BEKASI, alexanews.id – Upaya menjaga kelancaran irigasi pertanian terus diperkuat di Desa Karangsari, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Kepala Desa Karangsari, Bao Umbara, turun langsung memimpin aksi gotong royong membersihkan saluran SS Kalenderwak bersama warga, petani, dan petugas PJT II Lemah Abang, Senin (4/5/2026).
Kegiatan kerja bakti ini dipusatkan di sepanjang aliran saluran SS Kalenderwak, mulai dari BKW 3 hingga BKW 5. Fokus utama pembersihan adalah mengangkat tumpukan sampah yang selama ini menghambat aliran air menuju area persawahan warga.
Aksi gotong royong tersebut melibatkan puluhan masyarakat petani dari sejumlah wilayah, di antaranya Kampung Tengah, Citarik Menye, hingga Kalenderwak Lontong. Mereka bahu-membahu membersihkan saluran air yang menjadi salah satu jalur penting pasokan irigasi pertanian di wilayah tersebut.
Kepala Desa Karangsari, Bao Umbara, mengatakan pembersihan saluran SS Kalenderwak menjadi langkah penting demi memastikan distribusi air ke lahan pertanian tetap lancar, khususnya menjelang musim tanam.
“ Kami bersama puluhan masyarakat petani dari Kampung Tengah, Citarik Menye, Kalenderwak Lontong, serta petugas PJT II Lemah Abang turun langsung membersihkan sampah di aliran sungai. Hal ini sangat krusial karena aliran ini nantinya akan mengairi sawah seluas seratus hektar,” ujar Bao Umbara di sela kegiatan.
Menurutnya, saluran irigasi yang bersih menjadi faktor penting dalam mendukung produktivitas pertanian masyarakat. Jika aliran air tersumbat, maka dampaknya bisa langsung dirasakan petani karena pasokan air ke sawah terganggu.
Karena itu, Bao Umbara menegaskan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama di sekitar saluran air. Ia mengimbau masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan ke sungai maupun saluran irigasi.
“Saluran air ini adalah urat nadi pertanian warga. Kalau tersumbat sampah, sawah bisa kekurangan air. Karena itu, kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan harus terus ditingkatkan,” tegasnya.
Sementara itu, petugas TPOP PSDA PJT II Lemah Abang, Nursan, membenarkan bahwa kondisi saluran SS Kalenderwak sebelumnya cukup memprihatinkan. Banyaknya sampah rumah tangga yang menumpuk membuat aliran air tidak berjalan optimal menuju area persawahan.
“Melihat kondisi saluran tersebut, banyak sampah menumpuk yang mengganggu jalannya air menuju pesawahan. Sekitar 60 sampai 70 persen adalah sampah rumah tangga,” ungkap Nursan.
Ia menjelaskan, sampah yang menumpuk di aliran sungai bukan hanya memperlambat arus air, tetapi juga berpotensi menimbulkan sedimentasi dan penyumbatan yang lebih parah jika tidak segera ditangani.
Karena itu, pihak PJT II Lemah Abang turun langsung mendukung kegiatan kerja bakti bersama pemerintah desa dan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, PJT II menurunkan empat personel untuk membantu proses pembersihan di lapangan.
Nursan juga mengapresiasi keterlibatan aktif Kepala Desa Karangsari yang dinilai memberi contoh langsung kepada masyarakat dengan turun ke lokasi dan ikut membersihkan saluran.
“Gotong royong ini luar biasa karena Bapak Lurah Bao Umbara langsung turun ke lokasi. Hasilnya sudah terlihat, air sekarang sudah lancar mengalir ke arah sawah tujuan,” katanya.
Saluran SS Kalenderwak sendiri memiliki lebar sekitar dua meter dengan panjang mencapai tiga kilometer dari Kantor Bendung Lemah Abang. Jalur ini menjadi salah satu titik vital pengairan bagi lahan pertanian warga di Desa Karangsari dan sekitarnya.
Dengan panjang saluran yang cukup signifikan, keberadaan sampah di aliran air menjadi persoalan serius yang harus ditangani secara berkala. Jika dibiarkan, bukan hanya mengganggu pengairan, tetapi juga berpotensi memicu genangan dan kerusakan ekosistem saluran.
Melalui kerja sama antara pemerintah desa, petugas PJT II, petani, dan masyarakat, persoalan sumbatan air di SS Kalenderwak akhirnya bisa diatasi. Aliran air yang semula tersendat kini kembali lancar dan siap mengairi sekitar 100 hektar area persawahan.
“Alhamdulillah, berkat kerja sama yang baik antara kami dari TPOP, PSDA PJT II, bersama masyarakat, petani, dan Bapak Kades, kendala sumbatan air ini bisa teratasi,” pungkas Nursan.
Kegiatan gotong royong ini menjadi bukti bahwa sinergi antara pemerintah desa, petugas teknis, dan masyarakat masih menjadi kekuatan utama dalam menjaga infrastruktur pertanian tetap berfungsi optimal.
Selain menyelesaikan persoalan teknis pengairan, kerja bakti tersebut juga menjadi pengingat penting bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tugas bersama demi keberlangsungan pertanian dan kesejahteraan warga. (Wnd)










