CIREBON, alexanews.id – Pemandangan memprihatinkan terlihat di sepanjang bantaran Sungai Bondet, Kabupaten Cirebon. Ribuan ton limbah kulit kerang hijau tampak menumpuk hingga membentuk gunungan besar di area yang diketahui merupakan tanah negara.

Kondisi ini tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga memunculkan persoalan lingkungan yang semakin serius. Limbah tersebut terlihat dibiarkan tanpa penanganan yang jelas, meskipun volumenya terus bertambah setiap hari.

Berdasarkan pantauan di lokasi, tumpukan kulit kerang hijau membentang hingga puluhan meter di sisi jalan dan sepanjang aliran sungai. Sebagian limbah tampak dimasukkan ke dalam karung plastik berwarna hijau dan putih, namun tidak sedikit yang tercecer hingga meluber ke jalan setapak yang biasa dilalui warga.

Kawasan bantaran sungai pun tampak kumuh dan tidak terawat. Padahal, wilayah pesisir Bondet dikenal memiliki potensi ekonomi cukup besar dari hasil laut, khususnya budidaya kerang hijau yang menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat.

Keberadaan limbah tersebut memicu keluhan dari warga dan pengguna jalan. Sisa daging kerang yang masih menempel pada cangkang menimbulkan bau busuk yang sangat menyengat, terutama saat cuaca panas di siang hari atau setelah hujan mengguyur area tersebut.

“Baunya luar biasa mengganggu, apalagi kalau lewat siang hari. Ini sudah lama dibiarkan menggunung, seperti dianggap hal biasa, padahal jelas tidak sehat,” ujar Panji, salah satu warga yang melintas di lokasi.

Selain mengganggu kenyamanan, kondisi ini juga dikhawatirkan berdampak buruk bagi kesehatan. Limbah organik yang menumpuk berpotensi menjadi sarang bakteri serta sumber penyakit bagi warga sekitar.

Di sisi lain, limbah kulit kerang yang tidak dikelola dengan baik juga berpotensi mencemari lingkungan. Saat hujan turun, limbah tersebut bisa terbawa arus air dan masuk ke aliran Sungai Bondet, yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas air serta merusak ekosistem perairan.

Kondisi ini juga merusak estetika kawasan pesisir yang sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata. Namun, tumpukan limbah yang menggunung justru memberikan kesan kumuh dan tidak terkelola.

Meski persoalan ini sudah berlangsung cukup lama, hingga kini belum terlihat adanya langkah konkret dari instansi terkait. Warga pun menyoroti kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan pemerintah daerah yang dinilai belum serius menangani masalah tersebut.

Volume limbah yang terus meningkat setiap hari menunjukkan belum adanya sistem pengelolaan yang efektif, baik dari sisi pengangkutan maupun pengolahan. Padahal, jika dikelola dengan baik, limbah kerang hijau berpotensi diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan dan menghadirkan solusi nyata serta berkelanjutan. Jika tidak segera ditangani, limbah yang terus menumpuk ini dikhawatirkan akan menjadi persoalan lingkungan yang semakin besar dan berdampak luas bagi masyarakat sekitar. (Kirno)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.