KARAWANG, alexanews.id – Harapan Slamet Heryana untuk memiliki rumah layak huni masih menggantung. Sudah setahun rumahnya disurvei untuk program Rumah Layak Huni (Rulahu), namun bantuan yang dinanti tak kunjung datang. Kini, rumah warga Dusun Sungai Manuk RT 003/RW 007, Desa Sungai Buntu, Kecamatan Pedes, Karawang itu justru roboh sebelum sempat diperbaiki.

Bagian depan rumah milik Slamet ambruk total. Dinding dan atap tak lagi mampu bertahan. Rumah yang semestinya menjadi tempat berlindung kini berubah menjadi bangunan rapuh yang membahayakan penghuninya.

Kondisi memprihatinkan itu membuat Muspika Kecamatan Pedes bersama Pemerintah Desa Sungai Buntu turun langsung meninjau lokasi rumah Slamet. Dari hasil pengecekan, bangunan tersebut memang sudah tak layak dihuni dan membutuhkan penanganan segera.

Ironisnya, rumah itu bukan belum pernah diajukan bantuan. Slamet mengaku rumahnya sudah masuk pendataan dan bahkan telah disurvei untuk Program Rumah Layak Huni dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Karawang sejak sekitar setahun lalu. Namun sampai hari ini, belum ada realisasi pembangunan.

“Kurang lebih setahun, Pak. Sudah disurvei tapi sampai saat ini belum ada perbaikan. Sekarang bagian depannya sudah roboh. Untuk dapur masih bisa ditempati. Saya tidur di dapur. Kalau anak sama istri tidur di rumah saudara,” ujar Slamet, Senin 4 Mei 2026.

Kini, Slamet hanya bisa bertahan di bagian dapur yang masih berdiri. Ruang sempit itu menjadi satu-satunya tempat yang masih bisa dipakai untuk beristirahat. Sementara istri dan anak-anaknya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat demi keselamatan.

Total ada enam jiwa dalam keluarga Slamet yang kini kehilangan tempat tinggal layak. Mereka harus berpencar dan menumpang di rumah saudara sambil menunggu kepastian bantuan yang tak kunjung tiba.

Situasi ini menjadi potret nyata bagaimana lambannya realisasi bantuan dapat berdampak langsung pada keselamatan warga. Ketika proses administratif berjalan terlalu lama, warga kecil justru harus menanggung risiko paling besar.

Slamet mengaku hanya berharap pemerintah segera turun tangan. Ia tak meminta lebih, hanya ingin keluarganya kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak.

“Saya berharap kepada Bupati Karawang dan dinas terkait, rumah saya bisa mendapatkan program rumah layak huni agar rumah saya kembali aman untuk ditempati,” tuturnya.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Rumah yang ia tempati selama ini memang sudah lama dalam kondisi memprihatinkan. Material bangunan lapuk, atap rapuh, dan struktur depan rumah tak lagi kokoh. Kondisi itu semakin memburuk seiring waktu hingga akhirnya ambruk.

Sementara itu, Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Pedes, Didin, membenarkan bahwa kondisi rumah Slamet memang rusak berat dan sudah tak layak huni.

“Alhamdulillah kami sudah survei ke rumah Bapak Slamet. Betul adanya, keadaan rumah tersebut dalam kondisi rusak parah dan tidak layak huni. Untuk sementara enam anggota keluarganya mengungsi di rumah orang tuanya,” kata Didin.

Menurut Didin, pengajuan bantuan sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Rumah Slamet disebut telah masuk usulan perbaikan melalui jalur aspirasi dewan dan juga sudah melalui proses survei sekitar setahun lalu. Namun hingga kini, bantuan yang dijanjikan belum juga terealisasi.

“Dari pihak Pemdes sementara masih menunggu kepastian dari pihak aspirasi. Demikian laporan kami hasil survei ke rumah Bapak Slamet di Desa Sungai Buntu,” ujar Didin.

Kondisi yang dialami Slamet menjadi ironi di tengah program bantuan rumah tidak layak huni yang seharusnya hadir untuk menjawab kebutuhan warga miskin. Saat proses berjalan lambat, rumah yang rusak tak bisa menunggu. Bangunan terus lapuk, dan ancaman roboh bisa datang kapan saja.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa program bantuan sosial tidak cukup berhenti di tahap pendataan dan survei. Warga membutuhkan realisasi cepat, terutama ketika kondisi rumah sudah berada di ambang ambruk.

Bagi keluarga Slamet, bantuan itu bukan sekadar program pembangunan. Bantuan itu adalah harapan untuk hidup lebih aman, lebih manusiawi, dan lebih tenang.

Kini, di tengah puing rumah yang roboh, Slamet hanya bisa menunggu. Menunggu janji yang sempat datang lewat survei, namun belum juga berubah menjadi atap yang bisa melindungi keluarganya. (Ahmad Saleh)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.