BEKASI, alexanews.id – Ratusan hektare lahan pertanian di Kabupaten Bekasi menghadapi ancaman kekeringan akibat kondisi sungai alam yang mengalami pendangkalan parah. Para petani di Kecamatan Kedungwaringin mendesak pemerintah segera melakukan normalisasi sungai guna mencegah kerugian yang lebih besar dan potensi gagal panen.

Keluhan tersebut datang dari petani di Desa Karangsambung dan Karangharum, Kecamatan Kedungwaringin, serta Desa Tanjung Baru, Kecamatan Cikarang Timur. Mereka menyoroti kondisi sungai alam sepanjang kurang lebih 3 kilometer yang kini dipenuhi sedimentasi dan tumpukan sampah.

Tidak hanya itu, keberadaan besi penyangga kabel listrik yang berada di tengah aliran sungai juga disebut menjadi salah satu penyebab utama terganggunya distribusi air menuju area persawahan.

Akibat penyumbatan tersebut, kondisi di wilayah hulu dan hilir sungai menjadi sangat kontras. Kawasan hulu yang berada di Kecamatan Cikarang Timur kerap mengalami banjir saat debit air meningkat, sedangkan wilayah hilir di Kecamatan Kedungwaringin justru mengalami kekurangan pasokan air untuk kebutuhan pertanian.

Salah seorang petani dari Desa Karangsambung mengungkapkan bahwa besi penyangga kabel yang melintang di aliran sungai membuat arus air tidak dapat mengalir secara maksimal menuju lahan pertanian warga.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat suplai air yang berasal dari wilayah Desa Tanjung Baru tidak mampu menjangkau area persawahan di bagian hilir. Akibatnya, banyak petani kesulitan memperoleh air untuk mengairi tanaman mereka.

Permasalahan itu semakin diperparah dengan rusaknya sejumlah infrastruktur pengairan yang berada di sepanjang jalur sungai. Salah satunya adalah pintu air BRB 4 yang disebut sudah dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan perbaikan segera.

Gangguan aliran air ini memberikan dampak langsung terhadap sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat setempat.

Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya sekitar 220 hektare lahan sawah terdampak kekurangan air. Di Desa Karangsambung saja, sekitar 200 hektare sawah mengalami kesulitan pasokan air, sementara sekitar 20 hektare lahan lainnya berada di kawasan seberang sungai yang turut merasakan dampak serupa.

Para petani khawatir kondisi tersebut akan semakin memburuk apabila tidak segera ditangani, terlebih saat kebutuhan air untuk tanaman sedang berada pada fase penting.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, petani meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata.

Mereka mendesak dilakukan normalisasi sungai secara menyeluruh dari wilayah hulu hingga hilir agar aliran air kembali lancar. Selain itu, petani juga meminta pembangunan kembali pintu air yang rusak serta pengangkatan besi penyangga kabel yang dinilai menghambat arus sungai.

Menurut warga, ketiga langkah tersebut menjadi solusi utama untuk mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber pengairan bagi lahan pertanian di kawasan tersebut.

Menanggapi keluhan para petani, Pemerintah Desa Tanjung Baru menyatakan siap membuka ruang komunikasi dan musyawarah dengan seluruh pihak yang berkepentingan.

Kepala Desa Tanjung Baru, Dudu Sumbali, berharap persoalan ini dapat diselesaikan melalui solusi yang menguntungkan semua pihak. Menurutnya, wilayah hulu perlu terbebas dari ancaman banjir, sementara petani di wilayah hilir juga harus mendapatkan hak atas pasokan air yang memadai untuk mengairi sawah mereka.

Karena itu, pemerintah desa mendorong adanya koordinasi lintas wilayah dan instansi terkait agar persoalan yang sudah berlangsung cukup lama tersebut dapat segera menemukan jalan keluar.

Warga bersama aparatur desa kini meminta Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Bekasi untuk segera turun ke lapangan dan melihat langsung kondisi sungai yang dikeluhkan masyarakat.

Mereka berharap pemerintah daerah tidak menunda penanganan karena sektor pertanian menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat setempat. Jika normalisasi sungai tidak segera dilakukan, ancaman gagal panen dikhawatirkan semakin besar dan berpotensi merugikan ratusan petani di wilayah Kedungwaringin dan sekitarnya. (Wnd)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.