PURWAKARTA, alexanews.id – Viral di media sosial, seorang guru SMAN 1 Purwakarta, yang dikenal sebagai Bu Atun, menjadi sorotan publik setelah diduga diolok-olok oleh siswanya sendiri. Video kejadian tersebut memicu beragam reaksi dari warganet, sekaligus membuka diskusi tentang etika siswa terhadap guru di lingkungan sekolah.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Bu Atun mengaku merasakan kesedihan sebagai manusia biasa. Namun, ia menegaskan bahwa perasaan tersebut tidak sampai menggoyahkan keimanan yang menjadi pegangan hidupnya. Baginya, nilai spiritual justru menjadi kekuatan untuk mengobati luka batin yang dirasakan.
Ia menuturkan bahwa fokus utamanya bukan pada rasa sakit hati, melainkan pada keselamatan generasi muda. Menurutnya, pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan karakter agar siswa dapat menjalani kehidupan dengan baik, baik di dunia maupun di akhirat.
Bu Atun juga menegaskan bahwa dirinya tetap memiliki rasa kasih sayang yang besar terhadap siswa. Bahkan, ketika siswa melakukan kesalahan, ia justru merasa perlu memberikan perhatian lebih. Ia menilai bahwa kesalahan yang dilakukan siswa merupakan tanda bahwa mereka membutuhkan bimbingan.
Dalam proses mengajar, Bu Atun mengaku selalu menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter, termasuk konsep Pancawaluya yang menjadi bagian dari pembentukan moral siswa. Meski demikian, ia menyadari bahwa tidak semua pesan dapat langsung diterima dengan baik oleh seluruh siswa.
Menurutnya, menjadi seorang guru membutuhkan kesabaran yang konsisten. Proses pendidikan, kata dia, tidak bisa instan. Dibutuhkan waktu panjang agar siswa benar-benar memahami kesalahan dan mampu memperbaiki diri.
Terkait video yang viral, Bu Atun mengaku tidak mengetahui dirinya sedang direkam. Ia baru menyadari setelah kejadian tersebut menyebar luas. Padahal, saat itu ia merasa interaksi dengan siswa berjalan baik dan penuh kesopanan.
Ia menjelaskan bahwa awalnya siswa menunjukkan sikap santun, seperti berjabat tangan dan meminta foto bersama. Karena merasa menghargai siswa, ia meluangkan waktu meski memiliki kewajiban mengajar di kelas lain.
Namun dalam prosesnya, terjadi tindakan yang tidak sesuai dengan aturan yang telah disampaikan sebelumnya. Bu Atun kemudian memberikan penjelasan kepada siswa mengenai pentingnya menghargai hak orang lain, terutama dalam situasi belajar yang melibatkan banyak pihak.
Ia juga menekankan bahwa dalam satu kelompok seharusnya ada siswa yang saling mengingatkan jika terjadi kesalahan. Hal ini penting agar proses pembelajaran tetap berjalan sesuai waktu yang telah ditentukan.
Bu Atun mengungkapkan bahwa sebagai guru, ia harus mampu mengatur waktu dengan baik agar semua siswa mendapatkan kesempatan yang adil, termasuk saat presentasi di kelas. Oleh karena itu, ia memilih untuk menyelesaikan masalah di waktu yang tepat agar tidak mengganggu kegiatan belajar lainnya.
Menariknya, setelah kegiatan berlangsung, Bu Atun tetap memberikan apresiasi kepada siswa. Ia mengaku selalu berusaha menghargai hasil kerja siswa, sekaligus memberikan masukan jika ada kekurangan.
Menurutnya, sikap tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab seorang guru. Memberikan pujian dan kritik secara seimbang dinilai penting untuk mendorong perkembangan siswa secara positif.
Hal ini diungkapkan Atun saat adanya kunjungan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, bersama Wakil Bupati Purwakarta, Ijo Hapidin. (Ega Nugraha)










