KARAWANG, alexanews.id – Suasana di lingkungan Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang mendadak menjadi sorotan pada Rabu, 8 April 2026. Sejumlah poster bernada protes dan kekecewaan mahasiswa terlihat tersebar di berbagai titik strategis kampus, mulai dari gerbang utama hingga area aktivitas mahasiswa.

Poster-poster tersebut menjadi bentuk ekspresi keresahan mahasiswa terhadap kebijakan dan sikap pihak kampus yang dinilai tidak berpihak. Aksi ini diduga merupakan buntut dari dugaan intimidasi terhadap aktivitas ilmiah yang hendak dilaksanakan oleh mahasiswa di lingkungan kampus.

Berdasarkan pantauan di lapangan, isi poster memuat kritik tajam serta tuntutan terhadap transparansi dan kebebasan akademik. Tulisan-tulisan tersebut menggambarkan kekecewaan mendalam mahasiswa terhadap pihak yayasan maupun rektorat.

Sejumlah mahasiswa menyebut, aksi pemasangan poster ini bukan sekadar spontanitas, melainkan bentuk akumulasi kekecewaan yang sudah lama dirasakan. Terlebih, dugaan intimidasi yang mencuat belakangan ini menjadi pemicu utama meluasnya gerakan protes.

Dalam keterangan yang beredar, disebutkan adanya dugaan tindakan intimidatif yang dilakukan oleh oknum pimpinan kampus terhadap salah satu koordinator aksi mahasiswa. Bentuk intimidasi tersebut disebut berupa gebrakan meja, ancaman pemukulan, hingga ancaman pelaporan ke pihak kepolisian.

Beberapa nama yang disebut dalam isu ini antara lain Ketua Yayasan dr Yanti Tayo, Ketua LHKK dr Yuniar Rahmatiar, serta perwakilan bidang kemahasiswaan Asep Darojatul. Dugaan keterlibatan mereka dalam tindakan intimidasi tersebut menjadi sorotan mahasiswa.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada klarifikasi resmi dari pihak kampus terkait tudingan yang beredar di kalangan mahasiswa tersebut.

Gerakan protes ini kemudian meluas dan mendapat dukungan dari berbagai elemen mahasiswa di UBP Karawang. Tidak hanya organisasi mahasiswa (Ormawa), tetapi juga mahasiswa umum yang merasa memiliki keresahan serupa terhadap kebijakan kampus.

Mahasiswa menilai, perlakuan yang mereka terima tidak mencerminkan nilai-nilai akademik yang seharusnya dijunjung tinggi di lingkungan perguruan tinggi. Mereka menuntut adanya ruang kebebasan berekspresi dan berpendapat tanpa adanya tekanan atau intimidasi.

Salah satu mahasiswa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kondisi ini telah memicu solidaritas di kalangan mahasiswa.

“Ini bukan hanya soal satu orang, tapi sudah menyangkut hak seluruh mahasiswa. Kami ingin kampus kembali pada nilai akademik yang sehat,” ujarnya.

Lebih lanjut, mahasiswa tersebut menyebut bahwa gerakan ini akan berlanjut dalam bentuk aksi yang lebih besar. Mereka berencana menggelar aksi terbuka dengan tajuk “Reformasi UBP” sebagai bentuk tuntutan perubahan di internal kampus.

Aksi tersebut dikabarkan akan melibatkan lebih banyak mahasiswa dan menjadi momentum untuk menyuarakan berbagai tuntutan, mulai dari transparansi kebijakan hingga perlindungan terhadap aktivitas akademik mahasiswa.

Situasi ini pun menjadi perhatian publik, khususnya di Karawang, mengingat UBP merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup dikenal di wilayah tersebut.

Pengamat pendidikan menilai bahwa konflik antara mahasiswa dan pihak kampus harus diselesaikan melalui dialog terbuka. Pendekatan represif justru dinilai berpotensi memperkeruh suasana dan merusak iklim akademik.

Selain itu, penting bagi pihak kampus untuk memberikan klarifikasi secara terbuka guna menghindari kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat. Transparansi dinilai menjadi kunci utama dalam meredam ketegangan.

Di sisi lain, mahasiswa juga diharapkan tetap menyampaikan aspirasi secara konstruktif dan menjaga kondusivitas lingkungan kampus.

Hingga berita ini diturunkan, suasana di kampus UBP Karawang masih terpantau kondusif meski poster-poster protes masih terlihat terpasang di sejumlah titik. Belum ada tindakan penertiban maupun pernyataan resmi dari pihak kampus terkait aksi tersebut.

Publik kini menantikan langkah lanjutan dari kedua belah pihak, baik mahasiswa maupun pihak kampus, dalam menyikapi polemik yang tengah terjadi. Apakah akan berujung pada dialog terbuka atau justru eskalasi aksi yang lebih besar.

Yang jelas, peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa ruang akademik seharusnya menjadi tempat yang aman bagi kebebasan berpikir, berdiskusi, dan berekspresi tanpa tekanan. (Yaris)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.