan tegel produksi dari Gang Bie Liong, Jalan Pagongan, Cirebon.
Keberadaan tegel itu menjadi saksi bisu bagaimana sebuah industri lokal dari lorong kecil di Cirebon mampu memberi kontribusi besar terhadap bangunan bersejarah nasional.
Nama Bie Liong pun perlahan dikenal luas tidak hanya di Cirebon, tetapi juga di berbagai kota lain di Indonesia.
Sayangnya, setelah bertahan selama puluhan tahun dan melewati berbagai perubahan zaman, Pabrik Tegel Bie Liong akhirnya berhenti beroperasi pada tahun 1995.
Meski pabriknya telah tiada, jejak sejarah dan warisan keluarga pendirinya ternyata terus hidup hingga sekarang.
Keluarga besar Tjiong A Teng diketahui melahirkan sejumlah tokoh penting yang ikut berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Salah satunya adalah Permadi Budiatma, seorang aktivis Tionghoa ternama di Cirebon yang dikenal aktif pada era 1970 hingga 2000-an.
Selain itu, ada pula sosok besar bernama WP Zhong atau Tjiong Wan Piao, putra Tjiong Afat sekaligus cucu dari Tjiong A Teng.
WP Zhong dikenal luas sebagai arsitek visioner yang memiliki pengaruh besar terhadap wajah modern Jakarta.
Namanya tercatat sebagai pendiri Fakultas Arsitektur Universitas Tarumanagara, salah satu institusi pendidikan arsitektur paling berpengaruh di Indonesia.
Tak hanya itu, ketika menjabat sebagai Kepala Dinas Pemugaran pada masa Gubernur Ali Sadikin, WP Zhong turut berada di balik pembangunan berbagai ikon penting ibu kota.
Beberapa karya dan proyek yang melibatkan pemikirannya antara lain pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM), Gedung Kesenian Jakarta, Basket Hall Senayan, hingga sejumlah gedung pemerintahan dan jembatan penyeberangan di Jakarta pada era 1970-an.
Kontribusinya membuat nama keluarga Bie Liong tak hanya dikenang sebagai pengusaha tegel, tetapi juga sebagai bagian penting dari sejarah arsitektur Indonesia.
Kini, meski generasi pendirinya telah tiada, kisah besar itu masih hidup melalui nama gang kecil di kawasan Pagongan.
Nama “Bie Liong” menjadi penanda bahwa sebuah lorong sederhana di Kota Cirebon pernah melahirkan produk berkualitas tinggi dan tokoh-tokoh yang memberi pengaruh besar bagi negeri ini.
Bagi keluarga besar keturunannya, termasuk Lili dan Endang Prihatin Sembada, Gang Bie Liong bukan sekadar alamat atau kawasan tempat tinggal.
Lebih dari itu, nama tersebut merupakan simbol dedikasi, kerja keras, dan kebanggaan lintas generasi.
Di tengah perkembangan modernisasi kota, sejarah seperti ini menjadi pengingat bahwa Cirebon bukan hanya kaya kuliner dan perdagangan, tetapi juga menyimpan warisan budaya serta kontribusi besar terhadap perjalanan bangsa.
Jalan Pagongan hari ini mungkin terlihat sebagai kawasan ekonomi biasa. Namun di balik tembok-tembok tua dan gang sempitnya, tersimpan kisah tentang kejayaan industri lokal, kecintaan terhadap estetika bangunan, serta lahirnya tokoh-tokoh besar yang ikut membentuk wajah Indonesia modern. (Kirno)










