KAJIAN HISTORIS
Sejarah merupakan perjalanan panjang peradaban manusia yang terbentuk melalui berbagai peristiwa politik, peperangan, hubungan antarkerajaan, serta dinamika sosial dan budaya. Setiap peristiwa penting tidak hanya meninggalkan jejak pada zamannya, tetapi juga memberikan pelajaran bagi generasi berikutnya.
Salah satu peristiwa besar dalam sejarah dunia adalah ekspansi Kekaisaran Mongol yang pada abad ke-13 berhasil menaklukkan berbagai wilayah di Asia dan Eropa. Namun, keberhasilan Mongol dalam memperluas wilayah kekuasaannya tidak selalu berujung pada penaklukan permanen. Di Nusantara, ekspedisi militer Mongol ke Jawa pada 1293 Masehi justru berakhir dengan kegagalan mempertahankan kedudukannya.
Peristiwa tersebut berkaitan erat dengan kecerdikan politik Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, yang mampu memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menghadapi lawan politiknya, Jayakatwang, sebelum akhirnya mengusir pasukan asing tersebut dari tanah Jawa.
1. Kejatuhan Baghdad dan Kemunduran Kekhalifahan Abbasiyah
Pada 1258 Masehi, pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad, pusat pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah. Penaklukan tersebut menjadi salah satu tragedi besar dalam sejarah dunia Islam karena menyebabkan kehancuran berat di Baghdad dan berakhirnya kekuasaan khalifah Abbasiyah di kota tersebut.
Runtuhnya Baghdad tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Persoalan politik, melemahnya kemampuan pertahanan, konflik kekuasaan, serta tekanan militer Mongol turut menentukan jalannya peristiwa tersebut.
Meski demikian, penting dicatat bahwa kejatuhan Baghdad pada 1258 tidak berarti seluruh tradisi kekhalifahan Abbasiyah langsung berakhir di semua tempat. Garis keturunan Abbasiyah masih berlanjut dalam bentuk lain setelah peristiwa tersebut.
Dalam konteks sejarah Mongol, keberhasilan Hulagu Khan menaklukkan Baghdad menunjukkan besarnya kekuatan militer Mongol pada abad ke-13. Akan tetapi, ekspansi tersebut tidak menjadikan seluruh wilayah Asia otomatis berada di bawah kekuasaan mereka.
2. Ekspedisi Mongol ke Jawa pada 1293 Masehi
Pada masa pemerintahan Kubilai Khan dari Dinasti Yuan, Kekaisaran Mongol memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah Asia. Salah satu upaya tersebut adalah pengiriman ekspedisi militer ke Jawa pada 1293 Masehi.
Ekspedisi itu berkaitan dengan perselisihan antara Kubilai Khan dan Kertanegara, Raja Singhasari. Sebelumnya, utusan Mongol bernama Meng-qi atau Meng Qi dikirim ke Jawa untuk meminta pengakuan terhadap kekuasaan Kubilai Khan. Kertanegara menolak tuntutan tersebut dan, menurut catatan sejarah, mempermalukan utusan itu dengan tindakan fisik.
Sikap Kertanegara kemudian menjadi salah satu alasan bagi Kubilai Khan untuk mengirimkan pasukan ke Jawa. Namun, ketika ekspedisi tersebut tiba, situasi politik di Jawa telah berubah. Kertanegara sudah tidak berkuasa karena Singhasari diserang oleh Jayakatwang, penguasa Kadiri.
Perubahan keadaan ini membuat pasukan Mongol memasuki arena konflik politik yang berbeda dari rencana awal mereka. Alih-alih menghadapi Kertanegara, mereka berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang terlibat dalam perebutan kekuasaan di Jawa.
3. Strategi Raden Wijaya Menghadapi Jayakatwang dan Pasukan Mongol
Raden Wijaya merupakan tokoh sentral dalam peristiwa yang mengantarkan lahirnya Kerajaan Majapahit. Setelah keruntuhan Singhasari, ia berupaya membangun kembali kekuatannya dan mencari peluang untuk merebut kekuasaan.
Kedatangan pasukan Mongol dimanfaatkan Raden Wijaya sebagai kesempatan politik dan militer. Ia menjalin kerja sama dengan pasukan Mongol untuk menghadapi Jayakatwang, penguasa Kadiri yang sebelumnya berhasil menumbangkan Singhasari.
Setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya berbalik menghadapi pasukan Mongol. Melalui serangan dan manuver politik, ia berhasil memaksa pasukan tersebut meninggalkan Jawa.
Peristiwa itu menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Nusantara. Pasukan Mongol yang datang dengan tujuan menghukum penguasa Jawa akhirnya tidak berhasil membangun kekuasaan permanen di wilayah tersebut.
Pada 1293 Masehi, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit. Keberhasilannya menunjukkan bahwa kekuatan militer asing yang besar sekalipun dapat menghadapi hambatan ketika berhadapan dengan kondisi politik lokal, strategi perang, serta kemampuan pemimpin setempat dalam membaca situasi.
Dengan demikian, kegagalan ekspedisi Mongol ke Jawa bukan semata-mata persoalan kekuatan senjata, melainkan juga hasil dari perhitungan politik dan strategi Raden Wijaya dalam memanfaatkan keadaan.
4. Asal-Usul Raden Wijaya dan Hubungannya dengan Kerajaan Sunda-Galuh
Selain dikenal sebagai pendiri Majapahit, Raden Wijaya juga menjadi tokoh yang dibicarakan dalam sejumlah kajian mengenai hubungan genealogis antarkerajaan di Jawa dan Sunda.
Dalam kajian yang dikemukakan oleh penyusun, Raden Wijaya dihubungkan dengan Prabu Guru Darmasiksa, seorang raja yang dikaitkan dengan tradisi sejarah Sunda-Galuh. Prabu Guru Darmasiksa disebut memiliki kedudukan penting dalam perjalanan politik dan kebudayaan Sunda pada abad ke-12 hingga ke-13.
Menurut silsilah yang disampaikan dalam kajian ini, Raden Wijaya merupakan cucu Prabu Guru Darmasiksa melalui Rakeyan Jayadarma. Rakeyan Jayadarma disebut sebagai putra Prabu Guru Darmasiksa dan ayah Raden Wijaya.
Sementara itu, ibu Raden Wijaya disebut dengan nama Dyah Lembu Tal atau Dyah Singamurti, yang dalam silsilah tersebut dikaitkan dengan lingkungan bangsawan Singhasari.
Dikisahkan bahwa setelah Rakeyan Jayadarma wafat, Dyah Singamurti membawa Raden Wijaya yang masih kecil kembali ke tanah Jawa bagian timur, menuju lingkungan keluarganya. Perjalanan tersebut disebut mendapat pengawalan dari rombongan prajurit Kerajaan Sunda.
Kisah ini menggambarkan adanya hubungan kekerabatan dan interaksi politik antarkerajaan di wilayah Jawa dan Sunda. Namun, hubungan genealogis tersebut perlu dikaji secara kritis dengan membandingkan sumber prasasti, naskah kuno, babad, serta penelitian sejarah yang relevan. Dengan cara itu, dapat dibedakan antara informasi yang didukung bukti sezaman dan tradisi silsilah yang diwariskan kemudian.
5. Prabu Guru Darmasiksa dan Amanat Persaudaraan Antarkerajaan
Dalam tradisi silsilah yang disampaikan oleh penyusun, Prabu Guru Darmasiksa digambarkan sebagai sosok leluhur yang memiliki hubungan khusus dengan Raden Wijaya. Keberhasilan sang cucu dalam menghadapi Jayakatwang dan mengusir pasukan Mongol dari Jawa ditafsirkan sebagai kebanggaan bagi keluarga besar Sunda.
Dalam kisah tersebut, Raden Wijaya diceritakan mengunjungi kakeknya di lingkungan Kerajaan Sunda setelah berhasil mendirikan Majapahit. Ia datang untuk bersilaturahmi, menyampaikan penghormatan, dan memberikan hadiah kepada sang kakek.
Pertemuan tersebut digambarkan sebagai momen penuh kebahagiaan dan keharuan. Prabu Guru Darmasiksa dikisahkan memberikan nasihat kepada Raden Wijaya agar menjaga hubungan baik antara Kerajaan Sunda dan Majapahit.
Amanat yang dinisbatkan kepada Prabu Guru Darmasiksa dalam tradisi tersebut menekankan pentingnya kerja sama, saling menolong, dan menjaga persaudaraan antarkerajaan. Raden Wijaya beserta keturunannya juga disebut berpesan agar tidak menyerang atau menduduki tanah Sunda, karena takhta Kerajaan Sunda kelak akan diteruskan oleh garis keturunan yang berbeda, yang dalam silsilah tersebut dikaitkan dengan Citra Ganda atau Prabu Citra Ganda.
Kisah mengenai kunjungan Raden Wijaya dan amanat tersebut merupakan bagian penting dari perspektif genealogis yang ingin diangkat dalam tulisan ini. Meski demikian, untuk menyajikannya sebagai fakta sejarah yang terverifikasi, diperlukan penelusuran sumber primer atau naskah yang secara jelas memuat peristiwa, tokoh, dan petikan amanat tersebut.
Terlepas dari status historis setiap detail kisahnya, pesan moral yang terkandung di dalamnya tetap relevan untuk direnungkan, yakni bahwa hubungan kekerabatan dan kerja sama antarkelompok perlu dijaga agar tidak berubah menjadi pertentangan berkepanjangan.
6. Makna Historis Kegagalan Mongol Menguasai Jawa
Kegagalan ekspedisi Mongol pada 1293 Masehi memberikan gambaran bahwa sejarah tidak hanya ditentukan oleh besarnya wilayah, jumlah pasukan, atau keunggulan persenjataan. Keberhasilan juga dipengaruhi kemampuan membaca keadaan, membangun aliansi, memahami lingkungan politik setempat, dan mengambil keputusan pada saat yang tepat.
Raden Wijaya memperlihatkan kecakapan dalam memanfaatkan konflik antara kekuatan-kekuatan yang ada di Jawa. Ia menggunakan kehadiran pasukan Mongol untuk menghadapi Jayakatwang, kemudian mengubah strategi ketika kepentingannya tidak lagi sejalan dengan kepentingan pasukan asing tersebut.
Dari peristiwa ini, kita dapat memahami bahwa masyarakat dan kerajaan di Nusantara bukan sekadar pihak pasif yang menerima tekanan dari kekuatan luar. Mereka juga memiliki kemampuan diplomasi, strategi, dan kepemimpinan untuk mempertahankan kepentingannya.
Oleh karena itu, ekspedisi Mongol ke Jawa pada 1293 Masehi patut dipahami sebagai salah satu episode penting dalam sejarah politik Nusantara. Peristiwa tersebut memperlihatkan pertemuan antara ekspansi kekaisaran besar dan kecakapan politik penguasa lokal, yang kemudian menjadi bagian dari lahirnya salah satu kerajaan paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, yaitu Majapahit.
Kajian mengenai hubungan antara Mongol, Raden Wijaya, Majapahit, dan tradisi silsilah Sunda-Galuh membuka ruang untuk memahami sejarah Nusantara secara lebih luas. Sejarah bukan hanya catatan kemenangan dan kekalahan, tetapi juga rangkaian hubungan antarmanusia, antarkeluarga, dan antarkerajaan yang membentuk perjalanan peradaban.
Kegagalan pasukan Mongol menguasai Jawa pada 1293 Masehi menjadi pengingat bahwa kekuatan asing tidak selalu mampu mencapai tujuannya ketika berhadapan dengan kecerdikan politik dan strategi lokal.
Sementara itu, kisah hubungan genealogis Raden Wijaya dengan Prabu Guru Darmasiksa, berikut amanat persaudaraan antarkerajaan, merupakan bagian dari tradisi sejarah yang layak diteliti lebih lanjut. Penelusuran terhadap prasasti, naskah kuno, dan kajian akademis diperlukan agar warisan sejarah tersebut dapat dipahami secara tepat dan diwariskan kepada generasi mendatang dengan penuh tanggung jawab.***
Disusun oleh: Ki Acep Aan, S.Ag. – Keluarga Besar Rd. Ali Santana, Cisayong – Trah Rd. Singamanggala bin Dalem Sawidak Sukapura
Tutugan Galunggung, Tasikmalaya – Pemerhati Seni, Budaya, dan Sejarah Situs – Oktober 2026










