KARAWANG, alexanews.id – Teater Merah Putih (Merput) SMAN 3 Karawang mulai menyiapkan arah baru dalam proses berkesenian. Di bawah kepengurusan baru yang dipimpin Wizwi Kirana Dewi, organisasi seni tersebut tidak hanya akan fokus pada pementasan teater, tetapi juga mulai mengembangkan pembelajaran di bidang sinema dan konten digital.

Konsep tersebut menjadi salah satu gagasan yang didorong oleh Pelatih Teater Merah Putih, Panji Mayza Perdana, S.Pd., sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan zaman dan kebiasaan generasi muda yang akrab dengan media sosial.

Menurut Panji, media digital saat ini dapat menjadi ruang belajar sekaligus sarana berkarya bagi anggota teater. Karena itu, ia ingin Teater Merah Putih mampu memanfaatkan berbagai platform digital secara kreatif dan produktif.

“Saya ingin Teater Merput bisa memanfaatkan media digital dengan baik dan menarik. Media sosial sekarang ibarat wajah dari sebuah komunitas. Dari sana orang bisa melihat siapa kita, apa yang kita kerjakan, dan karya seperti apa yang kita hasilkan,” ujar Panji.

Ia menjelaskan, anggota Merput ke depan tidak hanya didorong untuk berkembang sebagai aktor yang tampil di atas panggung, tetapi juga memahami berbagai proses kreatif di balik layar.

Mulai dari menulis naskah, menyusun konsep cerita, menyutradarai, mengambil gambar, hingga mengedit video menjadi bagian dari keterampilan yang ingin diperkenalkan kepada para anggota.

“Saya mendorong anak-anak tidak hanya kreatif sebagai aktor di panggung, tetapi juga kreatif sebagai sineas. Tak masalah kalau kameranya hanya menggunakan gadget. Kita manfaatkan apa yang ada. Yang penting bagaimana ide dan ceritanya bisa dikemas dengan menarik,” katanya.

Panji menilai dunia seni saat ini memiliki ruang yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya. Jika dahulu fokus utama teater berada pada pementasan, kini karya seni juga dapat hadir melalui berbagai platform digital yang menjangkau lebih banyak audiens.

Selama 12 tahun menjadi pelatih Teater Merah Putih, Panji mengaku melihat setiap anggota memiliki minat dan kemampuan yang berbeda-beda. Karena itu, ia ingin organisasi tersebut menjadi tempat yang memberi ruang bagi seluruh anggota untuk menemukan potensi terbaik mereka.

“Tidak semua anak harus menjadi aktor. Ada yang ternyata punya kemampuan menulis, menyutradarai, mengurus produksi, tata artistik, musik, dokumentasi atau justru lebih tertarik berada di belakang kamera. Selama proses belajar, mereka akan menemukan sendiri apa yang menjadi passion-nya,” ujarnya.

Atas dasar itu, Panji berharap media sosial Teater Merah Putih tidak hanya digunakan sebagai sarana dokumentasi kegiatan organisasi, tetapi juga menjadi wadah bagi anggota untuk menampilkan hasil karya mereka.

Menurutnya, berbagai platform seperti Instagram, TikTok, hingga YouTube dapat menjadi ruang kreatif yang mampu menghubungkan karya anggota dengan masyarakat luas.

“Instagram Merput ke depan saya ingin menjadi ruang berkarya. Anak-anak bisa membuat konten yang menarik, edukatif dan tetap punya identitas Merput. Jadi apa yang mereka pelajari tidak berhenti di panggung, tetapi bisa mereka bawa ke ruang digital,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Teater Merah Putih yang baru, Wizwi Kirana Dewi, menyambut positif gagasan tersebut. Ia menilai konsep yang memadukan seni teater dengan dunia digital sangat relevan dengan karakter generasi saat ini.

Menurut Wizwi, anggota organisasi tidak hanya memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan akting, tetapi juga dapat mengeksplorasi berbagai bidang kreatif lainnya yang mendukung proses produksi sebuah karya.

“Kami ingin Merput tidak hanya dikenal dari pementasan, tetapi juga dari karya-karya yang hadir di media sosial. Teman-teman juga bisa mencoba banyak hal, tidak hanya akting, tetapi menulis, membuat konsep, mengambil gambar sampai editing,” kata Wizwi.

Ia menambahkan, kepengurusan baru akan berupaya membuka lebih banyak ruang eksplorasi bagi seluruh anggota agar dapat menemukan bidang yang sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.

“Yang pasti kami ingin berkarya bersama. Tidak harus selalu dengan alat yang lengkap. Selama ada ide dan kemauan untuk belajar, kami bisa memanfaatkan apa yang ada,” ujarnya.

Melalui konsep baru tersebut, Teater Merah Putih berharap dapat tetap mempertahankan tradisi berkesenian yang selama ini menjadi identitas organisasi, sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi konten di kalangan generasi muda.

Dengan menggabungkan teater, sinema, dan media digital, Merput ingin menjadi ruang belajar yang lebih luas, tidak hanya bagi calon aktor, tetapi juga bagi para kreator muda yang ingin mengembangkan kemampuan di balik layar. (Lalan)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.