KARAWANG — Puluhan petani dari Desa Tambaksumur, Desa Sumurlaban, dan sejumlah desa lainnya di Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, mendatangi kawasan Pintu Air Pisang Sambo, Sabtu (29/8/2026).
Kedatangan para petani tersebut untuk menyampaikan keluhan terkait minimnya pasokan air yang mengalir ke areal persawahan mereka.
Kondisi itu dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan tanaman padi yang tengah membutuhkan pasokan air.
Bagi para petani, persoalan air bukan sekadar masalah teknis irigasi. Ketersediaan air berkaitan langsung dengan keberlangsungan tanaman, hasil panen, hingga penghasilan keluarga petani.
Tokoh masyarakat Kecamatan Tirtajaya, H. Timan, membenarkan adanya keluhan dari para petani terkait minimnya pasokan air.
“Memang benar, para petani di Desa Tambaksumur dan para petani dari desa lainnya sangat kekurangan air,” ungkap H. Timan.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu segera mendapat perhatian serius dari pihak terkait, khususnya PJT II. Sebab, kebutuhan air tersebut menyangkut ratusan hektare lahan pertanian di wilayah Utara Karawang.
Ia meminta distribusi air dilakukan secara lebih terukur dan merata agar tidak terjadi ketimpangan pasokan antarwilayah.
“Kami mohon kepada PJT II harus konsen terhadap kebutuhan air untuk ratusan hektare sawah dan para petani di Utara Karawang,” tegasnya.
Puluhan petani yang datang ke Pintu Air Pisang Sambo berharap keluhan mereka tidak berhenti sebatas laporan.
Mereka meminta aliran air menuju saluran irigasi yang mengairi persawahan segera diperhatikan dan dicarikan solusi. Apalagi jika kondisi tersebut terus berlangsung, tanaman padi dikhawatirkan mengalami gangguan pertumbuhan.
Para petani juga berharap adanya komunikasi dan koordinasi antara pemerintah desa, pemerintah kecamatan, instansi terkait, serta PJT II untuk mencari solusi terbaik.
Wilayah Tirtajaya dan sejumlah kawasan di Utara Karawang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan areal pertanian yang luas.
Karena itu, ketersediaan air irigasi menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
H. Timan juga berharap pihak PJT II tidak hanya menerima laporan dari masyarakat, tetapi turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi saluran irigasi dan persawahan yang mengalami kekurangan air.
Menurutnya, pengecekan langsung penting dilakukan agar persoalan dapat diketahui secara objektif dan penanganannya tidak terlambat.
“Harapan kami tentunya ada perhatian dari pihak terkait. Petani membutuhkan air untuk sawah mereka. Jangan sampai persoalan ini berlarut-larut karena yang menjadi korban adalah para petani,” pungkasnya.
Para petani pun berharap persoalan distribusi air segera mendapat jalan keluar, sehingga ratusan hektare sawah di wilayah Utara Karawang tetap dapat teraliri dan musim tanam tidak terganggu. (Asbel)










